Minggu, 8 Desember 19

Album “Lover” Jadi Andalan ‘Penjahat’ Baru Musik Pop

Album “Lover” Jadi Andalan ‘Penjahat’ Baru Musik Pop
* Taylor Swift. (BBC)

Taylor Swift menjadi salah satu ikon budaya pop abad ke-21, terlepas dari berbagai ‘serangan’ yang mengarah padanya. Dengan album barunya, Lover, mampukah ia mempertahankan statusnya sebagai superstar?

Siapa musisi yang paling sukses di dunia? Taylor Swift adalah salah satu artis yang jelas memiliki klaim atas status itu.

Sejak meluncurkan album perdananya pada tahun 2006 lalu, penyanyi sekaligus penulis lagu asal Pennsylvania, Amerika Serikat, itu telah bertransformasi dari seorang musisi country berbakat yang terinspirasi Shania Twain, Faith Hill dan Dixie Chicks, menjadi sesosok ikon pop yang telah menggunakan pengaruhnya di industri rekaman untuk memperjuangkan royalti streaming musik yang lebih baik bagi sesama musisi.

Dalam perjalanannya, ia juga menerima penghormatan dari banyak pihak, termasuk menjadi musisi kelima yang berhasil dua kali mendapatkan penghargaan Grammy untuk kategori bergengsi ‘Album Tahun Ini’ (album Fearless pada tahun 2009 dan album 1989 pada tahun 2014).

Taylor Swift

Bulan lalu, Swift dijuluki sebagai selebriti dengan bayaran tertinggi di dunia oleh majalah Forbes, dengan pendapatan kotor sekitar AS$185juta (sekitar Rp2,6triliun) sepanjang tahun 2018.

Media bisnis juga melaporkan bahwa kesepakatannya dengan Republic Records milik Universal Music Group, yang baru ia tandatangani November lalu, dapat membuatnya menerima penghasilan hingga AS$200juta (Rp2,8triliun).

Album ketujuh Taylor yang diberi judul Lover dirilis Jumat 23 Agustus lalu; jika album ini tidak menjadi bagian dari rantai kesuksesannya memuncaki tangga album Billboard 200 yang keenam kali, industri musik akan sangat terkejut.

Rekor Taylor di tangga lagu Billboard Hot 100 juga mengesankan – Dua lagu pertama album Lover, yaitu Me! dan You Need to Calm Down, hanya tertahan oleh lagu milik Lil Nas X, Old Town Road.

 

Tapi di saat yang sama, Taylor telah kehilangan kepercayaan dirinya yang tinggi, tidak seperti pada masa puncaknya ketika album 1989 yang dirilis tahun 2014 sukses besar, baik secara komersial maupun di mata para kritikus musik.

Dua tahun setelah itu, ia dihujani banyak ‘serangan’ akibat perselisihannya yang berantakan dan tersiar luas dengan Kim Kardashian dan Kanye West terkait sejauh mana Taylor mengetahui bahwa namanya akan disebut dalam lagu Kanye, Famous.

Dalam lagu itu, dengan menggunakan istilah seksual yang kasar, West merujuk pada insiden di MTV Video Music Awards 2009 ketika ia memotong pidato Swift saat menerima penghargaan VMA dan mengatakan kepada penonton bahwa Beyoncé yang seharusnya memenangkan penghargaan itu.

Taylor Swift

Ketika Famous dirilis, Taylor secara terbuka mengatakan: “Saya sangat ingin untuk tidak diikutsertakan dalam narasi ini, sesuatu yang saya tidak pernah minta untuk dilibatkan.”

Namun, kemudian Kim Kardashian, istri Kanye, mengunggah video Snapchat yang tampaknya memperlihatkan Taylor memberikan izin kepada West untuk menyebut namanya dalam lagu itu. Dengan segera, banyak penikmat musik yang menyatakan untuk “memboikot” Taylor.

Kejadian memalukan itu terus menghantuinya hingga kini. “Kejadian memalukan di depan umum, di mana jutaan orang mengatakan bahwa kamu dalam tanda kutip diboikot, adalah pengalaman yang membuat saya merasa sangat dikucilkan,” ungkap Taylor kepada Vogue awal bulan Agustus lalu.

“Saya rasa tidak banyak orang yang dapat benar-benar mengerti bagaimana rasanya dibenci jutaan orang secara terang-terangan.”

Dalam masa puncak karirnya, Taylor membentuk sebuah grup berisi para selebriti perempuan yang kemudian kerap disebut sebagai ‘squad’. (BBC)

 

Perubahan Persona, Dari Kuat Jadi Ceria
Setelah kejadian yang “menjatuhkan”-nya itu – seperti yang digambarkan di media – album Reputation yang ia rilis tahun 2017 memperkenalkan sosoknya yang lebih kuat dan garang dari sebelumnya – yang tampaknya menikmati statusnya sebagai “penjahat” baru musik pop.

Setelah Kim Kardashian menyebut dirinya sebagai “ular” di media sosial, Taylor dengan cerdik menjadikan ular kobra raksasa sebagai dekorasi utama rangkaian tur dunia Reputation.

Akan tetapi, meski ia mengakui bahwa semua aksi publisitas negatif itu adalah rancangannya sendiri, Reputation tetap menjadi album Taylor dengan angka penjualan yang paling rendah.

Kini dalam mempromosikan album Lover, Taylor mencoba berputar 180 derajat secara ambisius – ia mencoba menampilkan sosok yang ceria, nyaman dengan dirinya sendiri, dan lebih terlibat secara sosial daripada dirinya di masa lampau.

Bulan Oktober tahun lalu, ia memecahkan kebisuan pandangan politiknya dengan mendukung dua kandidat Partai Demokrat dari kampung halamannya di Tennessee.

“Tema utama kampanye ini adalah nilai-nilai positif, namun dengan sebuah tujuan,” ungkap Hugh McIntyre, jurnalis musik majalah Forbes. Ia merujuk pada lirik dari dua single pertama album Lover.

Me! bertemakan penerimaan diri, sementara You Need to Calm Downmenunjukkan kesetiaan pada komunitas LGBT dengan lirik seperti “Why are you mad when you could be GLAAD?”, yang merujuk pada organisasi aktivis LGBT.

McIntyre juga berpendapat bahwa Taylor menunjukkan lebih banyak sisi “humanis”-nya dalam kampanye albumnya ini, seperti pada sebuah video yang baru-baru ini viral di mana Taylor tampak mabuk di sebuah pesta.

“Bahkan jika pun itu direncanakan,” tuturnya, “itu adalah momen yang ia butuhkan.”

Tapi di situlah letak masalahnya. Bagaimanapun, tuduhan yang mengatakan bahwa ia kerap “merencanakan” segala hal yang ia lakukan telah menempel pada diri Taylor sejak ia menjadi terkenal.

Dalam wawancaranya tahun 2015 lalu, ia menolak keras tuduhan itu dan menyebutnya sebagai cara yang “sangat ofensif” untuk menggambarkan kepribadiannya.

Meski jelas bahwa ia tidak menyukai karakterisasi atas karir dan personanya itu, belum jelas apakah kini Taylor berusaha untuk melupakannya.

Selama beberapa tahun, sejumlah media amat tertarik untuk mencoba mencari tahu lagu apa yang menceritakan kisah mantan kekasihnya, dan memunculkan gagasan bahwa Taylor pada akhirnya memanfaatkan kehidupan pribadinya untuk keuntungan komersial.

“Jujur saja, saya pikir itu sudut pandang yang sangat seksis,” ujar Taylor dalam sebuah wawancara pada tahun 2014.

“Tidak ada yang berkata seperti itu tentang Ed Sheeran. Tidak ada yang berkata seperti itu tentang Bruno Mars.”

Sementara itu, latar belakang Taylor yang kaya sebagai putri pialang saham Merril Lynch tidak membuatnya terlihat seperti seorang seniman yang keberhasilannya sepenuhnya organik.

Keluarganya sengaja pindah dari pinggiran kota Pennsylvania ke Nashville ketika ia berumur 14 tahun agar ia bisa mengejar cita-citanya berkarir di jantung industri musik country.

Kepindahannya dan keluarga jelas terbayar lunas, namun kisah itu tidak semenarik kisah perjuangan artis-artis lain.

Lady Gaga kerap berbicara tentang pengalamannya mengasah kepribadian musikalnya di bar-bar Lower East Side di kota New York yang dikenal kumuh. Sementara Ed Sheeran menceritakan momen ketika ia harus tidur di sofa rumah Jamie Foxx selama enam minggu sebelum ia menjadi seorang bintang.

Bahkan, meskipun upaya Miley Cyrus untuk melepaskan persona Disney Channel yang lekat dengannya terasa sangat kikuk, kisah itu memiliki unsur kesembronoan yang memikat hati. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.