Minggu, 3 Juli 22

Al-Qur’an Braille Bisa Jadi Kendala bagi Pemula

Al-Qur’an Braille Bisa Jadi Kendala bagi Pemula
* Webinar Riset tentang Mushaf Al-Quran Braille. (Foto: Kemenag)

Jakarta, obsessionnews.com – Doktor disabilitas netra Ridwan Effendi melakukan riset tentang Al-Qur’an Braille. Mendapat beasiswa dari Baznas, Ridwan meneliti tentang ‘Problematika Al-qur’an Braille (Komparasi Mushaf Standar Al Qur’an Braille Indonesia Dengan Mushaf Al Qur’an Braille Malaysia dan Kuwait, Serta Problematika Penulisan Hamzah)’.

Hasil penelitian ini dibahas dalam webinar tentang “Efektifivitas Pedoman Al Quran Braile” yang digelar oleh Baznas, Kamis (26/8/2021). Di antara temuan penelitiannya, ada kemiripan perabaan antara Hamzah Mufradah dan Syiddah sehingga bisa menjadi kendala bagi pemula.

“Hamzah mufradah pada mushaf Al-Qur’an Braille akan menjadi kendala bagi pemula, yang sering dianggap syiddah dalam perabaannya,” demikian salah satu temuan riset yang dipaparkan Ridwan.

Dikutip obsession news.com dari situs kemenag.co.id, Senin (30/8), dalam kesempatan tersebut Ridwan berharap hasil risetnya bisa menjadi landasan akademik bagi pemangku kebijakan, ketika akan melengkapi Mushaf Al-Qur’an Braille di Indonesia.

Pimpinan Baznas Achmad Sudrajat mengapresiasi keberhasilan RIdwan dalam melakukan riset Al-Qur’an Braille.

“Beasiswa riset ini hanya sedikit sumbangan untuk para akademisi. Terkhusus saat ini untuk komunitas disabel netra. Semoga hasil penelitian Dr. Ridwan memberikan manfaat lebih besar untuk ilmu pengetahuan. Ini juga bagian dari kesadaran literasi zakat untuk masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Subdirektorat Pendidikan Al Qur’an, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama (Kemenag) Mahrus. Hadir menyampaikan keynote speaker,  Mahrus mengapresiasi beasiswa riset yang digulirkan Baznas.

“Beasiswa riset dengan tema Mushaf Al-Qur’an Braille ini masih jarang dikaji Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.  Karena itu semoga hasil risetnya dapat memberi masukan penting pada pembelajaran Al-Qur’an Braille di Indonesia, yang baru dikenal sekitar tahun 50-an,” ujar Mahrus yang juga mantan Kasi Penelitian pada Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag.

“Riset Mushaf Al-Qur’an Braille dengan studi kasus Hamzah diharapkan dapat memberi rekomendasi penting pada Lajnah Pentashih Al-Qur’an dan untuk sosialisasi pembelajaran Al-Qur’annya dapat bekerja sama dengan Subdit Pendidikan Al-Qur’an Direktorat PD Pontren Ditjen Pendidikan Islam,” sambungnya.

Webinar ini dibahas oleh Pentashih Mushaf Al-Qur’an dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kemenag Ahmad Jaeni. Webinar diikuti  78 peserta yang tersebar dari berbagai wilayah Indonesia. Beberapa peserta juga merupakan santri disabilitas netra, mahasiswa, dosen, hingga teman dari beberapa komunitas tuna netra di Indonesia.

Hasil dari riset dan juga materi paparan presentasi dapat diunduh di publikasi.baznas.go.id dengan judul ‘Efektifivitas Pedoman Al Quran Braile’. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.