Rabu, 7 Desember 22

20 Bintang Sepakbola Terhebat Sepanjang Masa

20 Bintang Sepakbola Terhebat Sepanjang Masa

Jelang pengumuman pemenang NxGn 2018, Goal menyeleksi 20 pemain yang sudah menjadi superstar di usia remaja :

George Best
Menjadi pemenang First Division di usia remaja, George Best baru benar-benar menjadi superstar sejati di usia 19 tahun ketika ia tampil sensasional melawan Benfica di perempat-final Piala Champions 1966 dan dari situ ia mendapat julukan “Beatle kelima”. Sayang, alkohol menggerogoti tubuhnya dan membuatnya meninggalkan Manchester United di usia 27 tahun.

Gianluigi Buffon
Nama Gianluigi Buffon langsung menjadi perbincangan dunia pada 1995 ketika melakukan rangkaian penyelamatan ajaib kontra AC Milan dalam debutnya bersama Parma di usia 17 tahun. Selama dua dekade berikutnya, ketangguhan Buffon tetap terjaga.

Bahkan, kini di usia 40 tahun, kapten Juventus ini siap menunda pensiunnya selama satu tahun lagi. “Saya mulai menjaga gawang di usia 12 tahun. Selama kaki, kepala, dan hati saya masih bisa diandalkan, saya akan tetap melakukannya sampai kapan pun,” katanya.

Johan Cruyff
Johan Cruyff, tak diragukan lagi, adalah figur paling berpengaruh dalam sejarah sepakbola. Tidak ada seseorang yang bisa mengubah sepakbola seradikal Cruyff, baik itu saat ia menjadi pemain maupun pelatih. Di usia muda, tanda-tanda itu sudah tampak.

Saat menembus tim utama Ajax di usia 17 tahun, pelatih legendaris Vic Buckingham bertutur, “Seorang anak kecil yang kurus, tapi dengan stamina luar biasa dan bisa melakukan segalanya. Johan adalah karunia Tuhan untuk umat manusia.”

Duncan Edwards
Kendati meninggal dunia di usia 21 tahun saat Tragedi Munich pada 1958, Duncan Edwards sudah menahbiskan diri sebagai salah satu talenta terbaik Inggris yang pernah ada. Sosok gelandang bertahan yang juga jago menyerang, Edwards menjadi pemain termuda dalam sejarah First Division saat menjalani debut bersama Manchester United di usia 16 tahun 185 hari.

Sayang, kita tak akan pernah tahu seberapa hebat Edwards di puncak kariernya, namun eks bos Setan Merah Tommy Docherty bercerita, “George Best begitu spesial, seperti halnya Pele dan Maradona. Tetapi bagi saya, Duncan adalah pemain yang lebih baik dalam hal skill dan kemampuan all-round.”

Eusebio
Benfica mendapatkan durian runtuh ketika mendatangkan Eusebio remaja dari klub lokal Mozambik di usia 18 tahun. Dua tahun kemudian, sang Black Panther menggiring Benfica mengatasi Real Madrid di final Piala Champions 1962. Ketajamannya juga sukses membawa Portugal menembus semi-final Piala Dunia 1966. Ia juga menunjukkan sisi sportivitas yang impresif ketika memberi selamat kepada kiper Manchester United Alex Stepney yang melakukan penyelamatan gemilang di final Piala Champions 1968.

Paulo Futre
Paulo Futre melakoni debut profesionalnya di usia 17 tahun bersama Sporting CP, namun setahun kemudian tiba-tiba hengkang ke klub rival Porto akibat masalah gaji. Kerap disandingkan dengan Maradona, Futre mampu memenangi dua titel liga bersama Porto dan menjadi man of the match di final Piala Champions 1987 melawan Bayern Munich ketika berusia 21 tahun. Cedera membuat kariernya menurun, namun ia tetap menjadi ikon sepakbola Portugal.

Patrick Kluivert
Patrick Kluivert langsung menyabet status superstar di usia 18 tahun ketika mencetak gol kemenangan di final Liga Champions 1995 kontra juara bertahan AC Milan. Striker muda Belanda ini kemudian pindah ke Milan, namun tak sukses. Ia kemudian bangkit di Barcelona dan berhasil memenangi La Liga. Putranya, Justin, kini menjadi kandidat pemenang NxGn 2018

Michael Laudrup
“Michael Laudrup,” jawab Andres Iniesta ketika ditanya soal siapa pemain terbaik sepanjang masa versinya. Laudrup berpikir selangkah lebih maju ketimbang lainnya. Setelah melejit di Brondby, ia pindah ke Juventus pada 1983 dan tampil bersinar di Euro 1984 bersama Denmark saat usianya masih 20 tahun. Kurang bersinar di Italia, Laudrup lalu menjadi sosok genius di Spanyol bersama Barcelona dan Real Madrid.

 

Paolo Maldini
“Paolo masih sangat muda, jadi saya mencoba untuk memberinya nasihat,” kata Franco Baresi. “Tapi saya cuma memberi sedikit sekali nasihat, karena dia sudah menjadi pemain hebat.” Paolo Maldini menjalani debutnya di usia 16 tahun bagi AC Milan pada 1985 dan sejak itu namanya melegenda.

Maldini memang gagal meraih trofi bersama Italia, namun ia mengakhiri kariernya sebagai lima kali pemenang Liga Champions dan nyaris selalu masuk dalam Starting XI sepanjang masa versi siapa pun.

Diego Maradona
Diego Maradona baru bergabung Boca Juniors di usia 21 tahun. Namun kala itu ia sudah punya reputasi mentereng berkat talenta luar biasanya, dengan melakoni debut di Argentinos Juniors di usia 15 tahun dan mengangkat Kejuaraan Dunia Junior FIFA 1979. Maradona membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 lewat cara yang spesial, menggiring Napoli meraih Scudetto, dan akhirnya menyemen status sebagai legenda sepakbola sejati.

Stanley Matthews
Banyak klub yang antre untuk memboyong Stanley Matthews remaja setelah tampil gemilang di England Schoolboys. Sang winger akhirnya bergabung ke Stoke di usia 15 tahun dan menjalani debut profesional dua tahun kemudian. Selama 33 tahun selanjutnya, pemain berjuluk Wizard of Dribble ini secara menakjubkan terus bermain sebelum pensiun di usia 50 tahun.

Lionel Messi
Ketika Lionel Messi mencetak gol pertamanya bagi Barcelona di usia 17 tahun melawan Albacate, hanya sedikit yang memprediksi itu adalah awal dari ratusan gol yang akan mengikutinya. Lalu semuanya jelas, Messi adalah salah satu pemain paling bertalenta yang pernah ada. Di usia 21 tahun, pria mungil Argentina ini meraih Ballon d’Or pertamanya dan menambah empat lagi.

Disebut-sebut sebagai pemain terhebat sepanjang masa, Messi juga menjadi topskor sepanjang masa Barca dan Argentina. “Ketika yang lain dikontrol oleh sepakbola, Leo mampu mengontrol sepakbola,” ungkap Javier Mascherano.

Michael Owen
Tak banyak yang tahu Michael Owen ketika ia menembus tim utama Liverpool pada 1996. Tiba-tiba saja, di usia 18 tahun, Owen sudah menjadi topskor Liverpool di Liga Primer Inggris 1997/98 dan menjadi bintang dunia berkat gol sensasionalnya ke gawang Argentina di Piala Dunia 1998. Kecepatan dan nalluri golnya membuatnya diganjar Ballon d’Or 2001. Meski kariernya kerap dihantui cedera, Owen sudah menorehkan tinta emas dalam sejarah sepakbola.

Pele
Barangkali adalah pemain terhebat sepanjang masa. Pele relatif tak dikenal dunia sebelum kemudian namanya meledak di Piala Dunia 1958. Di usia 17 tahun, Pele yang berstatus sebagai pemain cadangan mampu mencetak gol penentu di perempat-final melawan Wales, mencetak hat-trick kontra Prancis di semi-final, sebelum membikin salah satu gol paling terkenal sepanjang masa ke gawang Swedia di final.

King Pele lalu memenangi dua Piala Dunia lagi dan mencetak lebih dari 1000 gol sepanjang kariernya bersama Brasil, Santos, dan New York Cosmos. Seniman Andy Warhol pernah mengatakan, “Pele adalah sedikit orang yang mampu membantah teori saya: alih-alih terkenal selama 15 menit, dia akan dikenang selama 15 abad.”

Raul Gonzalez
“Lihat itu,” kata presiden Atletico Madrid Jesus Gil antusias, menunjuk seorang bocah kurus berusia 14 tahun berseragam merah dan putih. “Itulah kapten kami, Raul. Ingatlah namanya. Dia akan menjadi seorang fenomena.” Dan prediksi itu benar, hanya saja ia tidak bermain di Atletico.

Ketika Gil memutuskan untuk menutup sejumlah tim juniornya, banyak pemain bertalenta yang mendadak berstatus tanpa klub. Raul Gonzalez Blanco adalah salah satunya. Rival sekota Atletico, Real Madrid, lantas mencomotnya di usia 15 tahun. Dua tahun kemudian, ia berhasil menembus tim utama Madrid dan menjadi pemain kesayangan publik Santiago Bernabeu sejak saat itu.

Gianni Rivera
Sering dijuluki The Golden Boy, Gianni Rivera menjalani debut profesionalnya di usia 15 tahun bersama klub kampung halamannya, Alessandri. Setahun berselang, sang gelandang serang lalu diboyong AC Milan dengan rekor transfer kala itu dan langsung berkembang menjadi ikon sepakbola Italia berkat skill menawan dan gaya bermainnya yang cantik.

“Dia adalah bocah elegan dengan sentuhan ajaib,” kata Giuseppe Meazza. Meski dinilai terlalu lemah dan lamban,. Rivera adalah sosok pengumpan yang andal dan mengakhiri kariernya dengan dua titel Piala Champions dengan Milan, satu Piala Eropa bersama Italia, dan Ballon d’Or 1969.

Cristiano Ronaldo
Diboyong Manchester United setelah mengobrak-abrik pertahanan Setan Merah dalam sebuah laga persahabatan di Lisbon, Cristiano Ronaldo langsung memukau publik Old Trafford dengan trik dan kelincahannya saat menjalani debut di usia 18 tahun.

“Ada banyak pemain yang disebut ‘George Best baru’, tetapi baru kali ini saya merasa tersanjung dengan sebutan itu,” kata George Best. Ronaldo lantas berkembang pesat menjadi mesin gol paling efektif yang pernah ada dalam sepakbola, dan sejauh ini sudah meraih empat trofi Liga Champions dan lima Ballon d’Or.

Wayne Rooney
Wayne Rooney sebetulnya sudah menonjol sebagai wonderkid di Everton, namun baru benar-benar menjadi bintang ketika melepaskan tendangan melengkung di menit akhir yang memastikan kemenangan atas juara bertahan Liga Primer Inggris, Arsenal. Padahal, ketika itu ia belum genap berusia 17 tahun. Kebintangannya berlanjut di Euro 2004 bersama Inggris dengan mencetak empat gol

“Sejak Pele di Piala Dunia 1958, baru kali ini saya melihat ada seorang pemain yang memberikan dampak begitu besar dalam sebuah turnamen,” klaim pelatih Inggris Sven-Goran Eriksson. Namun karena berbagai alasan, Rooney tak pernah mendominasi kancah sepakbola internasional. Meski demikian, ia tetap mampu menjadi topskor sepanjang masa Manchester United dan Inggris.

Ronaldo
Ronaldo sudah menjadi fenomena di Brasil ketika dipanggil ke Piala Dunia 1994 meski cuma bermain 14 partai dalam musim debutnya di Cruzeiro. Ia memang tidak tampil, namun berhasil menjadi topskor abadi Piala Dunia dan menginspirasi Selecao menjadi juara dunia pada 2002. Miroslav Klose boleh jadi telah memecahkan rekornya, namun Ronaldo tetap dipandang sebagai No.9 terbaik sepanjang masa.

Francesco Totti
Francesco Totti menjalani debut di AS Roma ketika usianya masih 16 tahun. Namun bersama klub masa kecilnya itu, ia berhasil memecahkan rekor demi rekor. Pemenang Piala Dunia 2006 ini pernah menjadi kapten termuda di Serie A saat berusia 22 tahun dan menginspirasi Roma merengkuh Scudetto bersejarah pada 2001. Ia menyudahi kariernya di usia 40 tahun sebagai topskor kedua Serie A sepanjang masa. (goal.com)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.