Rabu, 29 Januari 20

Agung atau ARB Jadi Ketum, Pasca Islah ?

Agung atau ARB Jadi Ketum, Pasca Islah ?

Agung atau ARB Jadi Ketum, Pasca Islah ?

Renacananya, Rabu  (24/12) kedua juru runding dari dua kubu Partai Golkar yang sedang berkonflik akan bertemu dan segera memulai perundingan. Di sela-sela perundingan kabarnya forum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar yang dipimpin Ridwan Bae akan bertemu dengan Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar versi Ancol, Jakarta Agung Laksono, Kamis (25/12), Pertanyaan dan persoalannya adalah siapakah yang bakal dipilih menjadi Ketum Golkar pasca Islah?

Kemungkinan siapa yang bakal menjadi orang nomor satu di partai beringin sesudah islah tercapai, sampai sekarang  memang masih sulit diprediksi. Karena baik kubu Agung Laksono maupun blok Aburizal Bakrie (ARB) sampai saat ini masih ngotot, dan tidak ada tanda-tanda mau mengalah. Jadi sepertinya masih menunggu hasil perundingan, dan perundingan sendiri baru akan dilaksanakan Rabu mendatang.

Kita mungkin  baru dapat mengambil asumsi ketika perundingan telah berlangsung, atau paling mendekati kebenaran jika memprediksinya sesudah perundingan memdekati kesepakatan. Sementara ini, kubu Agung membawa agenda di perundingan tersebutng antara lain, agar Golkar menerima Perppu Pilkada langsung, membubarkan Koalisi Merah Putih (KMP), Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung, dan mendukung Pemerintahan Jokowi- HM Jusuf Kalla (JK).

Akan halnya kubu ARB membawa agenda, antara lain Golkar menolak Perppu Pilkada (meskipun pada akhirnya mereka menerima Perppu tersebut, yakni setelah Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono merapat kepada Presiden Jokowi), tetap berada di KMP, Pilpres hanya dilakukan oleh MPR, bukan rakyat memilih langsung, dan memilih berada di luar pemerintahan,

Memang untuk memprediksi dengan tepat saat ini rasanya terlalu dini, namun begitu kita dapat menimbang beberapa hal yang mungkin dapat dijadikan semacam acuan dalam prediksi kita nanti. Pertama, tentunya melihat trend masyarakat pemilih, apa yang dimaui rakyat harus betul-betul ditangkap para juru runding, atau mereka yang dipercaya untuk menyelesaikan pergolakan di internal Golkar. Ini sangat penting diperhatikan, jika Golkar tidak ingin terpuruk di Pemilu 2019.

Kedua, menyangkut tradisi partai beringin yang selalu berendeng dengan pemerintah, atau selalu berada di dalam pemerintahan. Ini mesti jadi bahan pemikiran dan pertimbangan, karena Golkar adalah partai tua yang tentu saja banyak akarnya di pemerintahan. Setidaknya mereka yang pernah menikmati kejayaan partai ini pasti rasa simpati masih tetap ada, dan ini akan sangat sulit dilupakan.

Ketiga, tentunya Golkar ke depan perlu dipimpin orang yang punya integritas, berani dan tegas dalam bersikap, konsisten dan konsekwen. Pertanyaannya adalah apakah diantara mereka yang sedang berkonflik memiliki criteria semacam itu? Keriteria ketiga ini menjadi sangat penting karena ke depan Golkar harus bangkit dari keterpurukan. Kalau pemimpinnya tidak memiliki integritas, pemimpinnya tidak tegas, Golkar mau menjual apa untuk menarik simpati konstituen.

Terus terang sekarang Golkar sudah habis-habisan, partai beringin tidak saja menjadi gunjingan yang kurang menyenangkan di tengah public, namun juga telah menjadi bahan pelecehan dan ledekan baik kawan maupun lawan politik. Karena itu Golkar mesti perlu perubahan dan pembenahan. Artinya, kalau tetap mempertahankan yang lama, sama saja Golkar bunuh diri. Akhirnya, silahkan simpulkan sendiri, pilih Agung atau ARB, terserah saja. (Arief Turatno, wartawan senior)

 

Related posts