Minggu, 7 Juni 20

Ahmad Dahlan Tantang Pendeta Keluar dari Agama Masing-masing

Ahmad Dahlan Tantang Pendeta Keluar dari Agama Masing-masing
* Kiai Haji (KH) Ahmad Dahlan.

Obsessionnews.com – Kiai Haji (KH) Ahmad Dahlan memiliki semangat purifikasi untuk menjernihkan ajaran Islam dari pengaruh ajaran-ajaran dari luar. Kiai Dahlan dianggap sebagai kafir, karena sering menyelisihi pendapat-pendapat ulama semasanya.

Namun,  dalam menjalin pergaulan Dahlan tetapi cair dan menerima sumbang-saran dan kritik dari pihak luar.

Dalam catatan Riwayat Hidup KH Ahmad Dahlan yang disusun oleh Yunus Anis pada tahun 1968, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Rabu (13/11/2019) diterangkan pergaulan yang dilakukan oleh bapak Pendiri Muhammadiyah ini sangat cair.

Bukan hanya dengan sesama internal umat Islam, tapi diskusi dan debat untuk mencari kebenaran dan kebaikan juga dilakukan dengan tokoh-tokoh dari agama lain.

Di antara tokoh eksternal Islam yang pernah bertemu dan saling beradu argumen mengenai kebenaran atas agama dan ketuhanan adalah pendeta Van Lith yang dilakukan hanya sekali karena setelahnya pendeta tersebut meninggal dunia.

Pertemuan dengan Van Driesse juga hanya terjadi sekali, karena pendeta ini memiliki sikap yang kasar, tidak bisa diajak dialog dan bertukar pikiran. Pertemuan tersebut dilakukan di rumah M Djojosumarto.

Pertemuan yang paling dikenang oleh khalayak adalah ketika pertemuan Kiai Dahlan dengan Domine Bakker yang dilakukan di daerah Jetis.

Pertemuan antara keduanya berlangsung berkali-kali, disebabkan Domine Bakker berbelit-belit dalam menyampaikan argumentasi dan enggan mengakui kekalahan atas argumen yang disampaikan oleh Dahlan.

Pada titik tersebut muncul kalimat tantangan yang terkenal oleh Dahlan, yakni,”Marilah kita sama-sama keluar dari agama, kemudian mencari/menyelidiki agama mana yang benar. Kalau ternyata kemudian agama Protestan yang benar, saya sanggup masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila agama Islam yang benar. Domine pun harus masuk agama Islam.”

Namun Domine tidak berani menerima tantangan tersebut, dan memilih kembali ke Belanda. Berkat keberanian Dahlan, dua orang pengikut Domine dari Klaten akhirnya masuk Islam.

Ada juga pendeta Dr Zwijmer yang memiliki wilayah kerja untuk menyebarkan agamanya di Asia. Zwijmer dikenal memiliki pemahaman yang luas dalam khotbah yang disampaikan sering menghina agama Islam.

Mendengar kabar Zwijmer akan berkunjung ke Indonesia dan salah satu kota yang dikunjunginya adalah Yogyakarta, Dahlan menyambutnya dan menyediakan forum untuk tanya jawab dengannya.

Namun Zwijmer tidak menemuinya. Kendati demikian Dahlan dalam forum tersebut tetap berkhotbah dan menyampaikan perihal kesempurnaan agama Islam.

Karena ketidakhadiran  Zwijmer oleh Ki Hadjar Dewantoro dianggap kalah dari Dahlan. Hal ini ditulis oleh Ki Hadjar dalam surat kabar Darmo Kondo di Solo.

Tantangan juga datang dari tokoh internal Islam, di antaranya dari Kiai Termas. Ketika Dahlan menyampaikan maksudnya untuk mendirikan Muhammadiyah, Termas menyambutnya dengan ucapan, “Tunggu dan lihat saja, kalau Muhammadiyah yang digerakkan oleh KH Dahlan itu bisa langsung sampai 5 tahun, adalah betul sungguh-sungguh.”

Namun nada sindiran tersebut mampu dijawab oleh Dahlan dengan bukti Muhammadiyah bisa bertahan sampai sekarang.

Keluwesan pergaulan Dahlan juga pernah dirasakan oleh kiai dari Jombokan (Kulonprogor) yang tidak disebutkan namanya. Ketika hendak menjalankan shalat Jumat Dahlan bertemu dengan dengan tersebut dan bertanya,“Bagaimana saja akan ber-Jumatan, padahal saya tidak membawa jubah yang membikin mantap hati saya, Jumatan dengan jubah?”

Maka, Kiai Dahlan mengajak ke rumahnya dan membukakan lemarinya kemudian dipersilakan untuk memilih jubah yang diinginkan.

Ketika Syaikh Ahmad Soorkati melakukan perjalanan dengan kereta dari Jakarta menuju ke Surabaya, melewati Solo dan Yogyakarta. Di tengah perjalanan ia melihat sesorang yang duduk di bangku kereta sambil membaca Kitab Tafsir yang ditulis oleh Muh Abduh. Soorkati tertarik dan ngobrol panjang dengan orang tersebut. Di kemudian hari Soorkati mendirikan Al Irsyad dan orang tadi mendirikan Muhammadiyah.

Kisah di atas adalah bagian dari potongan kisah pergaulan antara KH Ahmad Dahlan dengan lintas tokoh, dan masih banyak yang lainnya.

Keterbukaan dan cairnya pergaulan yang dimiliki oleh Dahlan merupakan pengaruh dari profesi yang digelutinya, yakni pedagang.

Sebagai seorang pedagang secara tidak langsung turut mencetak KH Ahmad Dahlan sebagai public speaker yang mumpuni. Interaksi yang dilakukan sebagai ‘meja-meja pendidikan’ dalam menempa kemampuan berbicaranya.

Meskipun demikian Dahlan tidak sembarangan mengobral pembicaraan. Kebiasaan ini lumrah didapati pada seorang Jawa. (Vina Agustina)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.