Rabu, 5 Agustus 20

Ada Mafia Impor Minyak, Jangan Politisasi Pertamina

Ada Mafia Impor Minyak, Jangan Politisasi Pertamina

Jakarta, Obsessionnews.com – Perubahan susunan Direksi di Pertamina hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pertamina Akhir tahun 2016 sudah melalui mekanisme perusahaan. RUPS Pertamina sepenuhnya adalah hak pemegang saham tunggal yaitu pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Meneg BUMN, Rini Suwarno.

Tata kelola perusahaan yang baik juga telah terlihat dengan melalui proses fit n proper test untuk para Direksi dan Komisaris Pertamina yang sudah di laporkan pada Presiden Joko Widodo. Pertamina merupakan BUMN strategis, dimana setiap akan dan sesudah RUPS harus dilaporkan pada Presiden.

“Terkait sejumlah anggota parlemen dan LSM, mereka tidak punya legal standing sama sekali untuk mempermasalahkan jabatan Wakil Dirut hasil RUPS Pertamina 2016. Sangat tidak tepat dan terkesan anggota parlemen dan LSM gagal paham dalam Cara Cara pengelolahan perusahaan sebesar Pertamina,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono SE dalam keterangan persnya kepada obsessionnews.com, Selasa (31/1/2017).

Menurutnya, hal yang  lazim dan dibutuhkan oleh perusahaan yang sudah sebesar seperti Pertamina dengan aset ratusan trilyun untuk membentuk posisi Wakil Dirut Pertamina dalam jajaran Direksi Pertamina. Sebab, jika tidak maka tugas Dirut akan sangat kerepotan sekali. Akhirnya speed kinerja Pertamina sangat terganggu.

“Jadi kalau mempersoalkan jangan asal ngomong dong sebab terkesan pesanan dari sejumlah kelompok yang diduga barisan mafia impor minyak yang sudah mati langkah dengan kinerja Pertamina yang makin baik dalam hal trading minyak mentah dan BBM impor,” paparnya.

“Tolong jangan politisasi kepemimpinan di Pertamina agar manajemen itu bisa bekerja dengan tenang dan baik!” seru Wakil Ketua Umum Gerindra.

Arief Poyuono menegaskan, tidak ada override tugas dan wewenang  Dirut Pertamina yang di ambil oleh Wakil Dirut. Semua sudah ada tugasnya masing masing. Wakil Dirut kalau dalam manejemen modern hanya sebagai Chief Operational Officer (COO) yang tugasnya lebih banyak tugas internal dan memastikan operasional Perusahaan.

Sedangkan tugas Dirut itu sebagai CEO, jelas dia, adalah merancang dan mengomunikasikan visi perusahaan, yakni merekrut anggota tim, meramalkan tren pasar, menguraikan strategi, bisnis perusahaan, membangun hubungan dengan investor dan mengatur pembiayaan dan anggaran Pertamina.

Apalagi, lanjutnya, sangat disayangkan kalau ada yang menuduh tanpa fakta kalau Pertamina dalam cengkeraman Arie Sumarno, Mantan Dirut Pertamina hanya Karena Menteri BUMN adalah adik Arie Sumarno.

“Ini jelas sebuah cara-cara yang tidak patuh sepertinya, tidak ada campur tangan Arie Sumarno dalam perubahan struktur di Pertamina itu jelas sekali,” jelanya.

“Kalau kedekatan para Direksi Pertamina dengan Arie  itu wajar karena ia memang merintis karir kerja dari Pertamina. Jadi wajar saja juniornya banyak yang dekat dan sering  sharing untuk kemajuan Pertamina,” tambahnya.

Tapi, tegas dia, dari semua ini yang patut kami sayangkan adalah GM Pertamina yang bertugas sebagai Public Relation (PR) terkesan justru membiarkan polemik politisasi Pertamina terjadi dan tidak memberikan penjelasan ke publik.  Ini patut dicurigai apakah dokumen Pertamina yang bocor keluar itu da peran dari mereka.

Karena itu, Arief Poyuono meminta semua pihak jangan politisasi hasil RUPS Pertamina. “Biarkan direksi bekerja dengan tenang tanpa diganggu isu-isu kacangan,” tandas pentolan Gerindra. (Popi Rahim)

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.