Sabtu, 27 November 21

Agar Produk Asli Lokal Tak Punah, Bekraf Amanahkan IKKON

Agar Produk Asli Lokal Tak Punah, Bekraf Amanahkan IKKON

Jakarta, Obsessionnews – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) di Hotel Morrissey, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2016). Diharapkan, program IKKON 2016, yang lebih memfokuskan pada sub sektor mode, desain produk, desain interior, dan desain komunikasi visual ini dapat mengembangkan potensi kain tradisional di masing-masing daerah.

Saat ini Tim IKKON 2016 terdiri dari para desainer mode, desainer produk, desainer komunikasi visual, desainer interior, arsitek, antropolog, fotografer, videografer, programmer, ahli komunikasi dan didampingi oleh mentor dan koordinator tim.

“Tim inilah yang secara langsung akan berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif di berbagai wilayah potensial di Indonesia,” kata Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Abdur Rohim Boy Berawi dalam jumpa pers.

Ruang lingkup Program IKKON meliputi seluruh bidang sub sektor ekonomi kreatif yaitu, aplikasi dan pengembangan permainan digital, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, mode, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa dan televisi radio.

Sementara, penentuan lokasi IKKON 2016 berdasarkan permintaan dari Pemerintah Daerah atas persetujuan Bekraf. Untuk tahun ini IKKON 2016 akan dilaksanakan di 5 (lima) daerah yaitu Sawahlunto (tenun), Lampung (tapis), Brebes (batik), Rembang (batik), Ngada- Flores (tenun).

Proses penempatan peserta program IKKON di lokasi yang dituju, tidak dimaksudkan untuk menggurui, namun justru untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan dalam menciptakan peluang terjadinya kolaborasi antara peserta IKKON dengan para pelaku kreatif lokal.

Proses saling belajar ini diharapkan berdampak positif bagi munculnya karya-karya atau produk-produk baru yang memiliki nilai tambah, tanpa menghilangkan keunikan ciri-ciri lokal.

Setiap peserta dan para forografer yang ikut diwajibkan membuat catatan harian kemajuan program kegiatan yang diampunya dan mengunggahnya ke media sosial secara berkala.

Para videografer juga diharuskan mengunggah hasil dokumentasinya secara berkala melalui youtube. Dengan demikian masyarakat akan dapat melihat apa yang dilakukan oleh para peserta selama di daerah penugasan masing-masing.

Setelah proses kolaborasi usai, peserta diharapkan mampu mensosialisasikan hasil-hasil dari Program IKKON melalui pameran di lokasi masing-masing, yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah, K/L dan instansi-instansi lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk melakukan tindak lanjut terhadap hasil-hasil dari Program IKKON tersebut.

Kolaborasi ini diharapkan membantu menciptakan habitat kreatif yang kondusif, dapat juga meningkatkan kreativitas dan produktivitas serta memberikan wadah bagi para desainer/pelaku kreatif lokal untuk menggali inspirasi baru dalam berkarya dari kekayaan budaya lokal.

Selain itu, diharapkan terbangun jejaring industri kreatif seperti resource & information sharing dan knowledge & skill exchange antara potensi kreatif lokal serta rantai nilai lainnya yang terlibat dengan peserta program IKKON.

Sementara salah satu disainer muda Fira yang ikut program IKKON ini menjadikan sebagai tantangan dan menggali informasi soal budaya lokal.

“Menurut saya program ini akan berlangsung secara keterusan, dan ini hal yang menantang. Saya juga tertarik lagi mempelajari budaya kita, mungkin rasa penasaran juga. Dengan kemampuan yang saya serap, saya ingin coba berkoloborasi dengan perajin di desa. Lalu menanyakan impian mereka itu apa?” tandasnya.

Selain itu, anggota Indonesian fashion chamber (IFC) yang juga Perwakilan sharing committee , Dina Midiani yang turut hadir menyambut baik program dari Bekraf ini.

“Program ini impian. Tidak hanya berkoloborasi dengan disainer mode, tetapi juga disainer yang lain, diharapakana dapat menciptakan sesuatu,” ucapnya.

Diketahui, lanjut Dina, sebelumnya disainernya saja yang muncul, tapi daerahnya kurang dapat yang terbaik. Tetapi ini bagaimana daerah itu akan menjadi berkembang. (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.