Senin, 23 November 20

Agus Hermanto: Dokter Terawan Mestinya Dikasih Penghargaan, Bukan Diberhentikan

Agus Hermanto: Dokter Terawan Mestinya Dikasih Penghargaan, Bukan Diberhentikan
* Wakil Ketua DPR Agus Hermanto

Jakarta, Obsessionnews.com – Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto ikut berkomentar soal polemik pemecatan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) Mayjen TNI Terawan Agus Putranto sebagai dokter oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Terawan merupakan dokter yang mengenalkan metode “cuci otak” untuk mengatasi penyakit stroke.

Namun karena metode barunya itu, ia justru mendapat sanksi dari IDI. Agus menilai, inovasi Terawan memberikan manfaat bagi banyak orang, khususnya penderita stroke. Sehingga para penderita stroke bisa diselamatkan.

“Kita ketahui dokter Terawan ini seorang dokter yang berjasa sehingga memberikan DSA (Digital Substracion Angiography) yang di sini dapat menolong pasien supaya terhindar dari stroke,” ujar Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Menurut Agus, seharusnya IDI memberikan penghargaan atas upaya dokter Terawan. Sebab, metode Digital Substracion Angiography (DSA) tak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Bukan malah sebaliknya diberhentikan. Ia sendiri bangga Indonesia memiliki dokter seperti Terawan.

“Rasanya kita sebagai bangsa Indonesia apabila ada masyarakat yang punya prestasi gemilang, diakui bukan hanya di Indonesia, di luar negeri pun juga sudah banyak yang mengakui, tentunya ini harusnya diberikan penghargaan dan diberikan hal yang terbaik, bukannya hambatan,” kata Agus.

Ia sendiri mengaku pernah menjadi pasien dokter Terawan. Agus mengungkapkan, metode “cuci otak” memberikan efek yang positif terhadap dirinya. “Saya pun pernah menjadi pasien dokter Terawan dan hasilnya cukup bagus, cukup menggembirakan,” ujar dia.

Sebelumnya, Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sidipratomo mengungkapkan, pemberhentian sementara dilakukan karena Terawan dianggap melakukan pelanggaran kode etik kedokteran.

“Pelanggaran kode etik itu yang pasti kami tidak boleh mengiklankan, tidak boleh memuji diri, itu bagian yang ada di peraturan etik. Juga tidak boleh bertentangan dengan sumpah doker,” ujar Prijo dalam wawancara yang ditayangkanKompas TV, Selasa (3/4/2018).

Dalam surat IDI yang beredar, pemecatan sementara terhadap Terawan sebagai anggota IDI berlaku selama 12 bulan, yaitu 26 Februari 2018-25 Februari 2019. Selain diberhentikan sementara, rekomendasi izin praktik Terawan juga dicabut. Metode yang dipakai Terawan menurut IDI tidak ada dalam ilmu kedokteran. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.