Rabu, 20 Oktober 21

212 yang Sesungguhnya

212 yang Sesungguhnya

Oleh: Zulkifli S Ekomei, Aktivis

 

Gerakan 212 sudah berakhir, kita tidak bisa menutup mata terhadap perdebatan di media-media sosial, ada yang menulis berdasar fakta di lapangan, dengan ungkapan kebahagiaan karena suksesnya kegiatan tersebut, sebaliknya ada yang menulis didasari kekecewaan bahkan cenderung kebencian karena merasa kalah di pilkada DKI sebagai akibat gerakan 212, 2 Desember 2016.

Perdebatan yang tidak produktif ini sebaiknya segera diakhiri karena akan menguras energi yang sebaiknya dilakukan untuk menyelesaikan masalah rakyat yaitu ketidakadilan khususnya di bidang ekonomi.

Tertarik dengan angka 212, ternyata cukup relevan untuk menggambarkan kondisi perekonomian rakyat dewasa ini.

Akibat ketidakadilan di bidang ekonomi, kondisi perekonomian rakyat sangat memprihatinkan khususnya di daerah-daerah, harga bahan-bahan pokok naik, sementara pendapatan tetap bahkan cenderung menurun

Jatah makan yang tadinya cukup untuk 2 orang terpaksa dimakan untuk 12 orang (212), pendapatan yang seharusnya untuk 2 bulan habis untuk 12 hari (212).

Gambaran yang mungkin berlebihan, tetapi kalau tidak segera dicarikan jalan keluar, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kerusuhan sosial, apalagi dipicu oleh berita-berita media, bagaimana para koruptor yang sudah menjarah uang rakyat diperlakukan bagai pahlawan.

Perilaku korup sudah menular kedaerah-daerah, bagaimana dana desa dihabiskan beramai-ramai, karena mendapat contoh bagaimana APBN dijarah ramai-ramai sementara pelakunya masih bisa jadi pejabat dengan segala fasilitasnya. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.