Rabu, 3 Juni 20

Akhirnya ARB Lakukan Akrobat Politik

Akhirnya ARB Lakukan Akrobat Politik

Akhirnya ARB Lakukan Akrobat Politik

Dugaan kita akhirnya menjadi kenyataan. Seperti sebelumnya saya tulis di Obsessionnews bahwa di tengah jalan bisa saja Aburizal Bakrie (ARB) yang sebelumnya menolak Perppu Pilkada yang dikeluarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mungkin saja akan melakukan acrobat politik demi menggolkan kepengurusan Golkar hasil Munas ke IX di Nusa Dua, Bali. Akrobat Politik yang dimaksud adalah dengan kembali mendukung Perppu Pilkada. Pertanyaannya adalah mengapa bisa terjadi acrobat politik semacam itu?

Penolakan Perppu Pilkada itu dilakukan ARB di Munas Bali. Penolakan tersebut membuat SBY jengkel, sehingga dia sempat menulis di twitter mengungkapkan tentang kekecewaannya itu. Tidak hanya itu kemudian SBY bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara. Pertemuan keduanya antara lain membahas soal Perppu Pilkada dan kemungkinsn Partai Demokrat (PD) yang dipimpinnya bergadengan dengan PDIP. Pertemuan keduanya inilah yang menyebabkan ARB harus berakrobat. Sebab dengan adanya SBY dan PD mendekat ke pemerintahan, nilai tawar ARB rendah.

Pertemuan SBY-Jokowi mengandung dapat dibaca bahwa tanpa bantuan Golkar pun kelompok pemerintah pasti bisa menang kalau dilakukan voting di parlemen untuk suatu kebijakan. Tidak hanya itu dengan merapatnya SBY ke pemerintahan, hampir pasti akan diikuti Partai Amanat Nasional (PAN). Sehingga kekuatan Golkar benar-benar kropos. Dan yang lebih membuat ARB puyeng adalah sikap pesaingnya di Golkar. Karena dalam Munas Golkar tandingan di Ancol, Jakarta kubu Agung Lakdono menyatakan mendukung Perppu Pilkada sekaligus merapat ke pemerintah. Hal-haql semacam itulah yang membuat ARB harus banting stir dengan tidak takut kalau menyerempet.

Sekarang persoalannya terpulang kepada pemerintah, sebab saat ini pemerintah yang pegang kendali. Semua bola  di tangan pemerintah, tinggal mau disorong kemana, pemerintahlah yang menentukan. Namun satu hal yang harus dan perlu dicatat adalah pengalaman di Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu, siapa yang gampang sekali menikung, dan siapa yang konsisten. Pengalaman tersebut perlu dipakai jadi bahan pertimbangan agar tidak salah langkah, tidak salah pilih. Sebab politik saat ini yang terjadi adalah raja tega, siapa lengah hampir pasti dilibas tidak peduli apakah itu kawan atau sohib.

Bola panas itu adalah soal dua kepengurusan Partai Golkar antara kubu ARB dan kubu Agung Laksono. Keduanya kita yakini akan coba diselesaikan lewat peradilan, sebab hampir tidak mungkin didamaikan atau diselesaikan lewat Mahkamah Partai. Disinilah pemerintah yang berhak menentukan, mengadili kubu mana yang dianggap sah. Karena itu wajar jika para pihak yang bersengketa mencoba bermanis-manis dengan pemerintah. Sekarang, sekali lagi semuanya tergantung kepada pemerintah, mau pilih yang mana terserah.

Namun yang perlu dan harus diperhatikan, pemerintah mesti berpatokan kepada peraturan perundangan yang berlaku sebelum akhirnya memutuskan bahwa kubu tertentu yang dianggap sah. Soal pengakuan masing-masing bahwa mereka lah yang benar, silahkan saja. Namun kita yakin pemerintah punya acuan, punya norma-norma, dan punya rambu-rambu yang mesti dipedomani dan inilah yang harus dipegang erat-erat. Dengan demikian keputusan apa pun yang diambil pemerintah tidak perlu takut akan akibatnya, karena rakyat pasti akan membelanya. (Arief Turatno wartawan senior)

 

Related posts