Kamis, 2 Desember 21

Aktivis ICW Tak Bersedia Diperiksa Bareskrim

Aktivis ICW Tak Bersedia Diperiksa Bareskrim

Jakarta, Obsessionnews – Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho tidak bersedia diperiksa penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri sebagai saksi terlapor atas laporan dugaan pencemaran nama baik dari pakar hukum pidana Universitas Padjajaran (Unpad) Romli Atmasasmita.

Emerson yang didampingi kuasa hukumnya, Febrionesta, hanya membutuhkan waktu selama satu setengah jam berada di dalam Gedung Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan.

Sekira pukul 12.00 WIB mereka telah keluar dengan alasan telah memberikan surat rekomendasi dari Dewan Pers kepada Bareskrim Polri untuk menunda pemeriksaan karena sedang dilakukan proses pemeriksaan etik di Dewan Pers.

“Pemeriksaan belum menyentuh ke pokok persoalan. Karena klien kami ‎belum bersedia memberikan jawaban sampai ada hasil final pemeriksaan dari Dewan Pers,” ujar Febrio di Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2015).

Febrio dan kliennya mengapresiasi sikap penyidik yang menerima surat rekomendasi dan melaksanakan penundaan pemeriksaan terhadap Emerson dan juga aktivis ICW lainnya yakni Adnan Topan Husodo.

“Kami mengapresiasi penyidik dan menghormati sikap penyidik yang menerima rekomendasi dari Dewan Pers,” katanya.

Menurut Febrio, dalam surat yang diberikan tadi juga dicantumkan hasil analisa sementara yang menyatakan tidak ditemukan adanya perbuatan pencemaran nama baik.

Dia mengatakan, surat dari Dewan Pers menyatakan pihak mereka tidak menemukan adanya pencemaran nama baik. “Masalah ini masalah jurnalistik dan baiknya diselesaikan ‎dalam kode etik jurnalistik dimana Dewan Pers merekomendasi pihak yang dirugikan bisa membuat hak jawab,” tuturnya.

Febrio dan kliennya juga mengaku tidak mempersiapkan apapun untuk menyongsong pemeriksaan yang akan mereka hadapi. “Kami tak ada persiapan karena tidak tahu arah pertanyaan penyidik ke mana,” katanya.

Meski tak memiliki persiapan, Febrio menegaskan agar penyidik Bareskrim menghormati proses yang dijalankan oleh Dewan Pers dan pemeriksaan etik di Dewan Pers.

“Kami belum mendapatkan informasi terbaru dari Dewan Pers dan kami berharap Dewan Pers sudah dapat langsung berkoordinasi dengan penyidik,” ujarnya.

Sekedar untuk diketahui, ICW telah menemui Dewan Pers pada Selasa (7/7) lalu, untuk melaporkan panggilan Bareskrim Mabes Polri terhadap dua aktivisnya. Dugaan pencemaran nama baik itu diduga dilakukan dalam keterangan yang disampaikan ICW kepada media 19 Mei lalu.

Laporan atas dugaan pencemaran nama baik dilayangkan pakar hukum pidana Romli Atmasasmita sejak Mei lalu. Saat itu, Romli melaporkan Adnan dan Emerson, serta mantan penasihat KPK Said Zaenal Abidin atas dugaan pencemaran nama baik.

Tak hanya ICW, Romli juga melaporkan tiga media yang dianggap telah mencemarkan nama baiknnya, yaitu Kompas, Tempo, dan The Jakarta Post. Ketiga media tersebut dilaporkan dengan sangkaan melanggar Pasal 310, 311 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 27 (3) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Setelah mendengarkan aduan dari ICW, Dewan Pers diketahui mengatakan akan segera melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan ada atau tidaknya pelanggaran kode etik jurnalistik atas pemberitaan ketiga media yang dilaporkan.

Dewan Pers juga mendorong Romli untuk segera mengadukan keberatannya atas pemberitaan di media massa terkait kepada Dewan Pers dalam waktu dekat ini. Selain itu, mereka berjanji akan mengirimkan surat kepada Bareskrim Mabes Polri agar perkara yang dilaporkan Romli dapat diselesaikan pada sidang etik Dewan Pers, sesuai isi Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (Purnomo)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.