Sabtu, 16 Oktober 21

Alumni ITB ’75 Khawatir Bandung Teknopolis Rusak Habitat

Alumni ITB ’75 Khawatir Bandung Teknopolis Rusak Habitat

Bandung, Obsessionnews – Pembangunan Bandung Teknopolis yang digagas Walikota Bandung Ridwan Kamil, ternyata mengundang reaksi para Alumni ITB ’75. Selain para alumni, sejumlah pecinta lingkungan seperti Walhi, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) dan Gerakan Hejo serta tokoh masyarakat setempat mengkhawatirkan punahnya habitat yang dihuni sedikitnya 2700 ekor burung blekok (kutilang).

Atas dasar kekhawatiran itulah sejumlah tokoh lingkungan tersebut menggelar diskusi dan obrolan santai atau ngawangkong soal burung blekok, Sabtu malam (27/2/2016), di Saung Blekok Rancabayawak, Gedebage Kota Bandung.

“Ini ngawangkong yang yang ketiga kalinya pada tahun 2016 ini dihadiri sekitar 25 orang dari Alumni ITB ’75, DPKLTS, dan Gerakan Hejo,” kata Ujang Syafaat (39), Ketua RW 02 Kampung Rancabayawak Cisaranten Kidul, Gedebage Kota Bandung.

“Seperti bola salju, makin lama makin besar saja, semoga ada manfaat langsung bagi kami yang terancam oleh pembangunan,” tandasnya dihadapan yang hadir termasuk Camat Gedebage Bambang.

“Sesuai kepakaran kami dari Alumni ITB ’75, akan membawa konsultan atau ahli di bidang lingkungan hidup, ada yang berasal dari LIPI, pensiunan PT KAI, konsultan lingkungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan dosen di beberapa Universitas di Jakarta, sekarang ikut berembuk pada tahap awal, karena keprihatinan kami, atas nasib habitat burung juga warganya,” kata Utun Sutrisna Sastrawijaya, pimpinan rombongan.

Beberapa jam sebelumnya Alumni ITB ’75 menggelar bakti sosial di Gunung Masigit, Blok Kareumbi Cicalengka Kabupaten Bandung. Para Alumni tersebut menanam 2.000 pohon, pada daerah yang gundul.

“Hanya sedikit saja sumbangan kami dengan menanam pohon, kita berharap jumlah pohon akan bertambah dan program berlanjut dan mungkin saja kami menanam pohon disini, ” jelas Ida N Sitompul dan Maslina W.H yang keduanya Alumni ITB ’75 sambil melihat ratusan burung bertengger di salah satu rumpun bambu di Rancabayawak.

Ida pun mempertanyakan sudah tidak ada lagi lahan untuk ditanam di Rancabayawak tersebut. Para Alumni ITB ’75 juga menyumbangkan sejumlah dana untuk pembelian pakan burung blekok, yakni ikan-ikan kecil.

“Baru ini yang bisa kami sumbangkan,” tambah Utun yang hari itu memborong aneka kuliner setempat, seperti telur asin, pepes ikan kurusuk khas Rancabayawak, dan produk lainnya.

“Tamu seperti inilah yang bisa memberkahi kami”, seru Ny. Onih (43), warga Rancabayawak yang suaminya dalam 1 tahun terakhir ini menganggur, karena tanah garapannya sudah dikuasai sepenuhnya oleh pengembang PT Summarecon kawasan Bandung Teknopolis.

Koloni burung blekok

Teknopolis – Blekokpolis?!
Sementara itu Camat Gedebage dalam paparannya dihadapan peserta diskusi informal ini, selain mengucapkan terima kasih atas partisipasinya, juga Ia berjanji akan memperjuangkan keberadaan Kampung Wisata Blekok Rancabayawak.

“Saya sudah diperintah oleh Pak Wali Kota untuk mendengar aspirasi warga disini, yakinlah, daerah ini tidak akan digusur oleh proyek Teknopolis sebagaimana santer isyu akhir-akhir ini, saya jamin itu,” ujarnya.

Sementara itu Taufan Suranto dari DPKLTS dan Ir. Muh. Husen alias Husen Lauk dari Gerakan Hejo, memberikan pandangan sedikit berbeda.

“Daerah ini sebagai cekungan Bandung, sebenarnya rawan oleh amblesan tanah, terpaan puting beliung dan rawan banjir. Bila serta merta dijadikan Teknopolis, resiko dari segi biaya dan mitigasi bencana sangat tinggi. Kalau pun dibangun, harus ekstra hati-hati,” tegasnya.

Husen Lauk menilai daerah Rancabayawak sebenarnya cocok untuk pembudidayaan ikan yang ramah lingkungan. “Di sekitar sini bisa dibuat semacam kolam dengan ikan endemik. Ikan-ikan kecilnya untuk pakan blekok, sementara yang besarnya bisa dipasarkan,” papar Husen.

Namun harapan Husen langsung dibantah warga, ”Jangankan bikin kolam, semua sawah disekeliling kampung kami yang luasnya 1 hektar, dikuasai PT Summarecon, tidak boleh ditanami apa pun. Ini bikin kami bingung, Pak Camat tadi menyuruh kita bikin desain sehubungan teknopolis, nah, tanahnya saja tidak ada, maumendesain tanah siapa?, “seru H. Bunyamin tokoh masyarakat dan diamini sejumlah warga dengan menyebutnya “Kalau blekokpolis sih, bisa?”. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.