Senin, 27 September 21

Anak di Bawah Umur Disiksa Polisi Dilaporkan Kontras

Anak di Bawah Umur Disiksa Polisi Dilaporkan Kontras
* ilustrasi (ist)

Jakarta, Obsessionnews РSadis, dilaporkan anak di bawah umur Fiki Arfindo (13), dianiaya oleh aparat kepolisian setelah dituduh mencuri motor tetangganya sendiri (Husen) sekitar pukul 02.00 dini hari (14/6/2015). Berdasarkan kejadian tersebut, pihak korban membantah kalau FA melakukan pencurian sebab pasca kejadian anak dari Kusno ini sedang tidur di rumahnya.

Menurut pengakuan orang tua korban, anaknya tidak melakukan pencurian motor tapi aparat tetap menetapkan anaknya sebagai tersangka. Bahkan saat pemeriksaan, korban mendapat penyiksaan dari aparat Polsek Widang, Tuban, Jawa Timur.

“Anak saya mendapat penyiksaan dari aparat Polsek bertujuan agar korban mengakui tindak pidana pencurian sepeda motor sebagaimana yang disangkakan pelaku itu, padahal anak saya tidak mencuri,” ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Sabtu 27/6/2015.

Berdasarkan pengakuan pendamping korban Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Imanul Isthofaina menilai tindakan parat kapolsek Widang ada motif intimidasi terhadap keluarga korban. Diawali pada proses penangkapan terhadap korban FA tidak sesuai prosedur penangkapan yang diatur dalam KUHP, sebagaimana korban tidak dalam posisi tertangkap tangan apalagi usia korban masih dibawa umur.

“Kita anggap ini penyalah gunaan wewenang aparat serta ketidak profesionalan dalam proses penegakan hukum yang tidak melalui penyelidikan secara mendalam sehingga aparat ini salah tangkap,” cetusnya.

Selain aparat kepolisian salah tangkap, menurut dia, ternyata aparat Polsek Widang melakukan penyiksaan dan intimidasi serta merendahkan martabat korban. “Korban juga itu mendapat perlakukan kekerasan dari aparat, dengan melakukan pemukulan dan penodongan senjata api kearah korban serta penelanjangan agar korban mengakui tindak pidana yang disangkakan. Sehingga penyiksaan terhadap korban ini dilakukan untuk mengakui kesalahannya, hal ini merupakan pelanggaran HAM,” pungkasnya.

Saat pemeriksaan pun korban tidak didampingi penasehat hukum atau keluarga korban, sebagimana pemeriksaan terhadap anak dibawah umur dalam UU Perlindungan Anak maupun Peraturan Internal Kepolisian (Perkap No.8 Tahun 2009) tentang iplementasi HAM. Selain itu Imanul mengungkapkan kalau pihak aparat melakukan upaya-upaya pembohongan publik dengan berdalih pihak keluarga meminta uang sebesar 50 juta kepada pihak kepolisian.

“Padahal kan jelas kalau dari polres Tuban juga melakukan intimidasi dengan mendatangi Kepala Desa untuk meminta kasus salah tangkap tersebut diselesaikan secara damai dengan iming-iming ganti rugi,” bebernya.

Dalam komprensi Pers di Kantor Kontras bersama Kualisi Perempuan Ronggolawe (KPR) menuntut agar Kapolri dan Kapolda Jawa Timur mengusut tuntas dugaan penyiksaan dan penangkapan sewenang-wenang terhadap FA, supaya diproses dengan seadil-adilnya. Mereka juga berharap Ombudsman RI, Komnas HAM, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPI) turut melakukan pemantauan terhadap proses pemeriksaan hukum Anggota Polsek Widang.

“Kami berharap juga pada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk turut memberikan perlindungan terhadap keluarga korban serta saksi-saksi terkait peristiwa yang telah mendapat intimidasi dan mendapat tekanan dari oknum anggota Polri untuk menyelsaikan kasus ini dengan jalan damai,” harapnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.