Sabtu, 13 Agustus 22

Aksi Bom Molotov di Samarinda dan Perkembangan Jejaring Kelompok Radikal

Aksi Bom Molotov di Samarinda dan Perkembangan Jejaring Kelompok Radikal
* Pengamat politik dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam.

Jakarta, Obsessionnews.com – Teror bom molotov di Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Minggu (13/11/2016), yang dilakukan residivis bernama Juhanda (J), menunjukkan bahwa aksi dan gerakan radikal di negeri ini masih jauh dari tuntas.

Radikalisme, radikalisasi, dan aksi kekerasan berbentuk teror statusnya tetap bahaya yang terang dan hadir, a clear and present danger, di negeri ini. Dan memiliki keterkaitan ideologis dan praktis dengan ideologi transnasional serta kelompok Islam radikal yang selama ini beroperasi di berbagai wilayah, termasuk di ASEAN dan Indonesia.

Kendati Polri baru mengumumkan sedikit informasi mengenai J, namun tak terlalu sulit untuk  mengaitkan teroris tersebut dengan fenomena lone wolf terrorist atau peneror tunggal, yang kemudian direkrut dan dimanfaatkan oleh jejaring kelompok Islam radikal, baik di Indonesia maupun internasional. Menurut keterangan Polri, J setelah lepas dari penjara lantas bergabung dengan Jamaat Ansharud Daulah (JAD), salah satu kelompok Islam radikal Indonesia yang mendukung atau berbaiat dengan ISIS. Salah satu aksi teror dari JAD adalah bom Jl.Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016.

JAD memiliki tokoh-tokoh yang masih berada di lembaga pemasyarakatan (lapas) maupun di luar negeri yang terus melakukan kontak dan kontrol dengan para pengikutnya di Indonesia.  Tokoh-tokoh panutan maupun pelaku teroris seperti Aman Abdurrahman (AA), Bahrum Naim (BN), Bahrumsyah (Bs), dan Salim Mubarok (SM) alias Abdul Jandal (AJ) tetap mampu merencanakan dan memberikan instruksi-instruksi mereka, kendati dari dalam penjara (AA), atau yang sudah di luar negeri (BN,Bs, dan SM).

Kendati operator dan salah satu pemimpin jejaring pro ISIS seperti Santoso sudah tewas di Poso, tak berarti bahwa jejaring dan pengikut mereka lantas menyurut. Jika terbuka peluang, kelompok ini akan memanfaatkannya, baik melalui aksi para lone wolves maupun serangan teoris yang lebih terencana dan masif.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta aparat mengusut tuntas peristiwa ledakan bom di gereja Oikumene tersebut. Fahri meminta semua pihak berhati-berhati terhadap provokasi.

“Hati-hati provokasi, usut dan ungkap tuntas, hati-hati provokasi. Setiap konflik yang terjadi di Indonesia ada hubungan dengan apa yang direncanakan orang lain,” kata Fahri di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (13/11).

Fahri meminta aparat melakukan analisis secara mendalam mengenai kejadian tersebut. “Tidak boleh (melakukan penyimpulan langsung). Harus penyelidikan terlebih dahulu,” katanya.

Pengamat politik dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam, tidak sependapat dengan Fahri. Hikam mengatakan sangat tidak masuk akal pernyataan Fahri itu. Walaupun statemen Fahri tersebut normatif dan terdengar “taat hukum”, namun jika berhadapan dengan fakta yang ada (walaupun masih belum terbuka semuanya), bagi Hikam menjadi kontradiktif atau minimum tak ada nilai yang penting. Bahkan justru bisa kontraproduktif  bagi upaya pemberantasan terorisme. Statemen Fahri bisa dimaknai mementahkan apa yang sudah menjadi fakta terkait dengan sosok J dan jejaring organisasinya, padahal track record mereka sudah jelas.

Penyelidikan Polri pasca-aksi teror di Gereja Oikumene itu, kata Hikam, bukan hanya mencari fakta tentang J dan JAD. Tetapi yang tak kalah penting adalah menelusuri keberadaan jejaring JAD dan perkembangannya di Kalimantan.

“Kalau hanya soal sosok J dan JAD, saya kira sudah jelas siapa dia dan organisasi radikal macam apa itu. Yang masih perlu diketahui dan paling urgen adalah sampai sejauh mana jejaring kelompok radikal Islam itu telah berkembang di wilayah seperti Kaltim, dan bahkan seluruh Kalimantan. Jika ternyata jejaring tersebut telah ekstensif, maka tingkat ancaman pun akan semakin tinggi,” kata Hikam seperti dikutip Obsessionnews.com dari blog The Hikam Forum, Senin (14/11).

Mantan Menteri Riset dan Teknologi ini mengungkapkan, umat Islam Indonesia dan bangsa kita tak perlu ragu-ragu untuk menyikapi ancaman terorisme tersebut. Justru jika masih ada yang mencoba menutup-nutupi  fenomena tersebut dengan dalih provokator dan sebagainya, maka perlu untuk dicermati dan dikritisi.

“Ibarat menghadapi penyakit berbahaya, kesiapan dan kesigapan aparat keamanan harus prima. Dan kesiapan masyarakat menghadapi visrus radikalisme dan pengembangan proses radikalisasi yang terus diupayakan juga mesti ditingkatkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, ini bukan sebuah paranoia, tetapi sebuah kewaspadaan agar virus tersebut bisa dicegah sedini mungkin, dan bukan baru bereaksi setelah berada pada stadium tingkat tinggi seperti di Timur Tengah.

Seperti diketahui ledakan bom molotov di halaman di Gereja Oikumene, Minggu (13/11), mengakibatkan empat anak balita mengalami luka dan dibawa ke Rumah Sakit Abdul Muis. (@arif_rhakim)

 

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.