Sabtu, 23 Oktober 21

Alur Cerita Opera Ular Putih

Alur Cerita Opera Ular Putih

Jakarta, Obsessionnews – Pementasan Opera Ular Putih yang akan digelar tiap hari di Graha Bhakti Budaya TIM, Cikini, mulai tanggal 3 hingga 19 April 2015 ini merupakan Produksi Teater Koma yang ke-139. Acara ini diadakan setiap pukul 19.30 WIB untuk hari Selasa-Sabtu, dan khusus hari Minggu pentas dimulai pukul 13.30 WIB. Sementara Pementasan akan libur pada setiap hari Senin.

Dalam rilis yang diterima Obsessionnews, Rabu pagi (25/3), Opera Ular Putih berkisah tentang siluman Ular Putih yang ingin menjadi seorang manusia sehingga ia bertapa selama 1000 tahun. Karena usaha dan kebaikan yang ada dalam dirinya, para dewa mengabulkan permintaannya dan ia pun menjelma menjadi seorang wanita cantik jelita bernama Pehtinio.

Bersama dengan adiknya, yaitu siluman Ular Hijau yang juga menjelma menjadi seorang manusia bernama Siocing, mereka pun menjalani kehidupan sebagai manusia biasa.

Cerita berlanjut ketika Tinio bertemu pemuda bernama Kohanbun yang merupakan reinkarnasi dari orang yang dulu pernah menolong Ular Putih ratusan tahun yang lalu, Tinio pun bertekad untuk menjadi istri dari Kohanbun. Namun, kedamaian mereka terusik ketika Kohanbun bertemu dengan Gowi, seorang peramal yang memberitahu bahwa istrinya adalah seekor siluman ular jahat, tidak peduli segala kebaikan yang dilakukan Tinio.

Sehingga muncul berbagai pertanyaan, Apakah yang dikutuk sebagai kejahatan memang benar kejahatan? Apakah hal yang diagungkan sebagai kebaikan hanya merupakan kedok suatu kebusukan? Dalam kisah ini dituturkan juga tentang pengorbanan, kebijaksanaan dan cinta.

Pementasan Opera Ular Putih ini akan dibintangi oleh Tuti Hartati, dimana dalam pementasan Teater Koma sebelumnya yaitu Republik Cangik, ia harus berperan jenaka sebagai Limbuk dan kini ia harus berubah 180 derajat menjadi Tinio yang lemah lembut.

Tak ketinggalan, pementasan kali ini didukung oleh aktris dan aktor kawakan Teater Koma seperti Budi Ros, Andhini Putri Lestari, Adri Prasetyo, Ade Firman Hakim, Dodi Gustaman, Daisy Lantang, Ratna Ully, Dorias Pribadi, Sir Ilham Jambak, Aris Abdullah, Dana Hassan, Julung Ramadan dan Rangga Riantiarno.

Meski karya ini merupakan hasil adaptasi dari cerita klasik Tiongkok, namun pementasannya akan dikemas dengan teknik modern dengan menghadirkan gelak tawa dan air mata, cinta dan rindu dengan diiringi lagu dan musik yang menyentuh.

OPERA ULAR PUTIH-

Permainan alat musik asal Tiongkok seperti guhzen dan ehru juga melengkapi lakon ini, yang menunjukan indahnya perpaduan kedua kebudayaan Tiongkok dan Indonesia. Permainan musik yang akan menghiasi pagelaran ini dikomposisi oleh Idrus Madani dan diaransemen oleh Fero Aldiansya Stefanus.

Pemakaian kostum warna warni yang dirancang oleh Rima Ananda Oemar serta tata rias oleh Sena Sukarya sangat menggambarkan suasana asli Tiongkok. Para pemain juga akan menunjukkan keserasian gerak serta tari yang ditata oleh Elly Luthan, diperindah oleh tata artistik dan cahaya garapan Taufan S. Chn.

Semua unsur ini akan memperlihatkan percampuran dua budaya yang sangat kuat, yang bisa dilihat dari balutan kostum serta pernak pernik khas Indonesia yang akan mewakili semangat akulturasi budaya. Produksi yang dipimpin oleh Ratna Riantiarno ini akan dibantu juga oleh pengarah teknik Tinton Prianggoro dan pimpinan panggung Sari Madjid Prianggoro. Sementara sang penyadur naskah dan sutradara pementasan ini Nano Riantiarno (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.