Rabu, 22 September 21

Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ Tumbang di Pilkada DKI 2017 (Bagian 1)

Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ Tumbang di Pilkada DKI 2017 (Bagian 1)
* Peluncuran buku “Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’” di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5/2016). (Foto: (Kompas.com/David Oliver Purba)

Jakarta, Obsessionnews.com – Basuki Tjahaja Purnama dikenal gemar mengumbar kata-kata kasar. Di berbagai kesempatan Gubernur DKI Jakarta yang akrab disapa Ahok ini tak segan-segan mengeluarkan kata-kata tak sopan di saat emosi.

Umpatan mantan Bupati Belitung Timur itu menginsipirasi dua penulis, Maksimus Ramses Lalongkoe dan Syaefurrahman Al-Banhary, membuat buku yang berjudul Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’. Buku tersebut diluncurkan di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5/2016).

Yang menarik, menurut sang penulis, Ahok tak keberatan terhadap judul buku yang kontroversi itu.

Lho, kok bisa?

Kata ‘bajingan’ dalam judul tersebut dimaksudkan dalam perspektif positif, yakni Ahok  yang berani untuk mempertanggungjawabkan seluruh keputusan yang dia ambil.

Maksimus menjelaskan, kata ‘bajingan’ di judul buku tersebut melambangkan Ahok yang dinilai adalah sosok pemimpin yang mampu mengatasi para penjahat kerah putih yang dinilai tidak mampu dijinakkan oleh pemimpin lainnya. Maksimum menyebut buku tersebut memuat isi dari perspektif komunikasi.

“Buku ini adalah jembatan antara masyarakat dan pemimpinnya. Dan kami melihat dari sisi komunikasi,” ujar Maksimus dalam acara peluncuran buku tersebut.

Sebelum menerbitkan buku tersebut, penulis lainnya Syaefurrahman mengatakan ada ketakutan ketika pihaknya mendatangi Ahok. (Sumber 1)

“Kami takut ditolak oleh Pak Ahok karena ada kata kata-kata ‘bajingan’ di dalamnya. Pada saat itu saya siap-siap untuk menarik buku itu jika Pak Ahok tidak setuju,” ujar Syaefurrahman.

Dalam pertemuan tersebut, Syaefurrahman mengatakan bahwa Ahok tidak keberatan adanya buku itu. Tetapi Ahok sedikit terkejut ketika melihat judul yang dipakai di buku tersebut. (Sumber 2)

“Dia tidak keberatan, waktu ngobrol dia bilang ‘Wah, saya bajingan ya?’ Udah tersenyum saja,” ujar Syaefurrahman.

Selain itu, yang membuat Syaefurrahman yakin bahwa Ahok tidak keberatan hadirnya buku itu adalah Ahok mau menandatangani beberapa buku yang disodorkan ke Ahok. Dirinya menilai tidak akan ada tuntutan pencemaran nama baik dari Ahok jika buku tersebut diterbitkan ke publik.

“Beliau tanda tangan, ya sudah, artinya kami lepas dari tuntutan hukum. Ini kan menyangkut karakter orang, makanya kami lakukan audiensi,” ujar Syaefurrahman.

Di sampul buku tersebut terpampang wajah Ahok dengan tubuh seorang super hero Marvel yaitu Spiderman. Tampak super hero berkostum merah biru itu tengah melompat menebar jaring laba-laba.

Mengapa Spiderman yang mempunyai kekuatan jaring laba-laba dipakai pada sampul buku tersebut?

Maksimus mengungkapkan, pemilihan tokoh Spiderman yang dijadikan sampul buku melambangkan kepemimpinan Ahok bak pahlawan yang berani menentang seluruh kebijakan yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran. (Sumber 3)

“Kenapa harus Spiderman, karena menurut kami penulis, Ahok itu orang yang selama ini sangat berani menentang semua orang yang menurut dia tidak setuju dengan jalan yang dia lalui, salah satunya dengan pemberantasan korupsi, bahkan BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) sekalipun dia tantang,” ujar Maksimus.

Sedangkan kekuatan jaring, lanjutnya, untuk menangkap para penjahat dan koruptor yang ingin bermain mata di pemerintahan DKI.

Sementara itu Syaefurrahman mengatakan makna jaring tersebut juga bisa berbalik kepada Ahok jika tidak berhati-hati antara tindakan dan ucapan.

“Kalo tidak sama antara omongan dan tindakan, jaring juga akan mengenai Ahok, jadi dia harus hati-hati,” ujarnya.

Sejuta KTP untuk Ahok

Buku Ahok Sang Pemimpin ‘Bajingan’ boleh dikata sebagai promosi bagi Ahok untuk maju di Pilkada DKI 2017. Sebelumnya muncul gerakan sejuta KTP untuk Ahok untuk maju di Pilkada DKI 2017. Gerakan ini digagas oleh anak-anak muda eks relawan Joko Widodo (Jokowi)-Ahok pada Pilkada DKI 2012.

Seperti diketahui duet Jokowi-Ahok memenangkan Pilkada DKI 2012 untuk memimpin DKI periode 2012-2017. Ketika itu Jokowi-Ahok diusung PDI-P dan Partai Gerindra. Jokowi merupakan kader PDI-P, sedangkan Ahok kader Gerindra.

Belum habis masa baktinya menjadi Gubernur DKI, Jokowi maju di Pilpres 2014. Ia berduet dengan mantan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK). Duet Jokowi-JK diusung PDI-P, Nasdem, PKB, dan Hanura. Secara mengejutkan Jokowi-JK mengalahkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung Gerindra, PAN, PKS, dan PPP.

Jokowi-JK dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI pada Oktober 2014. Kursi Gubernur DKI yang ditinggalkan Jokowi kemudian diduduki oleh Ahok. Ahok dilantik menjadi Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi pada 19 November 2014.

Sebulan setelah menjadi orang nomor satu di DKI, Ahok menyatakan keluar dari Gerindra. Pasalnya, ia berbeda pendapat dengan partainya itu tentang Pilkada serentak 2015. Ahok menginginkan Pilkada 2015 dipilih langsung oleh  rakyat. Sedangkan Gerindra  menginginkan Pilkada dipilih oleh DPRD.

Setelah angkat kaki dari partai besutan Prabowo Subianto tersebut Ahok tak menjadi kader partai politik (parpol) apapun.

Pada April 2015 sejumlah anak muda mendeklarasikan relawan Teman Ahok. Mereka menginginkan Ahok menjadi calon gubernur pada Pilkada DKI 2017 melalui jalur independen. Untuk itu mereka menggalang pengumpulan sejuta KTP  sebagai syarat untuk dapat mengikuti Pilkada 2017.

Menurut Amalia Ayuningtyas, salah seorang pendiri Teman Ahok, mereka khawatir tak ada parpol yang mengusung Ahok karena Ahok tak menjadi kader parpol apapun. Sementara Teman Ahok menilai Ahok berpotensi menang di Pilkada 2017. Untuk itu Teman Ahok mengupayakan agar Ahok bisa ikut berkompetisi di Pilkada 2017 melalui jalur independen. Untuk itu mereka berupaya mengumpulkan sejuta KTP sebagai syarat untuk calon independen.

Masih kata Amalia, gerakan pengumpulan sejuta KTP ini dilakukan tanpa izin dari Ahok. Skenario yang dirancang Teman Ahok adalah bila telah terkumpul sejuta KTP barulah mereka ingin bertemu dengan Ahok, dan minta Ahok maju lewat jalur independen.

Aksi pengumpulan sejuta KTP mulai dilakukan pada Mei 2015. Pelan tapi pasti manuver Teman Ahok mendapat sambutan dari warga. Popularitas Ahok yang tengah melejit ikut andil mempermudah Teman Ahok mengumpulkan KTP.

Awalnya Ahok kurang peduli pada aksi Teman Ahok. Namun, setelah mendapat informasi telah terkumpul lebih dari sejuta KTP, Ahok mengundang lima pendiri termasuk Amalia Ayuningtyas, ke Balai Kota, Senin (25/1/2016). Dalam kesempatan itu Teman Ahok melaporkan sudah mengumpulkan 630 ribu fotokopi KTP. (Sumber 4)

Ahok, kata Amalia, saat itu memberi semangat dan sekaligus menantang Teman Ahok untuk secepatnya mengumpulkan sejuta KTP. Nanti setelah terkumpul akan deklarasi cagub independen.

Setelah bertemu dengan Ahok, Teman Ahok semakin bersemangat mengumpulkan KTP. Ketika perolehan KTP mencapai angka 774.452, Teman Ahok berkonsultasi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI. Pihak KPU menjelaskan, perolehan KTP itu tak memenuhi syarat, karena di formulir dukungan hanya tercantum dukungan hanya untuk Ahok, tidak ada calon wagub. Semestinya formulir dukungan untuk cagub-cawagub. (arh)(Bersambung)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.