Selasa, 18 Januari 22

Aktris & Aktivis Teater Indonesia, Ratna Riantiarno

Aktris & Aktivis Teater Indonesia, Ratna Riantiarno
* Aktris & Aktivis Teater Indonesia, Ratna Riantiarno

Dia masih merasa teater di Indonesia bukan pertunjukan populer, tidak seperti konser musik yang disenangi remaja. Karena itulah, perlu ada inovasi dalam pementasan atau konsep teater.

Nama Ratna Riantiarno tak bisa jauh dari Teater Koma, grup teater paling produktif di Indonesia sejak 1977. Istri dari Nano Riantiarno ini disebut telah mendapat sejumlah penghargaan atas konsistensinya di panggung teater Indonesia. Salah satu hal yang membangun reputasi Teater Koma selama ini adalah pilihan mereka pada tema-tema satir sosial yang tajam.

Aksi panggungnya dianggap selalu berhasil mengantarkan pesan dengan baik. Hiburan ditampilkan berisi kritik sosial mencerminkan pertentangan kelas atas dan bawah buat mereka yang ada di tengah-tengah. Sebagai sebuah seni pertunjukan, Ratna melihat teater sebagai wadah yang tepat menyuarakan kritik sosial, seperti masalah ketimpangan gender, keadilan, dan bahkan problem kerusakan alam.

Di tubuh Teater Koma sendiri, tak hanya Nobertus Riantiarno maupun Ratna yang berperan besar meskipun mereka adalah sang pendiri. Teater Koma juga merupakan kelompok teater tertua di Indonesia. Untuk memperingati 40 tahunnya, bulan Maret lalu, Teater Koma mementaskan Opera Ikan Asin, karya yang pernah mereka pentaskan pada tahun 1983 dan 1990 lalu selama empat hari berturut-turut.

Menurut Ratna, hingga kini Teater Koma masih mengandalkan penonton generasional yang setia. Misalnya, mereka yang kerap mengajak suami atau istri dan anak untuk menonton, kini sudah membawa serta cucunya. Namun, dia masih merasa teater di Indonesia bukan pertunjukan populer, tidak seperti konser musik yang disenangi remaja. Karena itulah, perlu ada inovasi dalam pementasan atau konsep teater.

Sebagai inovasi untuk dapat lebih dekat dan terjangkau usia muda, Teater Koma pernah menjalankan program bagi mahasiswa atau anak sekolah, agar dapat melihat aktivitas para pekerja teater di belakang panggung.

“Sampai sekarang, kami konsisten setahun dua kali pagelaran dan semoga di tahun-tahun berikutnya tetap berlanjut,” Ratna berpendapat.

Hal yang terpenting dalam grup teater itu adalah regenerasi dan harus mempunyai naskah dan sutradara yang baik. Bagi para pemain baru, disiplin, komitmen, tanggung jawab, toleransi, maupun bekerja sama itulah yang terpenting. (Naskah: Angie Diyya, Foto: Istimewa)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.