Senin, 18 Oktober 21

Wow! 6 Agustus, Ludruk KLJ Pentas di Jakarta

KALANGAN seniman bersama segudang pelawak bakal manggung bersama dalam pentas Ludruk di Anjungan Jawa Timur (Jatim) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Minggu 6 Agustus 2017 pukul 14.30 WIB. Kesenian Jawa Timuran ini akan menampilkan lakon ‘Cak Durasim Pendekar Ludruk’ yang digelar oleh Kumpulan atau Komunitas Ludruk Jakarta (KLJ), sekaligus Deklarasi KLJ.

Lakon ini ditopang para pelawak, seniman, artis sinetron dan penyanyi yang menjadi anggota KLJ, diantaranya Cak Bathin, Cak Bagong, Polo, Tarzan Srimulat, Doyok, Kadir, Gogon, Nurbuat, Isa Nglantur, Memed Mini, Tessy, Lupus, Ragil RM, Toni Gempil, Pangat, Ganis, Bambang, Slamet, Agus Pengampon, dan lainnya. Turut pula penyanyi Si ‘Raja Minggat’ Sonny Joss dan seniman wanita Ninik Chandra Srimulat, Herra Rosa, Sus Ellyn, Sharmilla, Nonik Kirana, Santi, Eva, Dewi Katayana, dan sebagainya.

Ludruk KLJ latihan di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (1/8/2017).

Lakon “Durasim Pendekar Ludruk” ini disutradarai Cak Tatok “Koplak” Pranadi yang juga tim kreatif Cak Lontong. Pelawak yang juga pemain ludruk Cak Lupus yang berperan sebagai Durasim dalam lakon tersebut, mendorong keberadaan Ludruk di Ibu Kota tapi harus dengan manajemen professional.

Ia pun melihat suksesnya Ludruk di Ibu Kota yang bernama Ludruk Mandala di era tahun 1980-an yang pernah dipimpin oleh seorang dokter yang bernama Suradi. “Saya yakin Ludruk ke depan akan maju kembali dan berkembang, apalagi KLJ sudah melakukan pelatihan regenerasi,” pungkas Cak Lupus di sela-sela latihan KLJ di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (1/8/2017).

Ludruk KLJ latihan di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (1/8/2017).

Tatok ‘Koplak’ mengungkapkan, selama ini banyak perkupulan kesenian termasuk Ludruk selalu tidak bisa bertahan lama, baru terbentuk beberapa tahun lalu bubar. “Itu karena perkumpulan Ludruk masih menggunakan pendekatan konvesional,” tutur arek Suroboyo ini.

Aktif dalam kepengurusan KLJ selaku Ketua adalah Cak Andreas Eno Tirtakusuma, Advokad yang juga dosen Pasca Sarjana sebuah universitas swasta di Jakarta. Sebagai Sekterais KLJ adalah Lusie Baya, penyanyi yang juga artis inetron. Sedangkan Bendahara KLJ dipegang Dewi Kantayana. Berbagai profesi ikut aktif pula berperan dalam KLJ, diantaranya Cak Herry Takariono dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan serta Cak Sukiswanto dari Polsek Bekasi Kota.

Cak Tatok ‘Koplak’ Pranadi (dua dari kanan) dan Cak Lontong (dua dari kiri)

Cak Andreas Eno bertekad kesenian Ludruk perlu dilestarian sebagai kekayaan seni budaya di Indonesia dan Jatim khususnya. Generasi muda perlu dikenalkan dengan kesenian ludruk agar tidak punah. Padahal, di negara maju, seni budaya tradisional dilestarikan bahkan dikembangkan. Di Indonesia yang justeru kaya raya akan kesenian di setiap daerah, hendaknya diawetkan sebagai warisan budaya hingga dikenal dan digemari oleh generasi penerus bangsa.

Cak Lupus, yang akan tampil memerankan sebagai Cak Durasim.

Eno mengakui, pendanaan untuk Ludruk KLJ ini masih harus berjuang berat, karena masih ditanggung sendiri dan sekadar ada uluran tangan dari kalangan dermawan pecinta seni dan para peduli ludruk. Dari pihak Kementerian Pariwisata pun belum ada pendekatan untuk melestarikan ludruk sebagai khazanah seni budaya Indonesia. “Bantuan dari pemerintah belum ada. Kita juga tidak mendapatkan dana dari CSR,” ungkap Cak Eno yang rela mengabdi meski menyita waktunya sebagai advokad dan dosen sebuah universitas di Jakarta ini.

Cak Andreas Eno Tirtakusuma

Jadi, jelas dia, para seniman yang bergabung dalam ludruk KLJ ini benar-benar berjuang atas dasar punya peduli untuk melanggengkan kesenian ludruk agar tidak punah. Oleh Karena itu, lanjutnya, setelah manggung di Taman Mini nanti Ludruk KLJ akan melakukan pentas keliling di seluruh wilayah DKI Jakarta dengan harapan untuk menjaring generasi muda. Ludruk KLJ tampil di Jakarta pada 10 November nanti dalam momen Hari Pahlawan.

Anggota KLJ yang juga penyanyi, Sus Ellyn asli arek Jombang mengungkapkan kalau jaman dahulu waktu dia kecil, orang yang nanggap ludruk itu dianggap orang mampu. “Saya dulu tak hanya nonton yang pentas, tapi juga nonton pemain yang dirias. Ternyata yang jadi perempuan di Ludruk itu laki-laki dan sebelum mereka tampil mereka makan kencur dulu supaya suaranya merdu,” bebernya sembari ketawa.

Sus Ellyn

Ganis Pete, adik kandung Alm Basuki Srimulat, mengaku ingin Ludruk tidak hanya go nasional, tapi juga internasional agar dirinya bisa merasakan main ludruk di luar negeri. Sementara Toni Gempil Srimulat yakin Ludruk KLJ dibawa kepemimpinan Cak Andreas Eno ini bakal maju. “Semoga Ludruk KLJ makin maju dan bisa go internasional. Saya juga berharap para angota KLJ kompak dan bersemangat untuk mewujudkan KLJ makin jaya ke depan,” paparnya.

Basukiyono selaku Astrada pendamping sutradara Tatok ‘Koplak’ Pranadi, mengatakan Ludruk asli Jatim harus tetap ada karena peninggalan para leluhur. Kesenian Ludruk diharapkan bisa bertahan dengan ke-khas-an-nya yang menampilkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Karena itu, kalangan artis dan pekerja seni yang tergabung dalam KLJ di bawah Komando Cak Bathin Mulyono, aktif melakukan latihan ludruk di Pendopo Anjungan Jatim TMII.

Ganis Pete

Cak Bathin selaku sesepuh yang babat alas berdirinya Ludruk ini, berharap generasi muda menyukai kesenian tradisional Ludruk sehingga. Ia bersama pengurus KLJ mengadakan Diklat Ludruk di Anjungan Jatim TMII yang diperuntukkan bagi remaja tingkat SMP, SMA dan Mahasiswa. “Ini untuk melestarikan seni Ludruk yang dikolaborasikan dengan seni-seni modern dengan cerita-cerita rakyat terkini,” harapnya.

Ia mendorong Diklat dibagi dengan 3 kategori yakni Pengrawit (Pemusik Tradisional), Penari Remo dan Pemeran Ludruk dapat melahirkan generasi baru pecinta kesenian tradisional Jatim khususnya Ludruk. “Kita perlu lestarikan ludruk, harus ada regenerasi para pemain ludruk,” tutur pemeran Semprul, mata-mata Jepang dalam lakon ‘Durasim Pendekar Ludruk’ ini.

Ludruk KLJ latihan di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (1/8/2017).

Lakon ini mengisahkan Cak Durasim sebagai pahlawan pribumi melawan tentara Jepang menjajah Indonesia dengan bengis dan keji menyiksa rakyat, bahkan membunuhnya secara kejam bagi yang melawan. Namun, Durasim melakukan perlawanan melalui kesenian di Surabaya. Dia membentuk perkumpulan kesenian ludruk, Melalui lakon dan cerita yang dimainkan Durasim mulai membakar dan mengobarkan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Ternyata, ada seorang pengkhianat yang melaporkan kepada tentara Jepang bahwa Durasim secara diam-diam telah membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang. Akibatnya, Durasim pun ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian orang) dan dicari dengan menempuh segala cara untuk menangkap Durasim. Meski cerita bersejarah ini dimainkan serius namun dalam berbagai adegannya disisipkan selingan humor sebagai kekhasan ludruk.

Mengapa pemantasan “Durasim Pendekara Ludruk” digelar pada 6 Agustus? “Karena untuk mengingat meninggalnya Cak Durasim yang dibunuh oleh tentara Jepang pada 6 Agustus zaman penjajahan Jepang dulu. Ludruk ini mengemas lako perjuangan serta menampilkan kritikan yang diselingi juga dengan komedi sebagai hiburan rakyat,” jawab Cak Eno.

Ditegaskan, Cak Durasim adalah pahlawan yang mengobarkan semangat rakyat di Surabaya untuk melawan penjajah, seperti halnya Bung Tomo. Cak Durasim berjuang melalui kesenian ludruk di Surabaya saat itu untuk mengusir Jepang sebagai penjajah Indonesia. Lantas dia tewas karena disiksa dan dibunuh secara kejam dalam penjara oleh tantara Nipon Jepang secara sadis dan bengis.

“Saat itu Cak Durasim sempat mengobarkan nyanian ‘Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Tambah Sengsoro’. Mestinya Cak Durasim layak menjadi Pahlawan, Tapi hingga kini tidak pernah diajukan ke pemerintah. Makam Cak Durasim di Pemakaman Umum Tembok, Surabaya,” jelasnya.

Pelawak Polo dan Cak Herry Takariono

Cak Herry Takariono yang sehari-hari bekerja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sangat peduli kesenian tradisional khususnya Ludruk Jawa Timuran. Untuk melestarian Ludruk, Cak Herry meluangkan tenaga dengan bekerja keras untuk bisa mengumpulkan para pekerja seni ludruk tersebut. Arek Suroboyo yang dikenal sangat gaul ini tak pernah berhenti mengontak dan ‘mengobrak-obrak’ mereka untuk rajin latihan rutin. Bakal ia membanting tulang untuk mengumpulkan dana untuk kegiatan Ludruk KLJ.

Pelawak Memed yang kini juga menjadi da’i (pendakwah) agama Islam, mengaku senang bisa ikut bermain di peran ‘Durasim Pendekar Ludruk’. “Ini mengisahkan sejarah Cak Durasim. Dia seorang pahlawan yang melawan penjajah, Jepang. Kita harus lestarikan kesenian Ludruk,” tukasnya.

Cak Isa Nglantur

Cak Isak yang sehari-harinya aktif sebagai pelawak, MC dan artis sinetron, menuturkan bangsa Indonesia perlu mempertahankan pilar budaya dan gotong royong melalui kesenian, tapi kini sudah berangsur hilang. “Harus ada kepedulian pemerintah seperti di Korea itu, K-Pop di Korea itu dibiayai pemerintah sehingga mendunia. Mestinya kesenian ludruk juga harus dilestarikan,” ujar Cak Isak yang pernah tampil di “Republik Mimpi” bersama pakar komunikasi UI Dr Effendi Gazali di Metro TV.

Ludruk dikenal sebagai kesenian khas asal Jatim yang menyuguhkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Ludruk lebih banyak menceritakan kehidupan masyarakat, kisah perjuangan dan bahkan kritik sosial yang diselingi lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik serta didahului dengan tari remo. (Red)

 

Cak Durasim

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.