Selasa, 24 November 20

Ada Apa, Jutaan Semut Serang Banyumas?

Ada Apa, Jutaan Semut Serang Banyumas?
* Fenomena serangan semut di Banyumas. (Foto: Ist)

Ada fenomena apa ini, jutaan bahkan miliaran ekor semut menyerang daerah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah?

Beberapa hari belakangan ini santer berita di media massa mengenai semut di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas yang sudah menginvasi rumah-rumah penduduk di salah satu RT.

Dosen Fakultas Biologi Unsoed Dr. Trisnowati Budi Ambarningrum, MSi. mengatakan bahkan menurut laporan masyarakat setempat invasi semut sudah mulai merambah ke wilayah RT tetangga. Selain menginvasi rumah-rumah penduduk semut-semut tersebut juga telah bersarang di pelepah-pelepah pohon kelapa yang ada di wilayah RT tersebut.

“Hal ini menyebabkan aktivitas para penderes nira kelapa terganggu dan menghentikan aktivitas menderesnya. Juga mengakibatkan penurunan pendapatan para penderes selain juga penurunan produksi gula kelapa,” paparnya didampingi Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum, Kamis (19/11/2020).

Dr Trisnowati yang juga Kepala Laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fak.Biologi Unsoed mengungkapkan, semut di ekosistem alami mempunyai peranan penting sebagai predator, herbivore, scavenger, dan detritivor.

Namun, jelasnya, dengan adanya pemekaran suatu wilayah akibat urbanisasi sehingga lingkungan alami berubah menjadi lingkungan permukiman telah mengakibatkan perubahan habitat bagi organisme yang menghuni wilayah tersebut, salah satunya semut.

Dosen ahli Entomologi ini membeberkan, dari hasil pengambilan sampel di beberapa titik di lapangan dan setelah dilakukan identifikasi maka diduga jenis semut yang menyerang salah satu RT di Desa Pageraji adalah jenis Tapinoma sessil (semut bau).

Semut ini berwarna hitam kecoklatan dengan ukuran panjang berkisar 2.4 – 3.2 mm, dengan satu tonjolan kecil di bagian petiolanya, namun tonjolan kecil tersebut tidak nampak, karena tertutup oleh pangkal abdomen.

Antena terdiri dari 12 ruas tanpa club di bagian ujung antena. Di habitat alami sarang ada di tanah, di bawah bebatuan, maupun tumpukan kayu, tetapi juga dapat bersarang di bawah kulit/pelepah tumbuhan, di liang mamalia, dan di tumpukan sampah.

“Sarang di tanah tidak terbatas bentuknya dan biasanya tidak permanen. Di dalam ruangan, sarang banyak dan tersebar di seluruh bangunan, terutama di bagian-bagian bangunan yang retak, di plafon, di kayu yang rusak akibat rayap, dan di bagian-bagian lain yang lembab,” terangnya.

Alumni Program Doktor Biologi SITH (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati) ITB Bandung ini mengatakan, semut merupakan serangga sosial yang dalam koloninya terdiri ratu, jantan, dan pekerja,

“Pada habitat yang alami semut jenis ini membentuk koloni dengan satu ratu, dengan anggota koloni berkisar ratusan individu,” tandas Dr Trisnowati yang juga Kepala Laboratorium.

Namun pada habitat urban dengan kondisi lingkungan yang mendukung semut ini dapat membentuk poligini (terdiri dari lebih satu ratu), polidomi/ sarang multiel (satu koloni mendiami banyak sarang dalam satu pohon maupun pada pohon yang berbeda), serta dominasi ekologis atas semut jenis yang lainnya.

Jenis semut ini, jelas dia, sangat oportuni dan sangat plastis dengan struktur sosial yang fleksibel, mudah beradaptasi pada lingkungan permukiman (Buczkowski & Krushelnycky, 2016).

Dr Trisnowati mengemukakan, pada kondisi koloni yang normal semut ini tidak sulit untuk dikendalikan. Jika ditangani lebih awal, jumlah mereka dapat dikendalikan hanya dalam beberapa hari.

Namun, lanjutnya, semakin lama koloni diabaikan, semakin besar populasinya dan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengendalikan jenis ini, mungkin butuh waktu beberapa minggu.

Pada kondisi yang normal untuk pengendalian dan mencegah migrasi dapat dilakukan secara non kimia yaitu dengan sanitasi lingkungan antara lain genangan air harus dihilangkan di dalam rumah, karena semut ini tertarik pada kelembapan.

“Tanaman harus dipangkas dan jauh dari bangunan, sehingga tidak menjadi jalur yang nyaman untuk masuk. Retak, lubang, dan sambungan harus ditutup dengan dempul, terutama yang berada di dekat tanah,” tandas dia.

“Kayu bakar, batu, dan bahan lainnya tidak boleh disimpan di sebelah rumah karena menyediakan tempat untuk membangun sarang di dekat rumah,” tambahnya.

Anggota Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) menegaskan, pada kondisi populasi out break maka pengendalian harus dilakukan secara kimiawi, dan yang paling efektif adalah menggunakan umpan yang mengandung insektisida yang bekerjanya secara slow action.

Dr Trisnowati yang juga anggota Perhimpunan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI) menjelaskan bahwa sampai saat ini tim dari Laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fakultas Biologi Unsoed masih terus melakukan eksplorasi di lapangan.

Di antaranya untuk melihat kemungkinan adanya semut jenis lain yang ada di wilayah tersebut, distribusi semut, asosiasi semut dengan serangga lainnya, serta fenomena lain yang ditemukan di wilayah terdampak. (Red)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.