Senin, 14 Oktober 19

Ada yang Minta Uang Rp2,5 Miliar untuk Kongres Demokrat 2010

Ada yang Minta Uang Rp2,5 Miliar untuk Kongres Demokrat 2010

Jakarta – Dalam sidang lanjutan terdakwa Anas Urbaningrum, ‎Mantan Kepala Divisi Konstruksi 1 PT Adhi Karya (AK‎) Teuku Bagus Mokhamad Noor membenarkan jika ada tiga orang meminta uang kepada dirinya sebesar Rp 2,5 milyar untuk kepentingan Kongres di Bandung 2010 yang lalu.

Ketiga orang tersebut yakni Indrajaya Manopol selaku Direktur Operasi PT AK, Munadi Herlambang selaku simpatisan Partai Demokrat, dan Muchayat selaku salah satu Deputi di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

‎”Kalau tidak salah (uang untuk terdakwa) sejumlah Rp 2,2 miliar sekian. Itu lewat tiga orang. Sebesar Rp 500 juta melalui Indrajaya Manopol. Kemudian, Muchayat meminta saya untuk memberikan Rp 200 juta demi kepentingan kongres. Terakhir Munadi Herlambang ada tiga kasbon jumlahnya 1,5 miliar kalau tidak salah yang digunakan untuk bayar beberapa fasilitas terkait kongres di Bandung,”‎ ujar Teuku saat memberikan saksi untuk terdakwa Anas, di Pengadilan, Tipikor, Senin (30/6/2014).

‎Mendengar hal itu, Anas lantas menanyakan, apakah saudara saksi tahu, jika uang tersebut ternyata diberikan untuk dirinya. Teuku mengaku tidak tahu.

“Tidak tahu, yang saya tahu mereka minta uang itu untuk keperluan Kongres Demokrat, apakah uang itu sampai ke terdakwa saya tidak tahu,” katanya.

Teuku juga mengatakan, tidak pernah mengkonfirmasi lagi apakah uang tersebut sudah digunakan untuk Kongres Demokrat atau belum. “Saya juga nggak pernah konfirmasi lagi,” sambungnya.

Lebih lanjut, Teuku mengatakan,‎ dirinya mau memberikan uang tersebut, karena merasa takut dengan atasnya Indrajaya Manopol. Ia mengaku sangat loyal jika atasnya yang perintah. Padahal secara pribadi ia mengatakan tidak kenal dengan Anas dan belum pernah ketemu.

“Saya ngasih uang karena saya takut melawan atasan. Saya sangat royal dengan atasan,” katanya lagi.

Mengenai permintaan uang  tersebut, diakui Teuku Bagus mengaku dilakukan dengan cara kasbon ke Kasir Perusahaan PT AK. dan dibebankan dari proyek-proyek lain seperti, Biofarma dan pembangunan Gedung DPR yang akhirnya tidak jadi.

“Karena Indrajaya sebagai Direktur Operasi AK, atasan saya langsung dan beliau meminta itu (uang untuk Anas), lazimnya kita memberikan. Kami sediakan dana itu dan saya sendiri yang memberikan dalam bentuk dolar ke pak Indrajaya,” ujarnya‎.

Menurut Teuku, Munadi pernah mengatakan yang bersangkutan meminta bantuan untuk Kongres Partai Demokrat (PD). Terutama, untuk membayar hotel, pembelian Blackberry (BB) beserta nomornya untuk peserta kongres pendukung Anas.

“Setelah proyek Hambalang didapat, Munadi menemui kami terkait kongres terutama untuk pembayaran hotel. Munadi minta ke kami untuk membantu pelaksanaan Kongres PD di Bandung dan dana tersebut oleh Munadi direncanakan untuk membayar hotel,” ungkap Teuku Bagus.

Munadi sendiri disebut minta uang sebesar Rp 1,5 milyar.Sedangkan Muchayat meminta uang Rp 200 juta untuk penyewaan mobil peserta kongres PD yang mendukung Anas. Posisi Indrajaya disebut sebagai pemberi perintah kepada Teuku untuk memberikan uang kedua orang tersebut.

“Ketut Dharmawan (Dirut PT PP) menghubungi saya agar bertemu dengannya dan Muchayat di lotus cafe Pondok Indah. Pak Muchayat meminta saya membantu dengan menyewakan beberapa mobil untuk peserta kongres. Minta Rp 200 juta dan serahkan ke Ketut. Lalu, saya. serahkan ke Ketut,” demikian pengakuan Teuku Bagus dalam BAP yang dibenarkan dalam sidang.

Selain merasa takut dengan Indrajaya karena atasnya. Teuku juga mengaku, ‎Indralaya juga dekat dengan Anas saat sama-sama aktif di organisasi pergerakan Himpunan Mahasiswa I‎slam (HMI). Bahkan Indrajaya mengaku bahwa Anas adalah juniornya. Demikan juga Munadi yang mengaku dekat dengan Anas saat menjadi aktivis HMI di Surabaya.

“Munadi bersama Bambang Tri (Direksi PT AK) datang ke ruang kerja saja dan Munadi bercerita bahwa sudah kenal dekat dengan Anas sejak Anas kuliah d Unair. Kedekatan karena Munadi dan Anas ikut sebagai aktifis di HMI. Disamping itu, Munadi juga aktifis PD dan pernah ikut sebagai caleg Demokrat tapi tidk terpilih,” ungkap Teuku Bagus.

Sedangkan, Muchayat disebut dekat dengan Anas karena mantan Ketua Umum PD tersebut adalah anak didiknya di HMI.

Seperti diketahui, dalam surat dakwaan milik Anas disebut bahwa ia menerima uang dari PT Adhi Karya sebesar Rp 2.010.000.000 untuk membantu pencalonan sebagai Ketua Umum dalam Kongres PD tahun 2010.

Uang tersebut dikatakan diserahkan Teuku Bagus M. Noor selaku mantan Kepala Divisi Operasional I PT Adhi Karya melalui Munadi Herlambang, Indradjaja Manopol, dan Ketut Darmawan atas permintaan Muchayat.

Kemudian, uang tersebut dipergunakan antara lain untuk membayar hotel-hotel tempat menginap para pendukung Anas saat Kongres PD di Bandung yaitu Hotel Aston Primera Pasteur, Hotel Garden Permata, Hotel Topas Galeria dan Hotel Grand Aquilla.

Dengan perincian, untuk pembayaran Hotel Garden Permata total biaya yang dikeluarkan oleh pihak Event Organiser PT Bandung Excellent Tours and Travel pada tanggal 19-24 Mei 2010, sebesar Rp 367.274.000.

Kemudian untuk Hotel Aston Primera Pasteur, total biaya untuk penggunaan kamar, banquet dan biaya lain yang dibayarkan oleh Grup Bandung Excellent Tours and Travel pada 16-19 Mei 2010 adalah Rp 87.583.485.

Untuk Hotel Grand Aquila, total pembayaran oleh PT Bandung Excellent Tours and Travel atas penggunaan kamar-kamar dan fasilitas lainnya pada 19-24 Mei 2010 adalah Rp 556.840.982. Lalu untuk Hotel Topas Galeria total penggunaan kamar dan fasilitas lainnya pada 16-25 Mei 2010 adalah Rp 271.374.875.

Selanjutnya, untuk biaya penggunaan kamar-kamar dan fasilitas lainnya di hotel-hotel tersebut berjumlah Rp 1.283.073.342. Tetapi, dibayar sebagian oleh Munadi sebesar Rp 1.007.400.000 yang diterima dari Teuku Bagus Mukhamad Noor. (Abn)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.