Rabu, 12 Agustus 20

72 Tahun Roem-Roijen

72 Tahun Roem-Roijen
* Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen.

Tidak seperti Hatta yang terbang ke Aceh, kali ini Delegasi Natsir menuju Sumatera Barat. Menurut penuturan Ismael Hassan –yang menyebut dirinya sebagai “Notulis Perundingan Sjafruddin-Natsir”– delegasi menuju Padang Japang, Nagari Tujuh Koto Talago, Lima Puluh Kota. Di sanalah, di rumah “Kak Jawa”, Ibu Jawahir, perundingan pada 6-7 Juli 1949 berjalan alot. Bupati Militer Lima Puluh Kota, S.J. Sutan Mangkuto, menjadi tuan rumah perundingan. Bupati didampingi Anwar Z.A., dan Ismael Hassan.

Padang Japang adalah sebuah desa yang terletak sekitar 50 kilometer sebelah utara Bukittinggi, atau sekitar 14 kilometer sebelah utara Payakumbuh. Inilah desa yang menjadi tempat terakhir pusat pemerintahan PDRI.

Tokoh Muhammadiyah Lukman Harun menceritakan rute perjalanan Delegasi Natsir ke Padang Japang yang sekarang masuk Kecamatan Guguk. Delegasi mendarat di Padang. Dari Padang menuju Bukittinggi. Dari Bukittinggi naik mobil sampai di Kubang Tungkek, Dangung-Dangung. Dari Dangung-Dangung delegasi harus berjalan kaki ke Padang Japang, sekitar 5 kilometer, karena jalan tidak bisa dilalui mobil akibat diblokade oleh rakyat guna mencegah kendaraan Belanda memasuki wilayah tersebut.

Sebelum tiba di Padang Japang, Delegasi Natsir harus melintasi daerah tidak bertuan sepanjang satu kilometer. Ternyata Delegasi Natsir tiba lebih dulu dibandingkan dengan Pimpinan PDRI. Ketua PDRI dan rombongan harus berjalan kaki dari Limbanang yang jaraknya sekitar 25 kilometer.

Tengah hari 6 Juli 1949, sesudah menghilangkan lelah, pertemuan Delegasi Natsir dengan Pimpinan PDRI dimulai. Perundingan dilangsungkan dalam formasi duduk melingkar seraya bersila beralaskan tikar.

Hasil Mubes PDRI di Sumpur Kudus dibacakan. Para pemimpin PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. T.M. Hasan, Mr. St. Moh. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, R.M. Danubroto, Kolonel Dahlan Ibrahim, Ir. M. Sitompul, Sj. St. Mangkuto, dan M. Hamdani, dengan nada keras mempertanyakan: “Mengapa PDRI tidak diajak dalam perundingan Roem-Roijen, padahal yang berkuasa sesungguhnya PDRI.”

Perundingan dilangsungkan secara maraton, hanya beristirahat untuk shalat dan makan. Pada malam hari, perundingan dilangsungkan di bawah penerangan sinar lampu “togok”. Setelah berdebat berjam-jam tanpa terlihat tanda-tanda bakal berakhir, Leimena dan Halim bagai kehilangan kesabaran. Hampir bersamaan, keduanya mengingatkan Sjafruddin dan para pejuang PDRI: “Dulu, sewaktu Bung Karno dan Bung Hatta ditawan, kami tidak tahu bagaimana nasib Republik bilamana PDRI tidak ada. Dan, sekarang pun kami tidak tahu bagaimana nasib Republik apabila Bung Sjafruddin tidak bersedia kembali ke ibukota Yogyakarta.”

 

Baca halaman berikutnya:

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.