Senin, 25 Oktober 21

Anak Buruh Bengkel Motor Lulus Cum Laude

Anak Buruh Bengkel Motor Lulus Cum Laude

Vicky Aditya Lestari anak seorang Buruh bengkel motor, mendapatkan beasiswa Bidik Misi dari pemerintah pusat. Biaya kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, menggunakan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). UKT Vicky di Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Unsoed sebesar Rp 0,- (nol rupiah). Artinya, Vicky bebas UKT, sebab UKT dibiayai pemerintah pusat.

Selain itu, setiap bulan Vicky mendapatkan uang Rp650.000 dari beasiswa bidik misi. Keperluan kuliah Vicky seperti, alat dan bahan kedokteran gigi yang harganya selangit serta keperluan hidup seperti makan dan tempat tinggal juga memaksa Vicky untuk bertahan hidup bagimanapun caranya.

Dengan kesibukan kuliah yang sudah cukup padat, Vicky tetap meluangkan waktu untuk bekerja paruh waktu sebagai asisten dokter gigi dan guru privat maupun pengajar tetap di sebuah panti asuhan. Vicky diwisuda pada Rabu (13/9/2017), di Auditorium Graha Widyatama Unsoed, dinyatakan lulus dengan Cum Laude (IPK : 3,91). Vicky lulusan terbaik pertama tahun 2017 dari Jurusan Kedokteran Gigi FK Unsoed.

Vicky kelahiran Kebumen, 6 Mei 1995, mulai kuliah di Unsoed tahun 2013. Masalah finansial yang melanda keluarga Vicky mengakibatkan keluarga Vicky kehilangan tempat tinggal dan terpaksa untuk pindah dari tanah kelahiran Vicky ke dari Kabupaten Kebumen ke Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Vicky anak nomor 2 dari 3 bersaudara. Dia punya pengalaman ke luar negeri. Orang tua Vicky menangis haru mendengar anaknya akan pergi ke luar negeri. Siapa menyangka bahwa Vicky, yang kini menjadi anak seorang buruh bengkel bisa pergi ke luar negeri untuk berpartisipasi membangun negeri.

Menjadi Kreator Peradaban
Setiap manusia pasti memiliki cerita, tekad dan mimpinya masing-masing. Begitu pula dengan Vicky Aditya Lestari, gadis berusia 22 tahun yang masih berusaha mengejar mimpi dan angan-angan, berusaha meraihnya meski impian itu masih menggantung tinggi di langit.

Bagi Vicky mimpi adalah sesuatu yang membuat Vicky masih bertahan hingga saat ini. Menurut Vicky, “Setiap orang memiliki cerita, bagaimana impian itu terbentuk, pasang surut kekuatan mimpi itu, dan cerita perjuangan bagaimana kita meraihnya. Meski tertatih, merangkak, terseok, yang terpenting jangan sampai kita berbalik arah dari mimpi-impi itu.”

Impian Vicky sederhana, sebagaimana anak-anak pada umumnya, mereka pasti ingin membahagiakan dan membanggakan orang tua, memberikan yang terbaik di sisa umur mereka setelah berusaha begitu keras menghidupi dan membahagiakan Vicky dengan kasih sayang mereka.

Vicky terlahir dari keluarga yang berkecukupan pada awalnya, sebelum ayah Vicky mengalami masalah finansial akibat usahanya merugi. Pada saat itu Vicky masih duduk dikelas 6 (enam) Sekolah Dasar, mungkin masih terlalu muda bagi Vicky untuk mengetahui masalah sebenarnya.

Masalah finansial yang melanda keluarga Vicky mengakibatkan keluarga Vicky kehilangan tempat tinggal dan terpaksa untuk pindah dari tanah kelahiran Vicky ke dari Kebumen ke Brebes. Vicky menanggapinya dengan santai dan tanpa beban karena memang Vicky belum begitu mengerti apa yang Vicky hadapai. Masa-masa kelam itu begitu mengguncang perasaan Vicky.

Hari-hari saat Vicky tak memiliki rumah, ayah Vicky tak memiliki pekerjaan, ibu Vicky dengan kondisi hamil tua dengan tegar menapaki jalan berkilo-kilo meter untuk mencari nafkah, menjajakan baju-baju bekas untuk sesuap nasi dan uang sekolah bagi anak-anak dan keluarganya.

Pengalaman ini membuka pikiran Vicky untuk berjuang, melalui satu-satunya hal yang aku mampu, yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan pemutus mata rantai kemiskinan yang paling mulia. Vicky memulai karir Vicky dengan mengikuti beberapa lomba non-akademik saat Vicky SMP, kemudian Vicky mulai tertarik dengan lomba akademik.

Vicky sadar sepenuhnya bahwa masih banyak yang lebih baik dari Vicky, namun Vicky hanya mencoba memberikan yang terbaik, itulah yang terpenting. Berulang kali mencoba dan gagal, sempat berputus asa, namun Vicky sadar, semakin banyak Vicky mencoba, dan kemudian gagal, itu berarti bahwa Vicky sedang menghabiskan jatah kegagalan Vicky demi kemenangan yang indah.

Vicky mencoba belajar mengikuti organisasi, membagi waktu Vicky untuk belajar dan bersosialisasi. Saat itu pun datang, dimana saat-saat waktu membuktikan bahwa usaha memang tak pernah menghkhianati hasil.

Awal mimpi Vicky terbuka dengan beberapa kemenangan yang Vicky raih saat duduk di bangku SMP, dari situ Vicky mendapat reward dari pemerintah maupun sekolah untuk membayar uang sekolah Vicky, sehingga setidaknya Vicky dapat meringankan beban orang tua Vicky.

Saat lulus dan melanjutkan SMA, Vicky kembali terbentur dengan masalah finansial. Ibu Vicky berusaha untuk melobi pihak sekolah agar mau meberikan keringanan dengan mebawa beberapa bukti prestasi Vicky. Ayah Vicky selalu mendukung cita-cita anaknya walaupun dengan segala keterbatasan yang membuatnya tak bisa berbuat banyak.

Keringanan dana itupun Vicky peroleh dari pihak sekolah dan Vicky sangat bersyukur untuk itu. Vicky berusaha untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan prestasi Vicky selama di SMA. Melalui prestasi Vicky, Vicky meringankan orang tuaVicky dengan beasiswa dan reward kompetisi yang Vicky peroleh.

Selepas lulus SMA Vicky masih ingin melanjutkan pendidikan Vicky, namun lagi dan lagi, ganjalan finasial kembali membayangi mimpi-mimpi Vicky. Ayah Vicky memberikan sebuah pernyataan yang membuat Vicky harus tegar, bahwa ayah Vicky tak bisa membiayai Vicky untuk kuliah, ayah Vicky bukannya tidak mendukung dengan keinginan Vicky.

Ayah Vicky menginginkan agar Vicky mendapat beasiswa, ayah Vicky terus membantu sebisa mungkin untuk menfasilitasi segala keperluan Vicky untuk memperoleh beasiswa.

Vicky berusaha mati-matian bersaing dengan ribuan siswa lainnya untuk mendapatkan beasiswa bidikmisi, dan dengan segala syukur Vicky berhasil mendapatkannya, tentunya bukanlah hal yang mudah. Sangat bersyukur karena Vicky diizinkan untuk mengenyam pendidikan dokter gigi melalui jalur bidikmsi.

Kuliah dengan beasiswa tidak semulus yang Vicky bayangkan. Keperluan kuliah seperti alat dan bahan kedokteran gigi yang harganya selangit serta keperluan hidup seperti makan dan tempat tinggal juga memaksa Vicky untuk bertahan hidup bagimanapun caranya.

Dengan kesibukan kuliah yang sudah cukup padat, Vicky tetap meluangkan waktu untuk bekerja paruh waktu sebagai asisten dokter gigi dan guru privat maupun pengajar tetap di sebuah panti asuhan. Pekerjaan ini Vicky lakukan dengan ikhlas dan Vicky merasa bersyukur dapat belajar membagi waktu antara kuliah, bekerja, belajar, berorganisasi serta bermain dengan teman-teman.

Meski hasil kerja Vicky tidaklah seberapa, namun setidaknya dapat membantu orang tua dan memberikan manfaat lebih dari sekedar manfaat finansial bagi Vicky. Berbagi motivasi dengan anak-anak panti, menemukan keluarga baru, dan masih banyak hal positif lainnya.

Pemerintah telah memberikan kesempatan luar biasa bagi Vicky untuk mengenyam bangku kuliah, merajut masa depan dengan untaian kisah-kisah indah penuh perjuangan di bangku kuliah. Ya, Vicky menikmati proses itu. “Pendidikan adalah pemutus mata rantai kemiskinan yang paling mulia”, demikian yang dikatakan oleh menteri pendidikan saat itu Muhamad Nuh.

Menginjak tahun kedua kuliah Vicky, Vicky diberi kesempatan terpilih sebagai mahasiswa terbaik untuk hadir dalam Forum Bidikmisi Nasional di Jakarta. Pada acara tersebut Vicky memperoleh kesempatan bertemu dengan Presiden RI saat itu, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan menteri pendidikan Muhamad Nuh, serta jajaran Kementerian Pendidikan lainnya.

Membanggakan. Itulah satu kata yang Vicky rasakan saat itu, berkumpul dengan teman-teman seperjuangan dari seluruh Indonesia. Vicky sama-sama optimis meyongsong masa depan dengan pendidikan. Vicky memang tak punya harta atau apapun untuk dibanggakan, namun satu hal yang pasti yaitu semangat merubah nasib menjadi lebih baik untuk membangun negeri menjadi lebih baik telah tertanam kuat di hati Vicky, para penerima bidikmisi.

Melalui forum bidikmisi nasional, Vicky memperoleh suntikan semangat baru, pemerintah telah memberikan kesempatan emas bagi Vicky, bagi penerima bidikmisi. Menurut Vicky, “ para mahasiswa penerima bidikmisi adalah mutiara yang tersembunyi dalam lumpur, bagaimanapun kumuhnya lumpur itu, hakikatnya kita adalah mutiara yang berharga selagi kita mau menempa diri dan selalu berusaha memberikan yang terbaik.”

Terpilih sebagai anak pemerintah, tentunya Vicky ingin memberikan kontribusi, balas budi bagi pemerintah sebagaimana mereka adalah orang tua yang memberikan Vickykesempatan memperoleh pendidikan. Menjadi mahasiswa biasa tentunya tidaklah cukup bagi Vicky untuk memberikan kontribusi bagi negeri tercinta.

Beberapa kompetisi mulai dari lomba karya tulis, lomba senitari tradisional, lomba mahasiswa berprestasi, dan seleksi pertukaran pelajar Vicky ikuti. Kegagalan demi kegagalan seolah menjadi cambuk bagi Vicky untuk terus berusaha dan intropeksi akan kekurangan yang masih ada dalam usaha Vicky.

Usaha memang tak akan mengkhianati hasil. Puncaknya Vicky terpilih sebagai delegasi Global Leadership Camp (GLC) di Mahasarakham University, Thailand. Setelah mengikuti seleksi wawancara dan menulis essay, akhirnya Vicky terpilih sebagai delegasi dari Indonesia. Orang tua Vicky menangis haru mendengar anaknya akan pergi ke luar negeri.

Siapa menyangka bahwa Vicky, yang kini menjadi anak seorang buruh bengkel bisa pergi ke luar negeri untuk berpartisipasi membangun negeri. Kekuatan mimpi memang luar biasa.

Segalanya dimulai dengan mimpi dan keyakinan. Bagaimana ketika Vicky merasa semuanya sia-sia, mimpi dan senyum orang tua kembali mengingatkan Vicky bahwa semua belum berakhir. Keluarga, masyarakat, dan Negara membutuhkan Vicky, kontribusi Vicky.

Sungguh, 11 hari tak terlupakan yang pernah Vicky alami. Persahabatan antar delegasi juga masih erat hingga sekarang. Semua begitu bersedih saat perpisahan itu datang. Global Leadership Camp (GLC) di Mahasarakham University, Thailand memberikan suntikan energi luar biasa bagi Vicky.

Vicky semakin berani untuk bermimpi untuk membawa kondisi keluarga dan negara Vicky menjadi lebih baik. Membawa nama Indonesia di kancah Internasional bukanlah perkara mudah. Memberikan partisipasi terbaik dalam Camp (GLC) adalah salah satu cara Vicky membawa nama baik Indonesia di tingkat internasional.

Teman-teman delegasi sangat tertarik dengan tarian yang Vicky bawakan, dan itu membuat Vicky bangga akan budaya Indonesia, dan membuat Vicky semakin jatuh cinta dengan kebudayaan Indonesia.

Sepulang dari Thailand, Vicky memberikan cerita motivasi dan berbagi ilmu dengan teman-teman Vicky di kampus, terutama teman-teman bidikmisi yang terkadang teman-teman bidikmisi sering merasa rendah diri ditengah mahasiswa lainnya.

Vicky menyampaikan harapan Vicky dan kesuksesan Vicky tidak hanya kesuksesan diri sendiri, namun dapat menjadi penyemangat teman-teman Vicky, bahwa tidak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha, berdoa, dan selalu ikhlas dalam berusaha. Tak lama kemudian, Vicky lolos seleksi beberapa konferensi lainnya seperti Future Leader Summit, South East ASEAN Leaders Summit, International World Peace Conference dan masih banyak lainnya.

Pencapaian terbesarVicky yaitu menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Jenderal Soedirman 2016 dan Lulusan terbaik Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Unsoed Purwokerto tahun 2017 dengan IPK 3,91 dan kini Vicky sedang menempuh pendidikan profesi kedokteran gigi yang tentunya masih dibantu oleh beasiswa bidikmisi.

Semua kesempatan berharga telah membangun diri Vicky menjadi pribadi yang lebih peduli dengan sesama dan bagi Indonesia. Vicky sadar sepenuhnya bahwa tonggak kepemimpinan Indonesia suatu saat pasti sampai di genggaman Vicky.

Viky menyampaikan “belajar untuk tidak apatis terhadap problema disekitar kita, memberikan langkah kecil untuk hasil yang besar, serta belajar memahami orang-orang disektar kita merupakan langkah awal menjadi pemimpin sesungguhnya.”

Vicky berharap Vicky tidaklah sendirian, dan Vicky percaya itu. Menurut Viky, “Sesuatu yang besar selalu diawali dengan hal kecil. Pemuda Indonesia, dengan jumlah yang begitu besar adalah aset yang sangat berharga sekaligus ditakuti oleh bangsa lain. Pemuda Indonesia harus mampu merekayasa pembangunan, tak hanya sekedar menjadi buih yang hanyut dalam arus pembangunan.

Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang, jadilah kreator peradaban untuk Indonesia saat ini dan masa depan.” (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.