Jumat, 5 Juni 20

Analisa Staf Presiden Dinilai ABS

Analisa Staf Presiden Dinilai ABS

Jakarta – Ekonom senior Dr Rizal Ramli menilai, pihak yang membandingkan indikator-indikator ekonomi saat ini dengan situasi setelah krisis moneter 1998 adalah konyol dan menyesatkan. Rizal mengatakan hal itu, Kamis (6/9/2018), menanggapi perbandingan indikator ekonomi yang dipublish Deputi II Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Yanuar Nugroho.

Lewat data yang disodorkannya, Yanuar Nugroho seolah mengajak untuk berpikir positif soal melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Sekalipun rupiah saat ini terpuruk, situasinya berbeda dengan yang terjadi saat krisis moneter 1997-1998.

Periode September 1997-September 1998, rupiah terdepresiasi 254 persen dari Rp 3.030 per dolar AS menjadi Rp 10.275. Sementara September 2017-September 2018, rupiah hanya terdepresiasi 11 persen dari Rp 13.345 menjadi Rp 14.185 per dolar AS. Kalau disamakan seperti 1998 maka rupiah saat ini seharusnya Rp 47.241 per dolar AS.

Terkait kondisi ekonomi saat ini juga tidak perlu dikhawatirkan seolah tidak akan terjadi krismon seperti 21 tahun lalu. Cadangan devisa tahun 1998 sebesar 23,61 miliar dolar AS sementara 2018 sebesar 118,3 miliar dolar AS. Peringkat surat utang pemerintah pada 2018 dalam kategori junk adapun 2018 investment grade.

Net capital inflow triwulan II 1998, sebagaimana data yang menurut Yanuar disiapkan tim KSP, minus 2,470 miliar dolar AS atau jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar 4,015 miliar dolar AS. Pertumbuhan ekonomi 1998 minus 13,34 persen (yoy) dan angka kemiskinan 49,5 juta atau 24,2 persen. Sementara tahun ini pertumbuhan ekonomi 5,27 persen dan angka kemiskinan 9,82 persen atau 25,9 juta. Inflasi Agustus 1998 disebut 78,2 persen (yoy), lebih besar dibanding periode yang sama tahun ini yang 3,2 persen.

Rizal tidak aneh dengan ambruknya rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ekonomi saat ini sudah diprediksinya akhir tahun lalu. Saat itu Rizal mengingatkan kondisi ekonomi negara dalam lampu kuning yang jika tidak cepat diatasi akan masuk lampu merah.

Rizal Ramli satu-satunya ekonom di Indonesia yang meramalkan krisis 1997-1998 satu setengah tahun sebelum terjadi, tepatnya Oktober 1996. Tidak ada yang percaya padahal Rizal meramalkan krisis itu berdasarkan angka-angka yang sudah dikantongi sebelumnya, dan faktanya benar-benar terjadi.

Yanuar terlihat berupaya membandingkan indikator saat krisis 1998 dengan indikator menjelang krisis sekarang ini. Seharusnya, menurut Rizal Ramli, yang dibandingkan adalah sesama indikator menjelang krisis. Dan nyatanya kondisi ekonomi 2018 tidak lebih baik dibandingkan jelang krismon tahun 1998. Bahkan sejumlah indikator utama ekonomi pada kuartal II 2018 lebih buruk ketimbang tahun 1997.

Transaksi berjalan (current account), menunjukkan bahwa kondisi tahun 1997 masih lebih baik dari tahun 2018. Pada tahun 1997 tercatat defisit transaksi berjalan sebesar -4,89 miliar dolar AS, lebih kecil dari defisit transaksi berjalan tahun 2018 sebesar -8 miliar dolar AS. Defisit transaksi berjalan tahun 1997 sebesar -2,2 persen dari GDP, juga lebih kecil dari tahun 2018 yang sebesar -3,04 persen dari GDP.

Dilihat dari neraca perdagangan tahun 1997 terjadi surplus sebesar 410 juta dolar AS, berbanding terbalik dari akumulasi Januari-Juli 2018 yang mencatat defisit sebesar -3,02 miliar dolar AS. Rasio cadangan devisa dan inflasi pada tahun 1997 memang lebih buruk dari 2018. Tercatat cadangan devisa tahun 1997 hanya sebesar 2,9 bulan impor, lebih buruk dari cadangan devisa tahun 2018 yang mencapai 6,9 bulan impor.

Sementara, indikator-indikator lainnya nyaris setara. Debt service ratio (DSR) tahun 1997 sebesar 30 persen, sedikit lebih tinggi dari tahun 2018 sebesar 26,2 persen. Rasio investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) terhadap GDP di tahun 1997 sebesar 1,48 persen, sementara tahun 2018 sebesar 1,5 persen.

“Yanuar Nugroho @ksp membuat analisa konyol & menyesatkan dengan membandingkan indikator-indikator setelah krisis 1998 dan pre-krisis 2018. Mas @moeldoko, Analisa ABS begini yg nembuat kita mudah terlena dan selalu telat-langkah,” kicau Rizal di akun Twitternya. (Red)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.