Selasa, 14 Juli 20

10 Bank Menengah Terancam Collaps di Era Jokowinomic

10 Bank Menengah Terancam Collaps di Era Jokowinomic

Jakarta – Terus melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap US Dollar makin menunjukan bahwa pasar uang internasinal masih sangat ragu dengan langkah-langkah dan kebijakan Jokowinomic yang belum jelas dan tidak terencana dengan baik.

“Secara garis besar ada tiga variabel yang mempengaruhi ekonomi makro Indonesia yaitu, variabel yang pertama berhubungan dengan nilai tukar rupiah berupa nilai keseimbangan permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang asing,” ungkap Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, FX Arief Poyuono, Selasa (16/12/2014).

Ia mengingaatkan, merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional. “Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan bahan baku,” tandasnya.

Variabel yang kedua, lanjutnya, adalah tingkat suku bunga, dimana akan terjadi meningkatnya nilai suku bunga perbankan yang akan berdampak pada perubahan investasi di Indonesia serta potensi kredit macet apalagi riset standard and poors rating dalam Banking  Industry Country Risk Assement  menempatkan perbankan Indonesia paling beresiko tinggi serta catatan kelam akibat tingginya pontensi ktedit macet .

Sedangkan variabel yang ketiga adalah terjadinya Inflasi, meningkatnya harga-harga secara umum dan kontinu, akibat komsumsi masyarakat yang meningkat, dan berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi dan spekulasi.

Seharusnya, tutur dia, dengan dihapuskannya subsidi BBM oleh pemerintahan Jokowi serta jatuhnya harga minyak dunia secara matematik ekonomi Indonesia justru akan memperkuat niliai rupiah terhadap US dollar sebab import minyak mentah maupun BBM adalah, yang paling banyak mengunakan US dollar .

’Jika rupiah terus melemah hingga awal tahun 2015  maka akan berdampak nilai suku bunga kredit yang meningkat dan  kinerja perbankan nasional terutama akan meningkatkan kredit macet di sektor perbankan jika sudah seperti ini bukan tidak mungkin akan banyak bank bank kelas menengah bisa gagal bayar yang akan berimbas pada rush besar besaran oleh nasabah .apalagi perbankan di Indonesia adalah perbankan yang tidak efisien dalam menjalankan bisnisnya. Dan ini sesuai dengan prediksi BI yang memprediksi nilai rupiah akan tembus dkisaran 16000 rupiah,” paparnya.

Dampak melemahnya nilai kurs rupiah terhadap US dollar, menurut dia, juga akan berdampak pada hutang obligasi dan pinjaman luar negeri jangka pendek  BUMN yang membengkak sehingga BUMN yang tidak menjalankan hedging sudah dapat dipastikan akan kesulitan liquiditas yang akhirnya kebijakn yang diambil adalah melepas saham kepemilikan negara untuk menalangi hutang BUMN atau mengknversi hutang obligasi  menjadi pengurangan saham pemerintah di BUMN.

“Langkah yang harus diambil agar bencana kurs rupiah tidak berimbas negative  pada perekonomian Indonesia Jokowi harus bisa menenangkan pasar agar tidak panik .Dengan cara memperketat pengunaan devisa dollar,” jelas Arief Poyuono. (gun)

 

Related posts