Kamis, 16 September 21

Ahok Si ‘Spiderman’ Tebar Jaring, Terjerat Sendiri

Ahok Si ‘Spiderman’ Tebar Jaring, Terjerat Sendiri
* Peluncuran buku “Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5/2016). (Foto: (Kompas.com/David Oliver Purba).

Jakarta, Obsessionnews.com – Ibarat turnamen tenis meja atau pingpong, Pilkada DKI Jakarta 2012 putaran kedua menyuguhkan pertandingan yang amat menarik. Saat itu Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melawan Gubernur petahana DKI Fauzi Bowo atau Foke yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli. Jokowi-Ahok diusung PDI-P dan Partai Gerindra, sedangkan Foke-Narchrowi diusung Partai Demokrat.

Dan terjadi kejutan di Pilkada DKI tersebut. Sang petahana tumbang. Jokowi-Ahok kemudian dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017.

Namun, belum genap dua tahun berkuasa Jokowi maju di Pilpres 2014. Mantan Wali Kota Solo ini menggandeng eks Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK). Jokowi-JK diusung PDI-P, Nasdem, PKB, dan Hanura. Mereka bertarung melawan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa. Prabowo-Hatta diusung Gerindra, PAN, PPP, dan PKS. Dan keluar sebagai pemenangnya adalah Jokowi-JK.

Jokowi-JK dilantik sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden di Gedung MPR/DPR untuk masa jabatan 2014-2019 pada tanggal 20 Oktober 2014.

Kursi DKI 1 yang ditinggalkan Jokowi kemudian diduduki oleh Ahok. Mantan Bupati Belitung ini dilantik sebagai Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi pada 19 November 2014. Setelah menjadi Gubernur, Ahok kemudian menggaet Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat sebagai wakilnya.

Ahok dikenal gampang  mengumbar kata-kata kasar. Di berbagai kesempatan mantan anggota Fraksi Partai Golkar DPR ini tak segan-segan mengeluarkan kata-kata tak sopan.

Umpatan mantan Bupati Belitung Timur itu menginsipirasi dua penulis, Maksimus Ramses Lalongkoe dan Syaefurrahman Al-Banhary, membuat buku yang berjudul Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’. Buku tersebut diluncurkan di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5/2016).

Yang menarik, menurut sang penulis, Ahok tak keberatan terhadap judul buku yang kontroversi itu.

Lho, kok bisa?

Kata ‘bajingan’ dalam judul tersebut dimaksudkan dalam perspektif positif, yakni Ahok  yang berani untuk mempertanggungjawabkan seluruh keputusan yang dia ambil.

Maksimus menjelaskan, kata ‘bajingan’ di judul buku tersebut melambangkan Ahok yang dinilai adalah sosok pemimpin yang mampu mengatasi para penjahat kerah putih yang dinilai tidak mampu dijinakkan oleh pemimpin lainnya. Maksimum menyebut buku tersebut memuat isi dari perspektif komunikasi.

“Buku ini adalah jembatan antara masyarakat dan pemimpinnya. Dan kami melihat dari sisi komunikasi,” ujar Maksimus dalam acara peluncuran buku tersebut.

Sebelum menerbitkan buku tersebut, penulis lainnya Syaefurrahman mengatakan ada ketakutan ketika pihaknya mendatangi Ahok. (Sumber 1)

“Kami takut ditolak oleh Pak Ahok karena ada kata kata-kata ‘bajingan’ di dalamnya. Pada saat itu saya siap-siap untuk menarik buku itu jika Pak Ahok tidak setuju,” ujar Syaefurrahman.

Dalam pertemuan tersebut, Syaefurrahman mengatakan bahwa Ahok tidak keberatan adanya buku itu. Tetapi Ahok sedikit terkejut ketika melihat judul yang dipakai di buku tersebut. (Sumber 2)

“Dia tidak keberatan, waktu ngobrol dia bilang ‘Wah, saya bajingan ya?’ Udah tersenyum saja,” ujar Syaefurrahman.

Selain itu, yang membuat Syaefurrahman yakin bahwa Ahok tidak keberatan hadirnya buku itu adalah Ahok mau menandatangani beberapa buku yang disodorkan ke Ahok. Dirinya menilai tidak akan ada tuntutan pencemaran nama baik dari Ahok jika buku tersebut diterbitkan ke publik.

“Beliau tanda tangan, ya sudah, artinya kami lepas dari tuntutan hukum. Ini kan menyangkut karakter orang, makanya kami lakukan audiensi,” ujar Syaefurrahman.

Di sampul buku tersebut terpampang wajah Ahok dengan tubuh seorang super hero Marvel yaitu Spiderman. Tampak super hero berkostum merah biru itu tengah melompat menebar jaring laba-laba.

Mengapa Spiderman yang mempunyai kekuatan jaring laba-laba dipakai pada sampul buku tersebut?

Maksimus mengungkapkan, pemilihan tokoh Spiderman yang dijadikan sampul buku melambangkan kepemimpinan Ahok bak pahlawan yang berani menentang seluruh kebijakan yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran. (Sumber 3)

“Kenapa harus Spiderman, karena menurut kami penulis, Ahok itu orang yang selama ini sangat berani menentang semua orang yang menurut dia tidak setuju dengan jalan yang dia lalui, salah satunya dengan pemberantasan korupsi, bahkan BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) sekalipun dia tantang,” ujar Maksimus.

Sedangkan kekuatan jaring, lanjutnya, untuk menangkap para penjahat dan koruptor yang ingin bermain mata di pemerintahan DKI.

Sementara itu Syaefurrahman mengatakan makna jaring tersebut juga bisa berbalik kepada Ahok jika tidak berhati-hati antara tindakan dan ucapan.

Kalo tidak sama antara omongan dan tindakan, jaring juga akan mengenai Ahok, jadi dia harus hati-hati,” ujarnya.

Kasus Penistaan Agama Islam

Apa yang dikhawatirkan Syaefurrahman menjadi kenyataan. Karena tidak hati-hati menebar jaring – kiasan dari tindakan – akhirnya jaring itu menjerat Ahok sendiri. Mantan politisi Partai Gerindra ini menjadi terdakwa penistaan agama Islam.

Kasus yang menyeret Ahok menjadi terdakwa penistaan agama dipicu oleh beredarnya video pidato Ahok  di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ahok pemeluk  agama Kristen Protestan.  Warga keturunan Cina ini  dengan lancang mencampuri urusan agama lain, yakni Islam. Ia menyinggung soal Alquran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Kepulauan Seribu. Ketika itu Ahok antara lain menyatakan, “…’Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan nggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa’.

Ucapan mantan Bupati Belitung Timur tersebut membuat umat Islam tersinggung dan melaporkannya ke polisi. Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam pernyataan sikap keagamaannya, Selasa (11/10/2016), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Alquran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Aksi Simpatik 55 yang menuntut tegakkan hukum seadil-adilnya pada Ahok, terdakwa penistaan agama Islam di Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Pernyataan Ahok tersebut menimbulkan gelombang demonstrasi di Jakarta dan berbagai daerah di tanah air.  Jutaan orang yang dikoordinir Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Aksi Simpatik 55 di depan gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Jumat (5/5/2017), menuntut Ahok dihukum seberat-beratnya.

Aksi Bela Islam

Sebelumnya GNPF MUI mengoordinir massa dari berbagai daerah di Indonesia dalam Aksi Bela Islam (ABI) pada tahun 2016 dengan tuntutan tangkap dan penjarakan Ahok. ABI jilid 1 digelar pada Jumat (14/10/2016) atau dikenal dengan sebutan Aksi 1410. GNPF MUI kembali menggelar ABI jilid 2 pada Jumat (4/11/2016) atau Aksi 411 dan ABI jilid 3 pada Jumat (2/12/2016) atau Aksi 212.

Aksi 1410 diikuti ribuan orang. Jumlah peserta meningkat menjadi sekitar 3,2 juta orang pada Aksi 411. Antusiasme warga Muslim terus meningkat menjadi sekitar 7,5 juta orang pada Aksi 212.

Jutaan orang mengikuti Aksi Bela Islam 3 yang menuntut Ahok dipenjara di Jakarta, Jumat (2/12/2016). (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com).

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11/2016). Statusnya berubah menjadi terdakwa saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Selasa (13/12/2016).

Setelah Ahok menjadi terdakwa gelombang unjuk rasa anti Ahok terus bergulir. Massa dari berbagai ormas yang dikoordinir Forum Umat Islam (FUI) menggelar Tausiyah Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (11/2/2017).

FUI kembali menggelar massa berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR pada Selasa (21/2/2017). Selain menuntut Ahok dipenjara, dalam aksi ini juga menuntut Ahok dipecat dari jabatannya.

Karena tuntutannya tak dipenuhi, massa yang dikoordinir FUI yang kembali menggelar demonstrasi besar-besaran di sekitar Istana Presiden pada Jumat (31/3/2017).

Dituntut 1 Tahun Penjara dengan Masa Percobaan 2 Tahun

Dalam sidang ke-20 kasus dugaan penodaan agama yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/4/2017), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti melakukan perasaan kebencian di muka umum dan menyinggung golongan tertentu.

“Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama terbukti bersalah menyatakan perasaan kebencian,” ujar ketua tim jaksa Ali Mukartono.

Ahok dianggap jaksa terbukti melakukan penodaan agama karena menyebut Surat Al-Maidah saat bertemu dengan warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Penyebutan Surat Al-Maidah ini, menurut jaksa, dikaitkan Ahok dengan Pilkada DKI Jakarta.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun,” ujar jaksa.

Ahok menyampaikan pledoi (pembelaan) dalam sidang  ke-21, Selasa (25/4/2017) di tempat yang sama.  Dalam pledoi yang berjudul Tetap Melayani Walaupun Difitnah, Ahok mengibaratkan dirinya sebagai ikan kecil Nemo yang berenang di Jakarta.

Pengadilan Negeri Jakarta Utara akan menggelar sidang ke-22 penistaan agama di auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017). Dalam kesempatan itu majelis hakim akan membacakan putusan.

Iklan Kampanye Ahok Sudutkan Umat Islam

Sebelum ‘meledak’ kasus penodaan agama, Ahok resmi menjadi calon gubernur pada Pilkada DKI 2017. Ia berduet dengan Djarot Saiful Hidayat. Pasangan Ahok-Djarot diusung PDI-P, Nasdem, Hanura, dan Golkar. Duet Ahok-Heru secara resmi dideklarasikan pada Selasa  (20/9/2016).

Ahok-Djarot bersaing dengan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Agus-Sylvi diusung Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PKB. Sedangkan Anies-Sandi diusung Gerindra dan PKS.

Agus-Sylvi mendapat nomor urut 1, Ahok-Djarot memperoleh nomor urut dua, dan Anies-Sandi mendapat nomor urut 3.

Pemungutan suara Pilkada DKI dilakukan pada 15 Februari 2017. Kubu Ahok-Djarot menargetkan menang satu putaran. Tetapi, kenyataan tak semanis harapan.

KPU DKI  Senin (27/2) mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, yakni Agus-Sylvi memperoleh  937.955 suara atau 17,05%, Ahok-Djarot (nomor urut 2) mendapat 2.364.577 (42,99%} dan Anies-Sandi (nomor urut 3) memperoleh  2.197.333 ( 39,95%).

Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) KPU DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua pada Rabu (19/4).

Maksud hati merebut simpati masyarakat melalui video iklan kampanye bertema bhineka tunggal ika untuk Pilkada DKI 2017 putaran kedua. Namun, fakta tak seindah harapan. Video kampanye Ahok-Djarot itu banjir kecaman dari para netizen.

Ahok memposting video kampanye yang diberi hastag #BeragamItuBasukiDjarot di akun Twitternya, @basuki_btp, Sabtu (8/4). (Baca: Hastag #IklanAhokJahat Jadi ‘Trending Topic’ di Twitter)

Di dalam video yang viral tersebut tampak sekumpulan warga yang berpeci dan berbaju muslim. Di bagian belakangnya tampak pula spandung bertuliskan ‘Ganyang Cina’. Sehingga video tersebut dianggap sebagai sebuah upaya menyudutkan umat Islam.

Di luar perhitungan Ahok, video tersebut menuai protes dari para netizen. Pada Sabtu (8/4) hingga Minggu (9/4) muncul hastag #KampanyeAhokJahat di Twitter yang berisikan kecaman terhadap video itu. Tak berhenti sampai di situ. Para netizen kembali ‘menghajar’ Ahok dengan hastag #IklanAhokJahat yang menjadi trending topic di Twitter, Senin (10/4). Pantauan Obsessionnews.com, hastag #IklanAhokJahat masih bertengger di trending topic pada Selasa (11/4) hingga pukul 7.42 WIB.

Melihat reaksi keras dari para netizen, Ahok kemudian menghapus video kampanye yang rasis itu di akun Twitternya, Selasa (11/4). Namun, video tersebut masih dapat dijumpai di YouTube.

Ahok-Djarot Tumbang

Di pemilihan putaran kedua, Rabu (19/4), Ahok-Djarot mendapat tambahan dukungan dari PPP dan PKB. Sebelumnya kedua partai berbasis Islam ini mendukung Agus-Sylvi di putaran pertama.

Dan secara mengejutkan Ahok-Djarot kalah. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi, Minggu (30/4). Anies-Sandi memperoleh 3.240.987 suara atau 57,96%. Sedangkan Ahok-Djarot mendapat 2.350.366 suara atau 42,04%.

Jumat (5/5) KPU DKI menetapkan Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Anies-Sandi akan dilantik pada Oktober mendatang untuk periode 2017-2022.  (arh)

 

Baca Juga:

Aksi Simpatik 55 Dukung Ahok Sampai ke Penjara

Bang Japar Buka Posko Logistik Aksi Simpatik 55

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.