Jumat, 24 September 21

Tak Ada Komitmen Nawacita di Pasar, Ledakan Sosial Bisa Terjadi

Tak Ada Komitmen Nawacita di Pasar, Ledakan Sosial Bisa Terjadi

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Lembaga Kajian Publik Sabang Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan memaparkan, hingga saat ini tercatat ada 12 juta pedagang pasar tradisional di seluruh Indonesia. Makanya, pemerintah perlu memprioritaskan sektor ini. Sebab bagaimana pun juga, mereka punya kontribusi besar dan termasuk sektor ke dua terbesar di bidang mata pencaharian setelah pertanian.

Jika ditilik benar-benar, lanjutnya, pemerintahan yang kini berkuasa, hampir 65 % lebih suara yang masuk ke pundi-pundinya ketika pemilu Presiden digelar, berasal dari lapisan masyarakat bawah. Sementara itu, dengan jumlah pasar sebanyak 13 ribu 450 unit dan jumlah pedagang mencapai 12 juta-an di seluruh Indonesia, dan jika satu pedagang punya dua anak, maka ada 62 juta jiwa yang bergantung di pasar.

“Belum lagi kalau tukang ojek, kuli panggul termasuk dalam hitungan yang mencari nafkah di pasar. Maka angkanya, bisa membengkak jadi 100 jutaan. Tapi sayang, meski asumsinya demikian, kebijakan yang diprogramkan seperti dalam bingkai Nawacita, belum tentu pro ke bawah.¬†Berkali-kali saya bedah nawacita dan tidak ada satu kata pun ekonomi rakyat,” kata Syahganda dalam diskusi Ekonomi Rakyat dalam Bingkai Nawacita, Jakarta, Minggu (17/5).

Ekonomi Rakyat Dalam Bingkai Nawacita

Syahganda mengatakan, sebetulnya konsep Nawacita seperti yang diusung Jokowi-JK bukan barang baru. Pada Rencana Pembangunan Lima Tahun ke-5 tahun 1993 lalu, Ginanjar Kartasasmita yang saat itu duduk sebagai kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pernah menggaungkannya.

“Akarnya politik banteng Soekarno. Itu inti ekonomi rakyat dengan merubah struktur kolonial yang anggap pribumi ada di strata ke tiga,” tandas mantan Aktivis ITB yang pernah dipenjara rezim Orde Baru ini.

Dibeberkan pula, Professor BJ. Habibie pada masa pemerintahannya menggantikan Soeharto pun pernah menggalakkan konsep serupa. Tapi sayang seribu sayang, upayanya kalah menghadapi hegemoni kapitalisme yang sudah terlanjur mapan di Indonesia.

“Visi-misi Jokowi-JK ada kata-kata Trisakti dan berlanjut ke tema Trisakti yakni kemandirian ekonomi, politik dan budaya. Ekonomi rakyat adalah politik banteng dan anti nekolim,” kata Syahganda.

“Jadi, jelas kalau tidak ada komitmen dan praktek dalam keseharian terkait Nawacita yang digemborkan Presiden Jokowi, dengan kondisi ekonomi yang makin suram, jangan kaget kalau ada ledakan sosial sebab Nawacita khususnya di pasar tradisional bisa dilaksanakan,” tegasnya. (MBJ)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.