Sabtu, 4 Februari 23

22 Juni 1547 Itu Cuma Dongeng Khayalan

22 Juni 1547 Itu Cuma Dongeng Khayalan
* Pelabuhan Sunda Kalapa. (ist)

Jakarta, Obsessionnews  – Ada pendapat yang menyebutkan, tanggal 22 Juni adalah hari pembantaian komunitas Betawi. Bahkan, ada juga anggapan bahwa hari jadi Jakarta hanyalah sebuah dongeng khayalan. Apa betul ?

Tak jelas kapan persisnya Raden Fatahillah mendirikan Jayakarta. Pastinya, Sudiro yang menjabat sebagai Walikota Jakarta periode 1953-1958 (saat itu Jakarta belum dipimpin oleh seorang Gubernur), beranggapan bahwa peristiwa tersebut terjadi tahun 1527.

Anggapan Sudiro berdasar penelitian tiga orang ahli sejarah antara lain Mr Mohamad Yamin, Mr Dr Sukanto, serta wartawan senior Sudarjo Tjokrosiswoyo, yang dituangkan ke dalam naskah berjudul ‘Dari Jayakarta ke Jakarta’. Di sana, diyakini bahwa 22 Juni 1527 adalah hari yang paling dekat dengan peristiwa didirikannya kota Jayakarta oleh Raden Fatahillah.

Wikipedia melansir, bundel naskah tersebut diserahkan ke Dewan Perwakilan Kota Sementara (DPKS) untuk dibahas. Kemudian, pada tanggal dan bulan yang sama di tahun 1956, sidang pleno DPKS menyetujui bulat-bulat usulan Sudiro dan kawan-kawan bahwa Raden Fatahillah mendirikan Jayakarta pada 22 Juni 1527.

Penetapan tanggal tersebut, menurut Sudiro, didasari bahwa bangsa Indonesia yang sudah merdeka harus melupakan peringatan hari jadi kota Batavia yang jatuh setiap akhir bulan Mei. Maklum, penetapan yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda tersebut didasari keberhasilan Jan Pieterszoon Coen menaklukan Jayakarta kemudian mendirikan jiplakan Amsterdam pada akhir bulan Mei tahun 1916 dengan nama Batavia.

Syahbandar Wa' Item. (ist)
Syahbandar Wa’ Item. (ist)

Jakarta Charter
Peringatan hari jadi Jakarta, juga sering dikaitkan dengan rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang digelar 22 Juni 1945. Dalam pertemuan sembilan tokoh antara lain Ir Soekarno, Mohammad Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakir, H Agus Salim, Achmad Subardjo, Abdul Wahid Hasyim, serta Muhammad Yamin, dimaksudkan guna menjembatani perbedaan dalam agama dan negara melalui ‘Jakarta Charter’ atau ‘Piagam Jakarta’.

Melalui rapat sembilan tokoh tadi, usai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pada 23 September 1945, Raden Soewirjo ditunjuk menjadi Walikota Jakarta yang pertama.

Proses Soewirjo menjabat sebagai Walikota, dimulai pada masa pendudukan Jepang. Kala itu, Juli 1945 dia menjabat sebagai wakil Walikota pertama Jakarta. Sedangkan yang menjadi Walikota, adalah Tokubetsyu Sityo seorang pembesar Jepang. Sementara pos wakil Walikota kedua ditempati Baginda Dahlan Abdullah.

Dengan kapasitasnya sebagai wakil Walikota, diam-diam Soewirjo melakukan nasionalisasi pemerintahan dan kekuasaan kota hingga akhirnya diangkat menjadi Walikota oleh pemerintah Republik Indonesia yang sudah berdaulat saat itu.

kawasan Pecenongan tempat Tugu Obelis berdiri. (tugu ada di sebelah kanan gambar)
kawasan Pecenongan tempat Tugu Obelis berdiri. (tugu ada di sebelah kanan gambar)

Benarkah 22 Juni Hari Lahir Jakarta?
Dengan tegas bahkan keras, Ridwan Saidi, budayawan Betawi menolak penetapan tanggal 22 Juni 1547 sebagai hari jadi Jakarta. Dia bilang, saat itu adalah hari pembantaian komunitas Betawi di tanah kelahirannya yang dilakukan pasukan Raden Fatahillah sebagai imbas dari penyerangan terhadap Portugis yang sudah menguasai Batavia.

“Masa sih ketika orang Betawi dibantai malah diperingati dengan meriah?” kata Ridwan kepada obsessionnews.com saat dijumpai di rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Saat invasi tersebut, menurut Ridwan, Wa’ Item, syahbandar Sunda Kelapa sekaligus pemimpin komunitas Betawi yang mendiami pantai utara Batavia, tewas. Mayatnya kemudian dibuang di laut.

“Dia, (Mr Dr Sukanto dkk) tidak bisa mempertanggung jawabkan penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari lahir Jakarta,” kata Ridwan.

Apakah ada opsi lain dalam menetapkan hari jadi Jakarta? “Ada,” katanya.

Menurut Ridwan, pemerintah pusat, provinsi, budayawan bahkan ahli sejarah bisa memilih tanggal terbentuknya Pemerintahan Kota Praja Sementara Jakarta Raya pada 3 Sepetember 1945. Sebab keputusan pembentukannya ditanda tangani Presiden Soekarno langsung.

“Kalau mau menetapkan dengan tanggal lebih kuno, lebih susah lagi. Karena tidak bisa ketemu bulan dan khawatir nebak-nebak,” kata dia.

Betawi Berasal Dari Batavia ?

Para jago silat dan masyarakat pada masa pemerintahan kolonial sangat menggemari sebuah pohon yang kini masih bisa dijumpai di kawasan Bekasi, Tanggerang dan Banten. Namanya, Pohon Betawi.

Apa pasal sangat digemari ? Batang pohonnya memang gampang sekali dipatahkan. Tapi mampu bersenyawa dengan baik jika dipadu dengan logam. Makanya, kayu dari Pohon Betawi dipilih sebagai gagang Golok oleh para jago pukul. Sedangkan buahnya, ampuh mengobati gatal-gatal.

“Bukan dari Batavia seperti yang kebanyakan diyakini orang,” kata Ridwan.

Pohon Betawi
Pohon Betawi

Jakarta Sudah Ada Jauh Sebelum Portugis Datang

Di setiap kota, selalu ada tugu sebagai penanda didirikannya sebuah kawasan. Monumen Paku Bumi yang dibangun sekitar abad ke 2 masehi di kawasan Tambora, Jakarta Barat, misalnya. Saat itu, komunitas pribumi yang mendiami daerah ini sudah menamakan diri sebagai Orang Betawi.

Selain itu, ada juga tugu Kujang di Bogor, Jawa Barat dan tugu Obelis di Pecenongan. Menurut hasil penelitian Ridwan, kedua monumen ini juga menjadi simbol keberadaan masyarakat Betawi jauh waktu sebelum Portugis datang.

Sayang, monumen Paku Bumi dan Tugu Obelis dirobohkan Belanda lantaran dijadikan tugu kemerdekaan para pejuang Republik Indonesia. Sekarang, yang tersisa cuma tinggal Tugu Kujang di Bogor, Jawa Barat.

Dongeng Khayalan Hari Jadi Jakarta

“Hari jadi Jakarta, hanyalah sebuah dongeng khayalan,” begitu kata sejarawan Adolf Heyken SJ.

Dia bilang, tidak ada satu pun literatur yang ditulis tahun 1500-an menyebutkan nama Jayakarta di dalamnya. Ditambah lagi, ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) berkuasa pada 1602-1800 atau 50 tahun sesudah kejayaan Jayakarta seperti yang banyak dikisahkan, pemukiman komunitas Betawi tetap disebut sebagai Sunda Kelapa.

Pendapat Adolf bisa jadi benar. Karena Raden Fatahillah yang memiliki nama asli Syarif Hidayatullah adalah orang Arab (Gujarat). Sementara kata Jayakarta berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘kemenangan yang diraih’.

Dalam artikel berjudul  ‘Hari Lahirnja Djajakarta’ yang ditulis tahun 1956 oleh Hoesein Djajadiningrat disepakati nama Jakarta berasal dari Jayakarta. Namun soal penetapan hari jadi ibu kota, dia punya versi sendiri.

Menurut Hoesein, jika Dr Soekanto, ahli sejarah yang mendapat kepercayaan Walikota Soediro menggunakan penanggalan Islam dalam mencari waktu kapan persisnya Jayakarta didirikan, seharusnya peristiwa tersebut terjadi pada hari raya Maulid Nabi 12 Rabiul Awal tahun 933 Hijriyah atau Senin, 17 Desember 1526.

“Sebab dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad SAW lahir dan wafat pada hari Senin,” begitu pendapat Hoesein dalam artikelnya.

Pendapat Soekanto bahwa tarikh Islam mulai dikenal di Jawa tahun 1526 atau 1527 masehi, dilemahkan. Menurut Hoesein, penanggalan muslim mulai dipakai tahun 1633 atas perintah Raja Mataram Sultan Agung.

Tidak tahu mana pendapat yang paling benar dan konkrit. Yang jelas, di Bekasi, Jawa Barat, ada satu daerah bernama Jayakarta. Letaknya, di dekat Tanjung Pura. Dan penamaannya menurut Ridwan Saidi, jauh waktu sebelum Raden Fatahillah ada. (MBJ)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.