Jumat, 30 Oktober 20

Agony Cinta untuk Perawat Orang-orang Hilang Ingatan

Agony Cinta untuk Perawat Orang-orang Hilang Ingatan
* Penulis dan seorang perawat orang hilang ingatan di Makkah. (Foto: Helmi Hidayat)

Tidak semua pasien hilang ingatan itu tentu membuat kesal. Laila bercerita dengan geli bagaimana Nana dan Nini, pasangan suami istri asal Cimahi, Jawa Barat, berbagi kasih abadi justru di klinik isolasi ini. Nana adalah lelaki berusia 72 tahun, sedang Nini adalah perempuan beranjak dewasa berusia 69 tahun. Nini sangat pencemburu. Di alam bawah sadarnya ia selalu ketakutan suaminya jatuh hati pada setiap perempuan. Karena itu nenek ini selalu menaruh curiga pada pasien baru, apalagi jika dia adalah perempuan agak muda. ‘’Pokoknya dia curiga terus deh. Sampai suaminya masuk WC, dia ikut,’’ jelas  perempuan yang pernah bekerja di RS Rafa dan RS Al-Abir, Arab Saudi, itu.

Mengapa banyak jemaah haji, terutama mereka yang sudah uzur, mengalami hilang ingatan?

Menurut Ellya Fadillah, perawat di RSJ Grogol, Jakarta Barat, mereka hanya mengalami gangguan mental organik. Kata perawat yang baru sekali menjadi petugas haji ini, gejala ini kerap terjadi akibat pasien awalnya mengalami disorientasi lingkungan, misalnya lingkungan yang lebih modern dan membingungkan.

Penjelasan lebih ilmiah disampaikan oleh dr. Erwinsah MH (kes), ketua Tim Gerak Cepat Sektor Enam Mahbas Jin. Kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Makassar) ini, apa yang dialami para pasien uzur di Makkah itu lebih tepatnya disebut demensia. ‘’Itu sebetulnya hanya sindrom yang mengakibatkan menurunnya kinerja otak pada orang lanjut usia. Daya ingat, daya berpikir, kecerdasan mental, semua menurun,’’ jelas Erick, panggilan akrabnya.

Subhaanallah. Sampai di sini saya jadi teringat firman Allah SWT dalam Quran surat Yaa Sin (36) ayat 68. ‘’Barangsiapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Apakah mereka tidak mengerti?’’

Tapi, benarkah sebab dari semua kasus hilang ingatan yang membuat penderitanya kembali ke alam bawah sadar itu disebabkan faktor ilmiah demensia belaka. Erna dan Laila kontan menolak. Kata dia, ada satu pasien dari Jawa Tengah yang tak sembuh-sembuh kendati bebarapa dokter sudah menanganinya. Setelah semua cara sudah ditempuh, akhirnya kepada istrinya yang selalu setia menungguinya di klinik ditanyakan apakah suaminya punya ‘’sesuatu yang spesial’’.  Si istri membenarkan. Dia lalu menelepon keluarganya di Jawa Tengah agar membakar ‘’sesuatu spesial’’ milik suaminya segera.

Ajaib. Esok harinya sang suami sembuh total dan diizinkan pulang!

Cerita tentang Erna dan Laila tak hanya menarik karena bisa dilihat dari berbagai perspektif, tapi juga bakal menjadi balada Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang akan disenandungkan terus-menerus di Tanah Air. Bayangkan, keduanya sama tak lulus SMA atau yang sederajat, tapi bisa bertahan hidup  di atas 15 tahun di Arab Saudi. Keduanya pernah bekerja di rumah sakit Arab Saudi dan karena itulah mereka diterima menjadi petugas haji di KKHI.

Kendati Erna patah hati akibat orangtuanya melarang dia menikah dengan kekasih hatinya, toh perempuan ini dengan setia mengirim sejumlah riyal ke Tanah Air. Pun halnya Laila. Di tengah penderitaan dan pengorbanan tiada tara, keduanya adalah pahlawan devisa yang loyal dan setia.

Karena itu, jika bukan elegi cinta yang bisa saya ungkapkan untuk mereka, apa lagi? Sederet pernyataan simpati yang telah saya tumpahkan dan Anda baca ini rasanya tak cukup mewakili penderitaan, kesabaran, juga pengorbanan mereka.

Untuk Erna, Laila dan beribu tenaga kerja perempuan lainnya yang berjuang bersama semangat dan air mata, dari Tanah Suci Makkah aku titipkan agony cinta…

(Helmi HidayatKonsultan Ibadah PPIHDosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

Sumber: kemenag.go.id

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.