Sabtu, 1 Oktober 22

Ajengan Ahmad Sanusi, Penyelamat Sidang BPUPKI

Ajengan Ahmad Sanusi, Penyelamat Sidang BPUPKI

Oleh: Lukman Hakiem, Sekretaris Majelis Pakar Parmusi  

Pada 26 Maret lalu, Pengurus Daerah Persatuan Umat Islam (PD PUI) Kota Sukabumi, Jawa Barat,  menayangperdanakan film “Sosok Pejuang Pemikir K. H. Ahmad Sanusi”.

Beberapa tahun terakhir ini, PUI memang giat menyebarluaskan pemikiran K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950). Berbagai karya ilmiah Sanusi diterbitkan ulang. Biografi “K.H. Ahmad Sanusi Pemikiran dan Perjuangannya dalam Pergolakan Nasional” ditulis dan diterbitkan. Di setiap kegiatan, karya-karya Ajengan Sanusi selalu dipamerkan.

Siapa Sanusi?

Bagi masyarakat Sukabumi khususnya, masyarakat Jawa Barat umumnya, nama Ajengan Sanusi bukanlah nama yang asing. Dia dikenang sebagai tokoh utama Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII, Persatuan Ummat Islam) yang didirikan oleh para muridnya pada akhir 1931.

Sanusi juga dikenang sebagai pendiri pondok pesantren Gunung Puyuh yang santrinya menyebar di seluruh Jawa Barat. Di antara alumni Gunung Puyuh ialah mantan Rektor Universitas Islam Bandung, K.H. E.Z. Muttaqin, dan K.H. Choer Afandi, pendiri pesantren Miftahul Huda, Manonjaya dan bupati Tasikmalaya pertama.

Dalam kancah perjuangan melawan penjajah Belanda, sejak 1927 hingga 1934 Sanusi dipenjara di Cianjur, di Sukabumi, dan dibuang ke Tanah Tinggi, Senen, Batavia Centrum. Selanjutnya sejak 1934 hingga 1942, Sanusi menjadi tahanan kota.

Anggota BPUPKI

Di ujung masa penjajahan Jepang, bersama 61 tokoh terkemuka Indonesia, Sanusi diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Jika kita baca buku “Risalah Persidangan BPUPKI-PPKI” kita akan dapati betapa aktif Sanusi menyampaikan pemikiran-pemikirannya mengenai negara Indonesia yang akan didirikan.

Sanusi misalnya mengusulkan bentuk negara Jumhuriyah (Republik) dan pemimpin Jumhuriyah itu disebut Imam yang dipilih.

Prestasi gemilang Sanusi terjadi pada peristiwa berikut ini.

Pada 13 Juli 1945 dimulai Rapat Besar BPUPKI guna mendengarkan laporan dan mengesahkan hasil kerja Panitia Perancang Undang-Undang Dasar. Rapat berlangsung maraton dari 13 sampai 16 Juli, sejak pagi hingga hampir tengah malam.

Selaku Ketua Panitia Perancang UUD, Ir. Sukarno melaporkan hasil kerjanya kepada Rapat Besar berupa Rencana Pernyataan Kemerdekaan yang merupakan cikal bakal Pembukaan UUD.

Betapa pun Sukarno meyakinkan peserta rapat Dokuritsu Zjunbi Tjoosakai agar menerima hasil kerja Panitia Perancang Sembilan Orang (kemudian dikenal sebagai Panitia Sembilan) sebagai kompromi terbaik antara golongan Islam dengan golongan kebangsaan, pro kontra tetap muncul juga.

Keberatan muncul terutama terhadap rumusan: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Mula-mula Latuharhary dan kawan-kawan menyatakan keberatannya atas rumusan tersebut.  Keberatan Latuharhary dijawab oleh H. Agus Salim dan K.H. Abdul Wahid Hasjim. Kepada Latuharhary dan pihak-pihak lain yang keberatan, Kiai A. Wahid Hasjim mengatakan: “Inilah rumusan hasil kompromi yang bisa dicapai.”

Menurut putra Hadratus Syaikh K.H.M. Hasjim Asj’ari itu, jika ada yang menyebut rumusan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” terlalu tajam; ada juga yang berpendapat sebaliknya: terlalu tumpul. Bahkan ada yang bertanya kepada Kiai Wahid: “Apakah dengan rumusan lunak seperti itu orang Islam sudah boleh berjuang menceburkan jiwanya untuk negara Indonesia yang akan didirikan ini?”

Jika Latuharhary dan kawan-kawan keberatan dengan keseluruhan rumusan, Ketua Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo meminta agar kalimat “bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus, sehingga sila pertama rumusan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam.”

Demikian kerasnya perdebatan, K.H. Abdul Kahar Moedzakkir yang mendukung Ki Bagus, sampai menggebrak meja. Ki Bagus sendiri bahkan memulai salah satu pembicaraannya dengan kata-kata: “Saya berlindung kepada Allah terhadap syetan yang merusak.” Tidak syak lagi, suasana rapat memanas. Ketua rapat, Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, menawarkan voting untuk menghindari kemacetan persidangan.

Di tengah suasana rapat besar BPUPKI yang makin panas dan menunjukkan tanda-tanda bakal berujung pada jalan buntu, Ajengan Sanusi tampil bijak. Seraya menolak voting yang ditawarkan Radjiman, Sanusi meminta dengan sungguh-sungguh “supaya  permusyawaratan berjalan tenang, dengan memancarkan pikiran ke sebelah kanan dan ke kiri, ke luar dan kembali.” Sanusi mengingatkan rapat BPUPKI agar jangan mengambil keputusan dengan tergopoh-gopoh.

Sesudah mengingatkan peserta rapat Dokuritsu Zjunbi Tjoosakai agar berlindung kepada Tuhan masing-masing, Sanusi mengusulkan kepada ketua rapat agar suasana rapat didinginkan dulu. Usul Sanusi segera ditangkap oleh Radjiman. Dan rapat BPUPKI malam itu ditunda sampai besok pagi.

Sesudah rapat ditunda sesuai saran Sanusi, malam itu Ketua Panitia Sembilan, Bung Karno, bergerilya melakukan pendekatan kepada para anggota BPUPK dari kedua kalangan: Islam dan kebangsaan. Dengan pendekatan yang dilakukan Bung Karno hingga “hampir datang waktu subuh,” hasil kerja Panitia Sembilan pun keesokan harinya diterima oleh rapat besar Dokuritsu Zjunbi Tjoosakai. “Dengan suara bulat diterima Undang-Undang Dasar ini,” ujar Radjiman Wedyodiningrat seraya mengetukkan palu.

Layak Menjadi Pahlawan

Jasa Ajengan Sanusi mendinginkan suasana, dengan interupsinya yang jernih, niscaya tidak mungkin dicoret dari sejarah.

Tanpa interupsi Ajengan Sanusi, rapat besar BPUPKI bisa berakhir tanpa menghasilkan UUD.

Dengan prestasi gemilang menyelamatkan sidang BPUPKI, aneh jika masih ada yang keberatan menjadikan Ajengan Sanusi menjadi Pahlawan Nasional. Padahal sahabat karib Sanusi yang bersama-sama mendirikan PUI dan sama-sama menjadi anggota BPUPI, K.H. Abdul Halim (1887-1962) sejak 2008 sudah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.