Selasa, 14 Juli 20

Jika Mau Eksis, Gerindra Perlu Regenerasi

Jika Mau Eksis, Gerindra Perlu Regenerasi

Jika Mau Eksis, Gerindra Perlu Regenerasi

Partai Gerindra adalah partai baru yang perolehan suaranya cukup mengejutkan dalam Pemilu lalu. Melejitnya perolehan suara partai tersebut tidak lepas dari keberadaan Ketua Umum (Ketum) Prabowo Subianto. Pesona dari mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopasus inilah, sosoknya yang terlihat tegas, yang menjadi daya tarik konstituen akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Gerindra. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah daya tarik Prabowo masih mampu dijual di Pemilu 2019?

Mungkin saja ketokohan Prabowo masih akan laku dijual di Pemilu mendatang, namun semua itu tergantung dari beberapa hal. Pertama dan yang paling mendasar bila Prabowo dalam perjalanan lima tahun mendatang mampu berperan aktif dalam menginspirasi rakyat untuk lebih sejahtera. Di sisi lain pemerintah dinilai kerjanya lelet. Kedua, adalah jika pemerintahan Jokowi banyak membuat kesalahan yang tidak perlu, dan lainnya.Bagaimana jika tidak?

Jika pemerintahan Jokowi konsisten, dan gebrakannya tetap berani, dan blusukannya sukses tentu saja untuk bertahan saja Gerindra akan mengalami kesulitan. Mengapa? Karena dari pantauan kita Gerindra saat ini tengah dimainkan partai lain, yang bakal menjadi pesaing dalam Pemilu mendatang. Koalisi Merah Putih (KMP) yang mereka bentuk sesungguhnya telah membelenggu partai, sehingga gerakannya tidak luwes dan tidak dapat menari dalam gendangnya sendiri. Dan jika Gerindra masih betah di KMP maka keterpurukan hampir pasti akan terjadi.

Koalisi memang diperlukan, karena undang-undang mendorongnya, tetapi koalisi mestinya hanya dibutuhkan saat Pemilihan Presiden (Pilpres) saja. Setelah Pilpres partai-partai harus konsentrasi untuk menyongsong Pemilu mendatang dengan mendandani segala kekurangan yang ada agar dapat bersaing dengan lebih baik lagi di Pemilu 2019. Jika masih seperti saat ini, focus Gerindra hanya di KMP siap-siap ditinggalkan partai lain, yang lebih dulu berbenah diri.

Tidak hanya itu, saya pikir Gerindra perlu regenerasi kepemimpinan. Diakui bahwa sosok Prabowo tidak akan bisa lepas dari keberadaan partai. Namun sosoknya akan lebih bijak jika diposisikan tidak di Ketum DPP, tetapi figurnya lebih mantap bila ditempatkan sebagai Ketua Dewan Pembina Gerindra. Dengan posisii seperti itu Prabowo dapat menjadi figure pemersatu, bila di kemudian hari terjadi konflik internal. Jadi sosoknya akan lebih tepat jika di posisikan seperti almarhum HM Soeharto di Golkar dulu.

Dengan kembali Prabowo di posisi semula, sebagai Ketua Dewan Pembina regenerasi pasti akan berjalan dengan baik. Dan ini perlukan sekali untuk memberi kesempatan bagi tokoh-tokoh muda partai untuk lebih maju. Sekaligus menguji mereka apakah memang benar-benar mampu dalam praktek, atau hanya sekedar macan kertas dan pandai omong kosong. Sebab selama ini yang terlihat bekerja keras hanya Prabowo, sedangkan lainnya cuma sekedar membuat statement atau pernyataan yang tidak jarang malah membuat blunder.

Dan perbaikan struktur partai seyogyanya tidak hanya terjadi di pusat saja, struktur partai di daerah juga perlu penyegaran. Karena dengan penyegaran tersebut akan memberi ruang bagi generasi selanjutnya membuat inovasi atau terobosan bagi keberlanjutan partai dengan target tentu saja mempertahan apa yang diperoleh sekarang, syukur dapat meningkatkan perolehan suara di Pemilu 2019. (Arief Turatno)

 

Related posts