Senin, 26 September 22

60 Tahun KTT Asia Afrika, Masihkah Anti Kolonialisme?

60 Tahun KTT Asia Afrika, Masihkah Anti Kolonialisme?

60 Tahun KTT Asia Afrika, Masihkah Anti Kolonialisme?
Oleh: Alif Kamal (Deputi Politik KPP PRD)

Bulan April 2015 hari ini, tepat 60 tahun Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika. Dari sejarahnya konferensi ini adalah sebuah pertemuan internasional yang menghadirkan negara-negara yang tergabung dalam benua Asia dan Afrika. Di tahun 1955, untuk pertama kalinya pertemuan ini digagas dalam kerangka untuk menentang dominasi negara-negara utara (Eropa dan Amerika). Tercatat 29 negara hadir dalam pertemuan ini dan pesan utama yang dihadirkan dalam pertemuan ini adalah bahwa kolonialisme adalah hal yang harus dilawan.

Efek dari pertemuan tahun 1955 ini sungguh luar biasa. Semangat anti kolonialisme menyebar hingga keseluruh Asia dan Afrika, tidak tanggung-tanggung 78 negara bisa merdeka dari penjajahan dalam kurun waktu 30 tahun sejak pertemuan ini digagas untuk pertama kalinya. Sebuah kemajuan yang sudah pasti tidak diinginkan oleh negara-negara maju.

Dibulan april nanti, Indonesia menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan pertemuan ini. Dibeberapa kesempatan seperti yang telah dirilis oleh banyak media, Pemerintahan Jokowi-JK telah menyebarkan undangan kepada 109 negara untuk hadir dalam pertemuan tersebut.
Semangat untuk mengumpulkan banyak kepala negara dalam satu forum resmi internasional merupakan sebuah peluang besar bagi negara ini membuktikan kepada dunia bahwa negara ini punya andil besar dalam perjuangan melawan anti kolonialisme seperti yang menjadi semangat awal dalam pertemuan tahun 1955 silam. Tapi benarkah semangat itu masih ada?

Sejak tahun 1955, praktek kolonialisme belumlah hilang. Seperti yang pernah dipidatokan oleh Sukarno dipembukaan KAA 1955, “Kolonialisme belum mati. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan materil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal ditengah-tengah rakyat. Ia merupakan musuh yang licin dan tabah, dan menyaru dengan berbagai cara. Tidak gampang ia mau melepaskan mangsanya. Dimana, bilamana, dan bagaimanapun ia muncul, kolonialisme adalah hal yang jahat, yang harus dilenyapkan dari muka bumi”.

Melihat situasi yang terjadi sekarang ini maka tepat apa yang diucapkan oleh Sukarno. Dulu bangsa Indonesia adalah sponsor utama pertemuan ini sekaligus sponsor penting dari perjuangan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme. Namun yang terjadi episode sekarang justru sebaliknya. Dominasi negara-negara imperialisme semakin kokoh menancapkan dominasinya disemua lini bangsa. Produk UU yang sangat pro dengan imperialisme justru banyak disahkan pasca Orba berkuasa.

Ekonomi nasional yang mandiri seperti cita-cita KTT Asia Afrika justru tidak terbangun, bahkan harga-harga kebutuhan pokok diserahkan kepada mekanisme pasar. Belum lagi soal Sumber Daya Alam yang dikuasai dan dirampok habis-habisan oleh asing. Negara-negara dunia ketiga yang rata-rata juga tergabung dalam KTT Asia Afrika masih menjadi penyedia bahan baku, pasar tenaga kerja murah, dan lahan sumber investasi asing. Itulah cerminan dari kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Semangat KTT Asia Afrika 1955 sebenarnya terus menggelora dibelahan dunia lain. Terbukti di negara-negara bagian selatan Amerika seperti Bolivia, Ekuador, Uruguay, Kuba, Venezuela dan masih banyak lagi justru berusaha untuk keluar dari dominasi imperialisme dan kolonialisme negara barat. Negara-negara ini bahkan telah membangun blok sendiri yang dinamakan ALBA dan CELAC (Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia), yang menekankan hubungan solidaritas dan kerjasama yang setara. Sebuah langkah maju yang bisa dijadikan contoh.

Dengan mengusung kampanye TRISAKTI dan NAWACITA pada saat dilantik menjadi Presiden ke-7 RI, harusnya pemerintahan Jokowi-JK dapat memanfaatkan momentum KTT Asia Afrika yang ke 60 ini. Gelora semangat untuk membangun tata dunia baru yang lebih mengedepankan kesetaraan dan keadilan dapat mendapatkan momentumnya ketika 109 kepala negara nanti hadir dalam KTT ini.

Perjuangan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme haruslah seiring sejalan dengan perjuangan rakyat dinegara lain melawan kapitalisme negara dunia pertama. Mengingat kembali apa yang telah dipidatokan oleh Sukarno pada pembukaan KAA 1955 denga judul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”. Soekarno mengutuk kolonialisme lama dan mengingatkan bahaya kolonialisme baru yaitu Neokolonialisme. Dan Neokolonialisme inilah yang sekarang menjajah bangsa ini. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.