Minggu, 29 Mei 22

4 Kriteria Seorang Rais ‘Aam NU, di Antaranya Paham Syariat Islam

4 Kriteria Seorang Rais ‘Aam NU, di Antaranya Paham Syariat Islam
* Wapres RI K.H Ma'ruf Amin menjadi pembicara kunci pada peluncuran Buku Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama. (Foto: Setwapres)

Bandar Lampung, Obsessionnews.com – Usai menjadi pembicara kunci pada peluncuran buku Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama karya Ahmad Qoso serta Kitab Tukhfatul Qosi Waddani, Biografi Syekh Nawawi Al Bantani karya K.H. Zulfa Mustafa, Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin ditanya pandangannya oleh awak media terkait kriteria seorang Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama (NU).

Menjawab hal tersebut, Wapres pun mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyampaikan kriteria seorang Rais ‘Aam saat Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada 2015.

“Kalau Rais ‘Aam saya pernah membuat (kriteria) itu di Muktamar Jombang, minimal ada 4 kriteria,” tutur Wapres saat memberikan keterangan pers di Hotel Radisson, Jl. Teuku Umar No.1, Kedaton, Bandar, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Rabu (22/12/2021).

Kriteria pertama, menurut Wapres adalah fakih, yakni memahami dengan baik aturan dan syariat Islam sebagai dasar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

“Dia harus fakih. Kalau tidak fakih bagaimana dia menyelesaikan persoalan, tidak ada patokannya,” tegasnya.

Yang kedua, lanjut Wapres adalah munaddzim atau organisator. Menurutnya, seorang Rais ‘Aam harus mengerti ilmu berorganisasi karena NU yang dipimpinnya merupakan sebuah organisasi.

“NU itu organisasi. Jadi seorang pemimpin tertinggi harus mengerti organisasi,” tandasnya.

Kemudian, kata Wapres, seorang Rais ‘Aam juga harus muharrik yakni menjadi penggerak.

“Dia harus bisa menggerakkan. Sebab NU itu adalah gerakan ulama dalam memperbaiki umat, dalam rangka meng-islah-kan. Karena (bentuknya) gerakan, dia harus menjadi seorang penggerak,” ujarnya.

Selanjutnya, Wapres menyebutkan bahwa kriteria terakhir seorang Rais ‘Aam adalah wira’i. Menurutnya, seorang Rais ‘Aam harus memiliki sifat wara’ yakni senantiasa menjauhkan diri dari maksiat dan perkara syubhat (tidak jelas halal dan haramnya) yang dapat menimbulkan dosa.

“Karena itu memang saya katakan Rais ‘Aam itu bukan sekedar posisi struktur organisasi tetapi Rais ‘Aam itu maqam (berkedudukan tinggi). Di NU itu maqam,” tegas Wapres.

“ Rais ‘Aam itu sangat sentral,” imbuhnya.

Namun demikian, meskipun terpilih sebagai Rais ‘Aam pada Muktamar Jombang, Wapres mengakui bahwa dirinya bukanlah sosok sohibul maqam (orang yang berkedudukan tinggi). Dengan merendah ia pun mengatakan bahwa dirinya dipilih sebagai Rais ‘Aam saat itu karena darurat.

“Makanya ketika saya jadi Rais ‘Aam itu saya bilang, saya ini Rais ‘Aam Dhoruri, darurat saja,” pungkasnya.

Sebagai informasi, saat ini NU sedang menyelenggarakan Muktamar Ke-34 yakni dari tanggal 22 hingga 24 Desember 2021 di Kota Bandar Lampung. Adapun salah satu agenda penting yang diusung pada Muktamar ini adalah memilih Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2021 – 2026. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.