Sabtu, 4 Desember 21

Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi

Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi
* Allya Siska Nadya (Almarhum)

 

Kisah Malpraktik (1)
Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi

 

Gadis cantik puteri mantan pejabat perusahaan BUMN ini wafat beberapa jam setelah tiga kali perawatan di klinik Chiropratic First, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Bahkan ia telah  melunasi biaya terapi sebesar Rp17 juta. Sang ayah mengajukan gugatan perkara malpraktik ke Polda Metro Jaya. Mengapa pihak kepolisian lambat dalam menangani kasus yang menelan korban jiwa ini?

Allya Siska Nadya -

OBSESI Allya Siska Nadya untuk melanjutkan pendidikan S2 di Paris terkubur di Klinik Chiropratic First, Cabang Pondok Indah Mall (PIM 1), Jakarta Selatan. Ayahnya, Alfian Helmy Hasjim, mantan Vice President Communication PT PLN (Persero), dan ibunda, Arnisda Helmy, hingga kini terpukul berat. Betapa tidak. Ia tak pernah mengalami mimpi buruk akan menimpa putri bungsu kesayangannya.

Gadis kelahiran 28 Desember 1982 ini menyabet Bachelor of Creative Industries (Media and Communication) Queensland University of Technology, Brisbane, Australia. Setelah bekerja beberapa tahun di Jakarta, pada 18 Agustus 2015 sejatinya Allya terbang ke Paris untuk melanjutkan program MBA di Edhec Bussiness School Lille di Roubaix cedex, sebuah kota kecil di perbatasan Perancis dan Belgia. Tetapi semua rencana itu urung karena kematian merenggutnya beberapa jam setelah perawatan terapi.

Alkisah, kedua orang tua yang sangat menyayangi putrinya itu menginginkan selama berada di Perancis kondisi kesehatan Allya prima, sehingga dapat fokus belajar. Belakangan Allya beberapa kali kembali mengeluh. “Ada bagian otot di lehernya terkadang terasa pegal,” ungkap Alfian Helmy, sang ayah.

Karena pekerjaannya, dalam sehari Allya memang selalu berada di depan komputer sekitar delapan jam setiap hari. “Dia memang pekerja keras, dan senang dengan pekerjaannya,” tutur Alfian, mantan anggota Majelis Pakar Pusat Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia).

Jauh hari sebelumnya, 14 Juli 2014, Allya sempat  melakukan pemeriksaan medis di RS Pondok Indah, Jakarta, ditangani oleh dr Ferdynand Zaron. Seperti diungkapkan Alfian, hasil Radiological Report yang dilakukan oleh Prof Dr dr Cholil Badri mengungkapkan hasil pemeriksaan X-ray vertebral cervical terhadap Allya:

“Tampak lordosis cervicalis yang melurus bahkan kifotik dengan puncak pada C5, akan tetapi masih disertai  dengan alignment yang baik, terutama tak terlihat spondylolisthesis di semua segmen cervical. Selain itu terlihat penyempitan (kompresi?) dan sclerosis pada corpus C5 dan C6, dengan penyempitan relative discus intervertebralis segmen C5/6. Tampak spurring pada bagian anterior corpus vertebrae terutama C3, C4, dan C7. Tak terlihat osteolysis pada tulang-tulang vertebra cervical. Kesan : Khyphosis cervicalis, kemungkinan e.c fraktur compresi pada C5 dan C6 dengan hipersclerosis pada corpus terkait.”

Begitulah selanjutnya, hari dan bulan terus berjalan. Hingga tiga pekan menjelang keberangkatan ke Paris, atas saran pamannya, Allya diminta mencoba terapi di Chiropratic First. Klinik ini gencar mempromosikan diri sebagai klinik terapi tanpa pembedahan, yang mampu mengembalikan fungsi tubuh dengan menghilangkan gangguan sistem syaraf dan struktur, serta fungsi mekanik tubuh. Klinik ini bertebaran di sejumlah kawasan elite Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya. Selain itu, juga beroperasi di China, Singapura, dan Malaysia dengan dokter teerapi dari berbagai negara.

Randall
Randall Cafferty yang diduga lakukan malpraktik, kini dikabarkan lari keluar dari Indonesia. (dok)

Ada Kejanggalan

Pada 5 Agustus 2015, untuk pertama kalinya Allya melakukan konsultasi dengan Dr Randall Cafferty, praktisi Chiropratic asal AS. Setelah melakukan interview dan mengisi formulir pengetahuan terhadap Chiropratic, serta masalah yang dihadapi, pada 6 Agustus, Allya kembali ke klinik kalangan the have tersebut. Ia membayar uang sejumlah Rp17 juta untuk pembayaran Therapy Adjustment sebanyak 40 kali sesuai dengan yang direkomendasikan Dr Randall Cafferty. “Karena terapi dilakukan setelah membayar lunas,” ungkap Alfian Helmy.

Ada kejanggalan yang diperhatikan Alfian yang turut mengantar puterinya bersama sang isteri. Dalam sehari terapi dilakukan sampai dua kali, yakni sekitar pukul 13.00 dan 18.30 WIB. Namun apa daya, berharap anak menjadi lekas sehat, maka Alfian mengikuti kehendak klinik.

Arnisda Helmy yang turut mengantar ke ruang terapi menggambarkan, salah satu metode terapi yang dilakukan meminta Allya pada posisi tengkurap di ranjang. Kemudian sang terapis menggerakkan kepala Allya ke kanan dan ke kiri beberapa kali, hingga pada tulang leher terdengar suara: kreeek.

Ketika perjalanan pulang ke rumahnya di kawasan Bintaro, Allya tak merasakan apa-apa. Tetapi, boro-boro rasa pegal di lehernya hilang, setiba di rumah sekitar pukul 23.00 malam ia meringkih akibat kesakitan sangat di bagian lehernya, hingga berteriak dan tersedu sedan.

Sang ayah panik, dan langsung melarikan Allya ke ICU RS Pondok Indah tengah malam itu juga. Ia ditangani oleh Dr Fahreza Aditya Neldy, untuk mendapatkan pertolongan medis darurat. Tetapi man proposes but God disposes. Manusia berusaha tetapi Tuhan juga yang menentukan. Takdir memanggil Allya. Ajal tiba tepat pukul 06.15 pagi WIB menjelang mentari bersinar.  Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Seperti diungkapkan Alfian pula, pada 7 Agustus Dr Fahreza Aditya menerbitkan resume medis. Tertulis riwayat penyakit dulu dari pasien adalah Kifosis cervicalis. Sedangkan riwayat penyakit sekarang tertulis: Os dengan kelainan tulang leher, sehabis berobat ke chiropractic untuk ketiga kalinya, mengeluhkan nyeri di leher belakang, nyeri menjalar ke punggung bawah antara tulang belikat dan kesemutan di daerah lengan hingga telapak tangan, mual-muntah, nyeri tidak kunjung membaik dengan obat anti nyeri, sekitar 1 jam kemudian leher Os membengkak di bagian leher bawah hingga pundak kiri, nyeri tekan, tidak ada pulsasi, fluktuasi+, diduga perdarahan, Os tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran, kejang, buang air kecil spontan, tekanan darah turun, pada pasien dilakukan resusitasi berupa pengamanan jalan nafas, pemasangan ventilator, resusitasi cairan dan obat resusitasi lain, target resusitasi sulit tercapai, dan pasien dinyatakan meninggal pukul 06.15 WIB setelah 45 menit dilakukan resusitasi jantung paru.

Alfian dan Arnisda pun sangat terpukul. Merasa bersalah. Merasa khilaf. Mengapa sang anak dibiarkan leher kepalanya di putar ke kanan dan ke kiri oleh sang terapis.

Dengan tubuh lunglai dan hati pikiran berkecamuk sedih, Alfian melaporkan kasus malpraktik Chiropratic ini ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Harapannya, tak ada lagi nyawa yang terenggut seperti yang dialami puteri tercintanya, Allya Siska Nadya. Kreeeek!

Sisca

Biografi Allya Siska Nadya

Lahir : Bandung, 28 Desember 1982

Pendidikan:

  • Bachelor of Creative Industries bidang Public Relation padaQuensland University of Technology, Brisbane, Australia (2002-2005)
  • University Entry Program, QUT International College, Brisbane, Australia (Februari-Juni 2002)

 Pelatihan dan Seminar:

 

  • DELF B2 Preparation Course, InstitutFrancaisd’Indonesie, Jakarta (Januari-Maret 2015)
  • The AsiaWorks Basic Training, Jakarta (Desember 2014)
  • 2nd Public Communication Summit 2012,MarComm Institute,Jakarta
  • Intensive Arabic Languange Program, University of Jordan Language Centre, Amman, Jordania (September 2009-Mei 2010)

Aktivitas lain:

  • National Project Coordinator for “Salaam UK” Exchange Program, AIESEC Tunisia National Committee, Tujis, Tunisia (Maret-Agustus 2006)
  • Exrternal Relation Manager AIESEC Queensland, Brisbane, Australia (Januari-November 2005)

Riwayat Pekerjaan:

  • Public Relation Coordinator, PT Bumi Resource Tbk. (SejakMaret 2012)
  • Public Relation Officer, PT Smart Tbk. (Desember 2011-Maret 2012)
  • Assistant Marketing Communication Manager, Padma Reaort Bali at Legian, Bali (Februari-Agustus2011)
  • Public Relation Officer, PT Bakrie & Brothers Tbk. (Oktober 2007-Juli 2009)
  • Media Monitoring and Communication Planning Staff, PT Dharmapena Citra Media (Januari-Oktober2007)

Bersambung

(Tim Obsessionnews)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.