Rabu, 19 Juni 19

15 CEO Pilihan 2019

15 CEO Pilihan 2019
* 15 CEO Pilihan 2019. (foto: dok MO)

Elvyn G. Masassya, Direktur Utama IPC, Menjaga Citra IPC Dengan Integritas dan Prestasi

Naskah: Subchan Husaen Albari Foto: Sutanto

Membenahi pelabuhan secara menyeluruh bukan perkara mudah. Meninggalkan citra buruk menuju era baru yang transparan juga butuh komitmen yang kuat dan program kerja yang terarah. Hal ini yang harus dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero)/ Pelindo II atau yang dikenal dengan IPC (Indonesia Port Corporation) di bawah kepemimpinan Elvyn G. Masassya sebagai Direktur Utama. Bersyukur dengan integritas dan kerja keras, Elvyn mampu mengubah wajah IPC dengan berbagai macam prestasi yang gemilang.

Elvyn G Masassya

Tak dipungkiri seringkali pelabuhan diartikan sebagai tempat yang “basah”. Ungkapan ini lebih banyak berkonotasi kepada hal yang negatif. Bagi oknum-oknum tertentu, pelabuhan menjadi surga untuk meraih keuntungan melalui aksi pungutan liar. Tentu saja, dengan perilaku ini lebih banyak pihak yang dirugikan daripada yang diuntungkan karena menimbulkan biaya ekonomi tinggi yang berujung pada inefisiensi di berbagai sektor. Situasi ini yang tidak boleh dibiarkan dan coba dilakukan pembenahan serta penataan sistem oleh Elvyn di semua jajaran. Elvyn memandang perubahan sistem di semua aspek penting dilakukan karena perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang logistik, secara spesifik pada pengelolaan, dan pengembangan pelabuhan ini mengoperasikan 12 pelabuhan yang terletak di 10 provinsi Indonesia, di mana salah satunya adalah pelabuhan terbesar di Indonesia, yakni Tanjung Priok yang menangani hampir 70 persen kegiatan impor ekspor di Tanah Air. Logo baru IPC kini juga mewakili semangat transformasi serta harapan baru demi menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Salah satu program yang terus digencarkan Elvyn dalam hal menata IPC di semua pelabuhan yang dikelolanya adalah dengan adanya IPC Bersih. Program ini ingin mewujudkan IPC sebagai tempat kerja yang bersih dari tindakan curang, korupsi, dan pemerasan. Bagi seluruh stakeholder yang memiliki informasi dan ingin melaporkan suatu perbuatan berindikasi pelanggaran dengan Whistleblowing, sebuah sistem yang independen. Whistleblowing adalah sistem yang diperkenalkan untuk memperkuat pelaksanaan Good Corporate Governance. Melalui aplikasi ini, insan IPC atau stakeholder yang melaporkan akan diberikan perlindungan, baik dalam hal kerahasiaan identitas maupun dari kemungkinan tindakan balasan oleh si terlapor.

“Kami percaya jika lingkungan kita bersih maka efek yang ditimbulkan juga akan berimbas pada pendapatan keuntungan perusahan yang jauh lebih besar. Suasana kerja juga kondusif dan kepercayaan publik terhadap IPC kian meningkat,” ujar Elvyn belum lama ini. Untuk mewujudkan transformasi dan transparansi, IPC juga mengembangkan platform digital. Proses digitalisasi ini dilakukan agar IPC bisa memiliki daya saing lebih, tak hanya di dalam negeri, tapi juga bersaing di kancah global. Hampir di seluruh dunia, digitalisasi sektor transportasi dan logistik berjalan cepat. Banyak teknologi baru yang dihadirkan oleh pengelola pelabuhan. Perkembangan cepat digitalisasi di pelabuhan ini menandai sebuah era baru pelabuhan di dunia. Selain berfokus pada penurunan biaya logistik, digitalisasi pelabuhan juga ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pelabuhan.

IPC di bawah komando Elvyn telah melakukan serangkaian langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas logistik melalui digitalisasi, di antaranya menghadirkan vessel traffic system (VTS), peti kemas dan non peti kemas terminal operation system, serta platform marine operating system (MOS). Juga aplikasi auto tally, auto gate, serta e-service. Sistem ini tak hanya diaplikasikan di Tanjung Priok. Namun, seluruh pelabuhan yang dikelola IPC. Langkah strategis lainnya, yakni menerapkan sistem informasi layanan tunggal secara elektronik berbasis internet (inaportnet). Sistem ini meliputi e-registration, e-booking, e-tracking dan tracing, e-payment, e-billing, serta e-care.

IPC juga menghadirkan aplikasi TPS Online. Aplikasi ini membantu otoritas kepabeanan (Bea Cukai) lebih cepat memonitor pergerakan kontainer di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) sehingga lebih cepat merespons Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang diajukan oleh pemilik barang. “Di era baru pelabuhan saat ini, IPC memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi digital di semua lini agar pelayanan yang diberikan IPC semakin cepat, lebih mudah, dan lebih murah. Dengan digitalisasi ini juga sekaligus menekan tindakan koruptif dan pungutan liar yang dilakukan oknum, serta meningkatkan pendapatan perusahaan,” tandas Elvyn. Terbukti, perseroan mencatatkan laba bersih pada kuartal III 2018 sebesar Rp1,86 triliun. Angka tersebut lebih tinggi 20 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,5 triliun. Pada kuartal ini, EBITDA IPC tercatat sebesar Rp3,217 triliun atau 44 persen lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan, realisasi biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 68 persen dari anggaran yang ditetapkan. “Ini menunjukkan bahwa korporasi berhasil meningkatkan efisiensi, 3 persen di atas target,” kata Elvyn. Sementara itu, performa IPC juga meningkat dari sisi kinerja operasional. Hal ini terlihat dari naiknya volume arus petikemas yang mencapai 5,58 juta TEUs. Jumlah itu tumbuh 12,16 persen lebih besar dibandingkan realisasi kuartal III 2017. Sedangkan, arus non petikemas mencapai 42,78 juta ton atau naik 3,71 persen dari realisasi kuartal III 2017. Jumlah kunjungan kapal juga mengalami kenaikan sebesar 7,3 persen dari realisasi tahun sebelumnya, dengan capaian total sebesar 158,27 Gross Tonage (GT). Demikian pula dengan kunjungan penumpang, di kuartal III naik 10,31 persen dengan jumlah 505.480 penumpang.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.