Senin, 27 Juni 22

Deputi Gubernur BI: Redenominasi Rupiah untuk Efisiensi

Deputi Gubernur BI: Redenominasi Rupiah untuk Efisiensi
 
 Gia
Jakarta-Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah mengatakan ide redenominasi rupiah muncul untuk menciptakan efisiensi dan penyederhanaan kalkulasi dalam perdagangan.“Saat ini ada persepsi, khususnya bagi warga negara Indonesia yang ke luar negeri, rupiah seolah tidak ada harganya karena nominalnya terlalu besar,” katanya  dalam Seminar Nasional “Redenominasi Rupiah dan Penguatan Rupiah” di Auditorium Kwik Kian Gie of Business, Jakarta, Kamis (23/5/2013).

Pada 1998 lanjut Halim nominal rupiah naik tajam, sehingga sempat membuat dunia perbankan macet karena digit yang terlalu banyak. Akibatnya, pencatatan dunia perbankan sempat dihentikan sejenak untuk menghilangkan tiga nol kemudian mengalkulasi ulang.



Menurut Halim, nominal rupiah saat ini tertinggi kedua setelah mata uang dong Vietnam. “Karena itu, untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, redenominasi dalam konteks kesetaraan antarnegara cukup penting,” terangnya.

Namun, Halim mengakui diperlukan sosialisasi yang cukup panjang untuk memberikan pemahaman bahwa redenominasi hanya pengurangan angka nol atau digit, tanpa ada pengurangan nilai. Redenominasi berbeda dengan sanering yang memotong nilai uang.

“Dalam kehidupan sehari-hari pun sebenarnya secara sadar masyarakat sudah melakukan redenominasi dengan menghilangkan tiga nol. Itu terjadi di Bali serta beberapa kafe dan restoran yang menuliskan harga dengan menghilangkan tiga nol terakhir,” tuturnya.

Fenomena itu, kata Halim, menunjukkan bahwa masyarakat semakin perhatian terhadap nominal rupiah. Masyarakat ingin nilai rupiah tidak terlalu tinggi dan inflasi juga tidak terlalu tinggi. “Kondisi itu adalah momentum yang baik untuk melakukan redenominasi,” ujarnya.

Sementara Sekertaris Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Partogi Pangaribuan yang juga jadi pembicara mengungkapkan masa transisi untuk melakukan sosialisasi edukasi sangat penting meskipun sudah berjalan sejak sekarang, masyarakat kelas bawah kemungkinan tidak mengikuti isu redenominasi.
“Redenominasi berdampak kepada perdagangan khususnya perdagangan luar negeri,” imbuhnya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.