Selasa, 21 Januari 20

500 Hari Belum Terungkap, Novel Cerita Pegawai KPK Diculik dan Janji Presiden

500 Hari Belum Terungkap, Novel Cerita Pegawai KPK Diculik dan Janji Presiden
* Karikatur Novel Baswedan. (Twitter @KPK)

Jakarta, Obsessionnews.com – Kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan sampai saat masih belum bisa terungkap sampai waktu 500 hari. Kasus Novel dibiarkan begitu saja tanpa ada penyelidikan yang benar dan akurat. Polisi seakan setengah hati untuk bisa mengungkap kasus ini secara benderang.

Novel mengatakan, tugas memberantas korupsi bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab, mereka harus berhadapan dengan berbagai macam teror yang tetua menghantui. Setidaknya, ia menyebut ada lima kasus teror dan intimidasi yang diterima pegawai KPK oleh oknum tertentu.

“Saya ingin ceritakan bahwa, di KPK yang diserang itu bukan cuma saya, banyak. Saya bilang banyak karena lebih dari lima, banyak yang diserang juga. Saya baru tau kemarin ketika berbicara dengan beberapa rekan di KPK,” kata Novel dalam diskusi yang bertema #500HariNovelDibiarkanButa: Urgensi Perlindungan Penggiat Keadilan, di kantor KPK, Kamis, (1/11/2018).

Menurut Novel, teror dan intimidasi yang dialami oleh rekan-rekannya di KPK sangat kejam seolah tanpa ada belas kasih. Selain disiram air keras, pegawai KPK juga ada yang diculik dan diancam dibunuh. Lalu ada juga ancaman bom yang dipasang di rumah mereka.

“Pernah safe house KPK itu diserbu, dengan tanpa aturan hukum, pernah pegawai KPK diculik. Saya penyidik, saya paham bagaimana penangkapan, lalu saya bilang diculik, terus banyak lagi hal-hal lain. Rumahnya dipasangin bom, walaupun setelah dicek bom itu palsu,” ujar Novel.

“Bagaimana dengan mobil pegawai KPK yang disiram air keras, lalu ancaman pembunuhan lainnya. Dan itu sampai sekarang dibiarkan. Terakhir terjadi di akhir 2017, saat itu saya sedang sakit di Singapura,” papar Novel.

Novel juga tetap berkeyakinan bahwa kasus penyerangan dan teror air keras yang dia alami sengaja tak mau diungkap Kepolisian. Seperti yang telah ia katakan 15 bulan lalu di beberapa media. Polisi tak akan berani mengungkap itu, Presiden Jokowi juga terkesan setengah hati untuk mengawal kasus ini.

“Jadi bila seumpama diterangkan bahwa ada proses yang berlangsung, saya katakan proses itu (hanya) formalitas. Kemudian saya mendengar masukan-masukan yang saya dapat dari senior-senior di Mabes Polri, mereka sarankan sebaiknya dibentuk TGPF (tim gabungan pencari fakta),” ujar Novel.

Hal itu kata Novel sudah terlihat di mana sampai sekarang TGPF belum juga dibentuk atau belum juga diakomodir oleh penguasa. “Tapi sejak awal disampaikan, saya tak pernah meminta urusan penyerangan kepada saya dijadikan yang utama. Dengan permintaan saya semua teror tersebut diungkap. Karena saya masih ingat betul dalam suatu kesempatan, pimpinan KPK menyampaikan juga bahwa pimpinan KPK berkeinginan melindungi kami,” ungkapnya.

Novel menambahkan, perlindungan terbaik itu apabila setiap ada teror maupun ada penyerangan berhasil diungkap. Sehingga pesan pentingnya adalah pelaku akan takut berbuat lagi dan memberikan rasa aman serta perlindungan psikis kepada pegawai KPK dalam menjalankan tugasnya.

“Lalu bagaimana yang diculik dan didiamkan. Ini bukan suatu hal yang biasa. Di beberapa kesempatan terakhir saya menyampaikan, mohon maaf ini, sebelum pemilu, saya sampaikan Bapak Presiden mestinya menjadi fokus hal ini, sejak awal sampaikan hal ini. Saya berharap dapat diselesaikan, karena itu bentuk dukungan riil pemerintah terhadap masalah pemberantasan korupsi, tapi itu tidak terjadi,” tegas Novel.

Seharusnya lanjut Novel, ketika kebuntuan ataupun ada ketidaksungguhan aparat penegak hukum dalam mengungkap suatu kasus, Presiden sejatinya perlu mengambil alih dengan memberi perhatian khusus, memerintahkan staf-stafnya agar hal tersebut dapat diungkap.

“Seandainya tidak mau mengungkap masalah saya, tidak jadi masalah, tapi saya berharap bisa mengungkap semua penyerangan pada pegawai pegawai KPK lainnya. Bukan kah itu hal yang masuk akal?” (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.