Sabtu, 4 Desember 21

Anak Sopir Bus Gapai Impian Jadi Insinyur di UGM

Anak Sopir Bus Gapai Impian Jadi Insinyur di UGM
* Wahyu Aji Cahyana bersama kedua orang tuanya.

Yogyakarta, Obsessionnews.com –  Arief Effendi menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai sopir bus jurusan Pacitan-Solo. Pekerjaan ini dilakoninya sejak 17 tahun lalu.

Kendati hanya bekerja sebagai sopir bus, Arief berobsesi menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi. Ya, sejak dulu Arief dan isterinya, Endang Sukarsih, memimpikan anak-anaknya bisa sukses lebih dari mereka.

Setiap bulan Arief hanya bisa membawa pulang uang sekitar Rp1 juta. Uang tersebut digunakan untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan ketiga anaknya. Sementara Endang setiap pagi harus berjualan nasi rames di warung emperan miliknya yang berada di sekitar alun-alun Kota Pacitan, Jawa Timur. Hal itu dilakukannya untuk membantu menambah penghasilan keluarga.

Arief dan Endang membesarkan tiga anaknya di sebuah rumah sederhana yang berada di pusat Kota Pacitan, tepatnya di RT02/RW 03 Lingkungan Gantung, Pacitan. Meski hidup dalam keterbatasan Arief tetap bersemangat dan bertekad kuat bisa menyekolahkan semua anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Baginya, pendidikan merupakan hal penting karena dengan pendidikan bisa mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik.

“Sangat berat sebenarnya, apalagi saat anak pertama dan kedua kuliah dan masih harus membiayai si bungsu sekolah. Namun, bagimanapun caranya saya harus bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi,” kata Arief saat ditemui di rumahnya seperti dikutip dari keterangan tertulis Humas Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bahkan, saat itu dia sampai menjual rumahnya agar bisa bertahan hidup dan bisa membiayai anak-anaknya mengejar pendidikan. Untuk makan pun hanya berlauk kecap dan kerupuk karena kondisi saat itu yang sangat pas-pasan.

“Anak-anak sangat paham kondisi orang tua, mereka tidak pernah meminta macam-macam dan berusaha berprestasi,” ujar Arief.

Ia bersyukur karena anak sulungnya, yakni perempuan,  berhasil lulus dari IAIN Surakarta dan membuka usaha les privat. Sementara anak keduanya yang juga perempuan lulus dari UNS, dan saat ini bekerja di sebuah bank terbesar milik pemerintah. Lalu anak bungsunya, Wahyu Aji Cahyana, berhasil masuk kuliah di UGM pada tahun 2017 ini. Masuk UGM tanpa tes dan meraih beasiswa bidikmisi untuk anak berprestasi dari keluarga kurang mampu.

“Bersyukur dan senang sekali bisa diterima kuliah di UGM apalagi dibebaskan dari biaya kuliah,” tutur Wahyu Aji Cahyana yang akrab dipanggil Aji.

Aji mengaku tidak pernah merasa malu dengan profesi sang ayah yang bekerja sebagai sopir bus. Hal ini tidak menghentikan langkahnya untuk menggapai impian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejak bangku SD hingga SMA dia selalu giat belajar agar bisa menuntaskan pendidikannya. Kegigihan dalam belajar membuahkan hasil manis, alumnus SMA 1 Pacitan ini diterima masuk Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM.

“Saya ingin menjadi insinyur dan menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ucap peraih juara 1 kompetisi bridge Prambanan Cup 2015 lalu ini.

Sementara itu, Endang hanya bisa mendoakan agar Aji  bisa lancar dalam menjalani kuliah. Lebih dari itu bisa menjadi sosok yang membanggakan serta dapat menjunjung derajat keluarga.

“Semoga kuliah lancar dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai,” tandasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.