Selasa, 30 November 21

Anas Kembali Diusung PDI-P

Anas Kembali Diusung PDI-P
* Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (kanan) ketika menerima penghargaan sebagai 'Best Marketer Regent' dalam Malam Anugerah Obsession Awards 2015 yang diselenggarakan oleh Obsession Media Group (OMG) di Jakarta, Kamis (19/3/2015).(Foto: Sutanto/obsessionnews.com)

Surabaya, Obsessionnews – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas merupakan salah seorang kepala daerah petahana di Jawa Timur (Jatim) yang akan diusung kembali oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak Desember 2015 mendatang.

Sejak memimpin Banyuwangi tahun 2010, Anas membawa banyak kemajuan bagi daerah di ujung timur Jatim ini. (Baca: Anas Sukses Bawa Banyuwangi ke Tingkat Nasional)

Selain Anas, empat kepala daerah petahana lainnya yang bakal kembali diusung PDIP adalah Walikota Surabaya Tri Rismaharani, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, Bupati Kediri Haryanti Soetrisno, dan Walikota Blitar Samanhudi Anwar.

Anas dan keempat kepala daerah petahana tersebut mendapat perlakuan istimewa. Yakni, mereka diberi kesempatan tidak mengikuti tes uji kelayakan dan kepatutan bersama bakal calon kepala daerah lainnya di kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jatim, melainkan langsung di hadapan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri di Jakarta.

“Saya diberi tugas oleh ketua umum menghubungi Bu Risma dan Pak Anas untuk tidak perlu datang ke DPD PDIP sekarang, karena nanti langsung ke kantor DPP PDIP di Jakarta. Waktu pelaksanaannya belum dipastikan, tapi yang jelas sesegera mungkin,” kata Hasto kepada pers di sela-sela tes uji kelayakan calon kepala daerah di kantor DPD PDIP Jatim di Surabaya, Sabtu (9/5/2015).

Pada pilkada 2010 Anas yang berpasangan dengan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Banyuwangi Yusuf Widyatmoko diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan PDIP. Duet Anas-Yusuf berhasil menyingkirkan pasangan Djalaludin-Yusuf Nuris dan Emilia Contessa-Zaenuri.

Setelah resmi dilantik sebagai bupati, mantan anggota DPR RI dari PKB periode 2004-2009 ini langsung tancap gas, bekerja keras. Ia memiliki kepedulian memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia memfasilitasi para pelaku UMKM memperoleh pinjaman modal dari bank.

Tahun 2011, Anas membuat gebrakan besar di bidang ekonomi, yakni menjalin kerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Banyuwangi untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi ribuan pelaku UMKM. Sejak KUR digulirkan Presiden SBY tahun 2007, Banyuwangi tercatat sebagai daerah pertama di Indonesia yang menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dengan BRI dalam penyaluran KUR.

Berkat KUR, UMKM di Kabupaten paling ujung timur Jatim tersebut semakin menggeliat. Selain itu, KUR terbukti manjur menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini berarti KUR ikut berperan mengurangi angka pengangguran.

Terobosan besar lain yang dilakukan Anas adalah melarang berdirinya mal. Hal ini dilakukan untuk melindungi keberadaan UMKM. Anas berpandangan mal dapat mematikan UMKM. Tentu saja gebrakannya tersebut disambut hangat oleh kalangan pelaku UMKM.

Anas memiliki jiwa entrepreneurship. Berbekal pengalamannya dalam beberapa organisasi, ia memiliki jaringan pergaulan yang luas. Nah, ia memanfaatkan jaringan tersebut untuk memasarkan potensi Banyuwangi di bidang pertanian, perikanan dan kelautan, kehutanan, pariwisata, transportasi, perdagangan, perindustrian, dan lain sebagainya.

Alhasil, investor datang berduyun-duyun ke Banyuwangi. Anas mampu meyakinkan para investor dalam negeri dan luar negeri, bahwa situasi Banyuwangi kondusif.

Investasi yang masuk ke Banyuwangi meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2012 nilai investasi sebesar Rp 1,1 triliun, lalu meningkat menjadi Rp 3,2 triliun pada tahun 2013, atau meningkat 175 persen.

Di bawah kepemimpinan Anas, Banyuwangi menjadi daerah yang maju di Indonesia. Sebelumnya Banyuwangi bercitra negatif sebagai daerah yang terkenal dengan aktivitas kleniknya.

Selain itu, daerah ini juga dikelilingi oleh kawasan hutan dan pegunungan yang membuatnya sulit dijangkau. Kini Banyuwangi semakin mudah diakses dengan adanya bandara yang tiap hari sudah diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air.

Azwar Anas juga mendorong ekowisata yang mengandalkan wisata budaya dan wisata alam yang punya diferensiasi kuat dibandingkan daerah-daerah lain. Tiap tahun di Banyuwangi digelar event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival yang banyak mengandalkan kerja sama dengan dunia usaha.

“Ini salah satu cara mengasah lahirnya birokrasi yang punya jiwa entrepreneurship. Dengan anggaran APBD minimal, kami berupaya menghadirkan berbagai event wisata berkelas, seperti International Tour de Banyuwangi Ijen, Jazz Pantai, dan Festival Gandrung Sewu,” kata Anas.

Terjadi perputaran ekonomi yang dinamis selama berlangsungnya Banyuwangi Festival. Banyak orang yang datang, menginap di hotel-hotel, makan dan berbelanja oleh-oleh. Dengan berbagai event ini juga menunjukkan Banyuwangi adalah daerah aman untuk daya tarik bagi masuknya investasi.

Selain itu citra Banyuwangi juga mulai bergeser menjadi kabupaten yang terdepan di Indonesia dalam bidang teknologi dengan menjadi kabupaten digital society, di mana 1.300 titik wifi telah terpasang di berbagai tempat. Layanan publik juga mulai berbasis teknologi informasi.

Selama memimpin Banyuwangi Anas banyak memperoleh penghargaan. Salah satu di antaranya adalah ia menyabet penghargaan ‘Best Regional Achievers’ untuk sub kategori   dalam acara Malam Penganugerahan Obsession Awards 2015 di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (19/3/2015) malam.

Acara yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut diselenggarakan oleh Obsession Media Group (OMG) selaku penerbit Portal Berita obsessionnews.com, Majalah Men’s Obsession, dan Majalah Women’s Obsession. Anas memperoleh tropi penghargaan Best Marketer Regent dari Direktur Media OMG Andi Nursaiful. (Baca: Bupati Banyuwangi Azwar Anas Sabet Penghargaan ‘Best Marketer Regent’)

Anas dinilai sukses memasarkan Banyuwangi, sehingga banyak investasi yang masuk. Selain itu Anas juga berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 20% pada tahun 2010 menjadi 9% pada 2013. Kiatnya adalah pemberdayaan petani kecil dan menengah oleh perusahaan makanan, sehingga terjadi peningkatan kualitas produk sekaligus penyerapan komoditas petani dengan harga yang memadai.

Strategi lain adalah menggeber sektor pariwisata. Strategi ini dikhususkan untuk daerah yang punya potensi wisata. Sektor perikanan disentuh dengan peningkatan nilai tambah produk dan Gerakan 10.000 Kolam Pekarangan. Melalui program ini warga diajak mandiri dengan membudidayakan ikan.

Adapun di daerah yang telah ditetapkan sebagai zona industri, didesain dengan mengundang sejumlah investor yang komitmen terhadap konsep investasi industri ramah lingkungan. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.