Minggu, 5 Februari 23

Aksi Demo Rusuh, Rezim Prancis Tunda Kenaikan BBM

Aksi Demo Rusuh, Rezim Prancis Tunda Kenaikan BBM
* Polisi Prancis mengusir pengunjuk rasa di sudut kota Lyon, Prancis, dengan menggunakan gas air mata, 3 Desember 2018. (BBC)

Setelah rangkaian aksi demonstrasi yang berakibat pada tewasnya sejumlah orang, pemerintah Prancis menunda kenaikan harga bahan bakar diesel yang jadi pemicu protes.

Kenaikan pajak terhadap diesel digagas Presiden Emmanuel Macron sebagai langkah perlindungan terhadap lingkungan hidup, namun dianggap memberatkan.

Sebelumnya, pertemuan kelompok moderat ‘Rompi Kuning’ dengan Perdana Menteri Prancis dibatalkan setelah adanya ‘ancaman mati’ dari para pegiat radikal, sementara seorang perempuan tewas terkena tabung gas air mata yang terlontar ke apartemennya.

Pertemuan kalangan moderat ‘gilet jaunes’ atau rompi kuning dengan PM Edouard Philippe dijadwalkan berlangsung Selasa (4/12) ini.

Namun sejumlah anggota tim perunding ini mengatakan mereka mendapat ancaman pembunuhan dari kalangan pengunjuk rasa garis keras, menuntut mereka untuk tidak melakukan perundingan dengan pemerintah.

Sabtu lalu, seorang perempuan berusia 80 tahun meninggal akibat hantaman tabung gas air mata yang terlontar ke jendela apartemennya di kota Marseille, tidak jauh dari lokasi bentrokan antara aparat kepolisian dan para pengunjuk rasa.

Sementara, kalangan pengemudi ambulans swasta di Prancis turut bergabung dalam protes menentang pemerintah sejak Senin lalu. Mereka antara lain memblokir salah satu jalan bundaran di Paris di dekat gedung parlemen.

Sejumlah pemrotes menutup jalan di kawasan selatan Prancis, menolak kebijakan pemerintah terkait BBM. (BBC)

Bentrokan antara ribuan pengunjuk rasa dan pasukan kepolisian di Paris, Prancis, dan bergulir di beberapa kota besar lainnya, diawali demonstrasi menentang kenaikan harga bahan bakar minyak, khususnya diesel. Presiden Emmanuel Macron mendasarkan kebijakannya pada niat untuk membatasi penggunaan diesel demi lingkungan yang lebih bersih.

Namun kekisruhan itu dinilai juga dipicu isu lain seperti pajak dan biaya hidup masyarakat yang terus meningkat.

Tewasnya perempuan manula di Marseille menambah jumlah korban setelah sebelumnya tiga orang meninggal sejak unjukrasa itu digelar dua pekan lalu, kata kepolisian Prancis.

Kementrian dalam negeri Prancis mengatakan sekitar 136.000 orang yang melibatkan diri dalam unjuk rasa pada Minggu lalu, yang menyebut sebagai Gerakan Rompi Kuning.

Disebut sebagai gerakan ‘gilets jaunes’ atau rompi kuning karena mereka mengenakan rompi kuning cerah, yang merupakan bagian dari kelengkapan wajib setiap mobil dalam peraturan Prancis .

Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, mengatakan kepada media Prancis bahwa kerusuhan di Paris, Sabtu lalu, diperkirakankan telah menimbulkan kerusakan dengan nilai antara €3-4 juta (sekitar Rp50-65 miliar).

Hari Senin (3/12), juru bicara gerakan “rompi kuning”, Christophe Chalençon, menyerukan agar para pejabat pemerintah mengundurkan diri, untuk digantikan oleh “seorang komandan sejati, seperti Jenderal de Villiers”.

Jenderal Pierre de Villiers adalah mantan kepala Angkatan Bersenjata Prancis yang mengundurkan diri setelah menolak keputusan Presiden Emmanuel Macron yang melakukan pemotongan anggaran. (BBC)

Sumber: bbc.com

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.