Selasa, 28 September 21

50% Warga Jepang dan 60% Warga Perancis Tolak vaksin

50% Warga Jepang dan 60% Warga Perancis Tolak vaksin
* ilustrasi. (Getty)

Sekitar 50% sampai 60% orang Jepang dan Perancis enggan disuntik vaksin, mengapa masih banyak yang menolak vaksin Covid-19?

Data dari IMF menunjukan sekitar 10-20% orang di Inggris hingga 50% di Jepang dan 60% di Prancis enggan divaksin, ditambah banyak tersebar unggahan yang meragukan vaksin di sosial media, padahal penelitian menunjukan vaksin Covid-19 mampu menyelamatkan nyawa – faktor psikologi dan sosial apa yang mempengaruhi?

Sudah tak ada keraguan lagi: vaksin Covid-19 menyelamatkan banyak nyawa. Mari kita lihat beberapa statistik dari Inggris baru-baru ini.

Dalam satu studi yang memantau kinerja vaksin di lebih dari 200.000 orang, hampir semua peserta mengembangkan antibodi melawan virus Covid-19 dalam dua pekan pertama setelah dosis kedua mereka.

Meskipun sempat ada kekhawatiran bahwa vaksin yang ada saat ini kurang efektif melawan varian Delta, analisis menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech mengurangi tingkat hospitalisasi sebanyak 92-96%.

Seperti yang sering dikatakan banyak praktisi kesehatan, risiko efek samping yang parah dari vaksin sangat kecil dibandingkan risiko penyakit itu sendiri.

Di balik banyak hasil penelitian yang dilakukan, ternyata masih ada cukup banyak orang yang enggan untuk disuntik .

Menurut laporan terbaru oleh Dana Moneter Internasional (IMF), jumlahnya berkisar 10-20% orang di Inggris hingga sekitar 50% di Jepang dan 60% di Prancis.

Keengganan itu telah memicu semacam perang budaya di media sosial, dengan banyak komentator di dunia maya mengeklaim bahwa orang-orang yang meragukan vaksin alias vaccine hesitant adalah bodoh atau egois.

Namun para psikolog kesehatan berpendapat pilihan ini seringkali merupakan akibat dari banyak faktor yang kompleks dan perlu ditanggapi secara sensitif, jika kita masih berharap untuk mencapai kekebalan yang menyeluruh.

Faktor psikologi dan sosial
Sebagian besar orang yang meragukan vaksin tidak punya agenda politik dan tidak berkomitmen pada gerakan anti-sains: mereka hanya belum memutuskan pilihan.

“Namun, mereka sangat lokal, minoritas yang sangat kecil dan sangat berisik di dunia nyata dan dunia maya,” kata Mohammad Razai dari Population Health Research Institute, St George’s, University of London, yang menulis tentang berbagai faktor psikologi dan sosial yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan orang seputar vaksin.

Berita bagusnya ialah banyak orang yang sebelumnya ragu kini berubah pikiran. “Namun bahkan penundaan dianggap berbahaya bagi kesehatan karena infeksi virus menyebar dengan sangat cepat,” kata Razai.

“Ini akan problematik jika kita masih berurusan dengan varian virus yang lama, namun varian Delta yang lebih cepat menular telah meningkatkan urgensi untuk memvaksinasi sebanyak mungkin orang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.