Kamis, 27 Juni 19

A Strong Leader

A Strong Leader
* Simulasi pencoblosan Pemilu 2019. (Foto: KPU)

Oleh: Imam Shamsi Ali, Diaspora Indonesia di kota New York, USA

 

Saat ini saya sangat bersemangat untuk melakukan hak, bahkan kewajiban sebagai warga negara untuk memilih pemimpin negara dan bangsa tanggal 17 April mendatang. Semangat saya ini bukan tanpa alasan. Bukan sekadar emosi semata. Apalagi sekadar dukungan buta tanpa alasan.

Alasan saya secara khusus adalah kenyataan bahwa saya sebagai putra bangsa yang telah menghabiskan 2/3 umur di perantauan ingin melihat negara dan bangsa ini punya izzah, dihormati oleh dunia Internasional.

Saya bersemangat memilih kali ini karena termotivasi oleh hiruk -pikuk dunia global yang semakin menantang. Dunia Islam dengan segala potensi yang dimilikinya semakin termarjinalkan. Hak-hak umat dari masa ke masa terampas satu per satu (piece by piece) oleh ketamakan orang lain.

Di sisi lain, setelah terjadinya serangan teror ke Amerika atau yang dikenal dengan peristiwa 9/11 di tahun 2001, dunia sesungguhnya hampir frustrasi untuk membangun relasi dengan dunia Islam, khususnya Timur Tengah dan Asia Selatan. Walaupun akhirnya relasi itu dipertahankan, bukan karena hubungan kepentingan dunia dan kemanusiaan. Tapi lebih karena Timur Tengah masih dilihat sebagai pusat energi klasik (minyak) yang diperlukan oleh Barat.

Sejak itu sesungguhnya dunia Barat, Amerika Serikat khususnya, melirik ke negara Islam terbesar yang terletak di Asia Tenggara itu untuk maju ke garda terdepan, mewakili wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang antithesis dari persepsi yang berkembang saat itu.

Yaitu Islam yang sejuk, damai dan merangkul. Islam yang menjaga karakter pertengahan (wasathiyah) dan mengedepankan kasih sayang (rahmah) dan kerja sama (ta’awun). Islam yang saat itu menjadi impian dunia global di saat terjadi krisis persepsi.

Sayangnya kesempatan (opportunity) itu berlalu begitu saja. Saya sendiri kurang tahu penyebabnya. Tapi boleh jadi karena para pemimpin bangsa ini kemungkinan belum melihat dan belum mengambil kesempatan itu secara maksimal.

Dilema lain adalah ketika kebanggaan sebagai Muslim terbesar yang moderat itu menjadi slogan yang kurang ikhlas. Maksudnya kebanggaan itu tidak bersumber pertama dari kesungguhan untuk menerima Islam secara sungguh-sungguh. Bagaimana tidak, di satu sisi kita sebagai bangsa Muslim terbesar dunia. Tapi di sisi lain Islam kerap kali dilihat dengan pandangan setelah mata.

Yang paling runyam adalah ketika Islam dan pemimpinnya kerap dicurigai sebagai anti negara mereka sendiri. Padahal sejarah tidak lagi bisa diingkari jika kemerdekaan Indonesia tercinta tidak bisa dan tidak akan dilepaskan dari keringat dan darah para syuhada umat ini.

Karenanya saya memimpikan pemimpin, siapa pun itu, yang akan menempatkan Islam ini secara sungguh di tempat yang sesuai. Yang sesuai maqamnya sebagai “the largest Muslim country in the world” (negara Muslim terbesar di dunia).

Saya memimpikan pemimpin yang akan dihormati oleh dunia karena karisma dan kapabilitas yang mumpuni. Pemimpin yang kuat tapi memiliki hati. Pemimpin yang tegas tapi memilki jiwa yang kasih dan sikap yang bijak.

Pemimpin yang ketika betinteraksi dengan dunia Internasional akan didengar karena kemampuan komunikasi dan penguasaan isu-isu global. Bukan pemimpin bangsa yang hanya menjadi candaan dunia Internasional.

Saya bermimpi melihat Indonesia yang hebat, besar, kaya dan potensial ini dipimpin oleh seseorang yang mampu mewakili kebesaran dan kehebatan negeri ini. Yang ketika ada krisis dunia, suaranya didengar dan menjadi bagian dari solusi.

Pemimpin yang tidak sekadar melakukan PR dalam merespons berbagai krisis dunia. Tapi mengambil langkah kebijakan yang memang efektif dan solusi. Kebijakan yang didengar oleh dunia dan dijadikan solusi bagi ragam permasalahannya.

Saya memimpikan seorang pemimpin yang mampu mengembalikan kepemimpinan bangsa ini di kancah Internasional. Yang dengannya izzah dan karomah umat akan kembali meninggi.

Pemimpinan yang mampu membangun kemuliaan rakyatnya dunia akhirat. Dengan kebijakan-kebijakan yang diinspirasi oleh nilai-nilai samawi. Bukan karena tekanan dunia, baik Timur maupun Barat. Pemimpin yang berani mengatakan “yes” kepada kebenaran dan keadilan. Dan “no” kepada kebatilan dan kezaliman.

Ah…itu mimpi panjang. Akankah terwujud? Insya Allah mimpi dalam iman itu adalah langkah awal dari sebuah realita. Hanya saja bagaimana merealisasikan mimpi itu?

Jawabannya ada pada pemimpin yang kuat, berani, mampu dan berintegritas. Kata orang sana, ayo kita pilih “strong, courageous, capable and a leader with high integrity”.

Siapa di antara dua calon itu? Anda yang akan menentukan di dalam bilik pemungutan suara tanggal 17 April mendatang. Jangan lupa, jangan lalai!

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.