Kamis, 17 Oktober 19

Al-Khaththath: Sholat Subuh Pilar Utama Keberkahan Indonesia

Al-Khaththath: Sholat Subuh Pilar Utama Keberkahan Indonesia
* Ketua Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GISS), KH Muhammad Al-Khaththath saat memberikan taushiyah di Masjid Asy-Syarif Al-Azhar, BSD, Tangsel, Kamis (17/8/2017).

Tangsel, Obsessionnews.com – Ketua Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GISS), KH Muhammad Al-Khaththath menegaskan bahwa Sholat Subuh dapat menjadi pilar utama keberkahan jika dilakukan secara konsisten oleh umat Islam di Indonesia.

Melalui Sholat Subuh, setiap permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia akan selesai karena adanya campur tangan Allah Swt.

“Kenapa Sholat Subuh? Karena kehidupan diawali dengan Sholat Subuh. Inilah bedanya umat Islam dengan orang-orang kafir,” tandas Al-Khaththath dalam taushiyahnya di Masjid Asy-Syarif Al-Azhar, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Kamis (17/8/2017).

Al-Khaththath lalu menyitir Al-Quran surah Al-Hajj ayat 41, dimana Allah Swt. menginformasikan beberapa indikasi masyarakat yang dikokohkan kedudukannya di dunia.

“Indikasi yang pertama adalah menegakkan sholat dengan memenuhi masjid. Konon, ini pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz,” ungkap Sekjen GNPF-MUI tersebut.

Untuk menyelesaikan krisis yang terjadi, kisah Al-Khaththath, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerapkan dua kebijakan. Pertama, memerintahkan penduduknya untuk memenuhi masjid dengan Sholat Subuh berjamaah laiknya Shalat Jumat.

Kedua, khalifah membuat kebijakan untuk memasyarakatkan tilawah (membaca) Al-Quran.

“Baik Sholat Subuh di masjid maupun tilawah Al-Quran itu harus dimulai dari para pejabat pemerintahan,” tegasnya.

Indikasi kedua untuk membangun masyarakat yang kokoh adalah menunaikan zakat. Soal ini, Al-Khaththath mencontohkan salah seorang sahabat Nabi Saw. bernama Muadz bin Jabal yang mengajak orang-orang Islam untuk berzakat.

Ke depan, lanjut Al-Khaththath, GISS akan membentuk Satgas yang memiliki tugas untuk menjadi penyangga utama umat Islam di masjid. Satgas menjadi penyambung ukhuwah Islamiyah, utamanya kepada muzakki (penunai zakat) dan mustahiq (penerima zakat).

“Satgas ini akan berkeliling mengambil beras setiap malam Ahad. Berasnya nanti dikumpulkan di masjid. Di masjid inilah terjadi ukhuwah Islamiyah yang real. Jadi kalau ada yang kekurangan bisa dibantu dari pengadaan beras tersebut,” ujarnya.

Dan indikasi ketiga dan keempat adalah melaksanakan amar ma’ruf serta nahi munkar, dimana umat Islam seluruhnya harus menjadi pelaku utamanya.

Namun untuk lebih tegasnya, lanjut Al-Khaththath, tugas ini akan diemban Satgas dimana mereka akan mengajak kerabatnya, baik keluarga maupun tetangganya untuk Sholat Subuh ke masjid. Nantinya, Satgas juga akan dilatih untuk mampu melakukan nahi munkar di sekitar masjid dan masyarakat setempat.

“Satgas ini juga harus selalu Sholat Subuh di masjid. Kalau ada Satgas punya keperluan sehingga tidak Sholat Subuh di masjidnya, maka ia harus izin kepada pimpinannya yaitu ketua DKM setempat,” tutup Al-Khaththath. (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.