Rabu, 12 Agustus 20

72 Tahun Roem-Roijen

72 Tahun Roem-Roijen
* Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen.

Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dalam keadaan sakit memimpin perang gerilya, marah dan tersinggung dengan penggunaan istilah “pengikut Republik yang bersenjata” dalam Pernyataan Roem-Roijen. Bagi Jenderal Sudirman, penggunaan istilah itu seolah-olah menganggap Angkatan Perang RI hanya sebagai gerombolan bersenjata.

Dalam sebuah radiogram kepada Sjafruddin Prawiranegara, Panglima Besar Sudirman antara lain meminta keterangan “apakah orang-orang yang masih ditahan (dalam tawanan) atau dalam pengawasan Belanda, berhak berunding, lebih-lebih menentukan sesuatu yang berhubungan dengan politik untuk menentukan status negara kita, sedangkan telah ada Pemerintah Pusat Darurat yang telah diresmikan sendiri oleh Paduka Yang Mulia Presiden ke seluruh dunia pada tanggal 19/12/1948.”

Kemarahan kedua pemimpin perjuangan itu, tentu menggelisahkan. Jenderal T.B. Simatupang setelah berbicara dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dengan Mohammad Natsir, dan dengan Ali Budiardjo, meskipun berpendapat terdapat persoalan-persoalan psikologis akan tetapi tidak akan ada alternatif selain menerima baik politik yang telah digariskan di Bangka. Simatupang tetap menduga-duga: apakah yang akan terjadi selanjutnya. Apakah persoalan-persoalan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi.

 

Baca halaman berikutnya:

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.