Sabtu, 18 September 21

‎PAPBD Jatim 2015 Defisit Rp1,3 Triliun

‎PAPBD Jatim 2015 Defisit Rp1,3 Triliun
* ‎Proyek Jalan Lintas Selatan (JLS) Pacitan terhambat. Itu karena proyek ‎Pacitan sepanjang 4,8 kilometer terhambat. Itu karena proyek senilai Rp 57,5 miliar di ruas Ploso-Sirnoboyo itu belum mendapatkan izin dari pemerintah. (Obsessionnews.com/Ari Armadianto)

Surabaya, Obsessionnews – Perubahan APBD (PAPBD) Jatim tahun 2015 mengalami defisit hingga Rp1,3 triliun. Ini lantaran target pendapatan daerah turun drastis, khususnya dari Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas yang mencapai Rp900 miliar.

Ironisnya lagi, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) APBD 2014 hanya tinggal Rp252 miliar yang dapat digunakan untuk pembiayaan anggaran 2015. Tak ayal untuk menutupi kekurangan tersebut, baik tim anggaran maupun badan anggaran DPRD Jatim, kini bekerja keras membahas P-APBD Jatim 2015 agar pembangunan di Jatim bisa terus berkelanjutan, dan masyarakat Jatim bisa menikmati langsung hasil pembangunan tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim Akhmad Sukardi, membenarkan P-APBD Jatim 2015 diprediksi minus sekitar Rp1,3 triliun. Untuk menutupi kekurangan tersebut, pihaknya terpaksa akan memangkas alokasi anggaran di SKPD-SKPD, hingga menunda pembiayaan pembangunan yang sifatnya multiyears.

“Untuk menutupi kekurangan tersebut, kita telah sepakat untuk mengepras beberapa program di SKPD-SKPD yang tak bersentuhan langsung dengan masyarakat, serta menunda pembiayaan pembangunan yang sifatnya multiyears,” terang Sukardi, Senin (29/6/2015).

Menurut Sukardi pengeprasan alokasi anggaran di SKPD itu juga lebih besar dari yang diprediksi semula, yakni dikisaran 5 persen.

“Pengeprasan bisa jadi lebih dari 5 persen, tapi itu tidak akan mengurangi program-program kemasyarakatan karena akan diambilkan dari program rutin, seperti belanja pegawai, dan rapat-rapat,” dalihnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jatim Soenarjo menuturkan, bahwa keuangan Pemprov Jatim tahun 2015 cukup berat. Ini lantaran pengaruh kondisi ekonomi secara makro yang trendnya lesu, sehingga daya beli masyarakat juga ikut menurun.

“Penopang utama sumber PAD adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan BBNKB. Tapi karena daya beli masyarakat turun sehingga target PAD juga ikut turun,” terang politisi asal Partai Golkar ini.

Sebaliknya, anggota Banggar DPRD Jatim lainnya, Samwil justru tetap optimis PAD dari PKB dan BBNKB akan memenuhi target, karena di sebagian daerah memiliki tradisi jika mendekati lebaran membeli kendaraan bermotor baru. Sehingga pihaknya tidak setuju jika target PAD dari PKB dan BBNKB diturunkan hingga Rp500 miliar.

“Biasanya pembelian kendaraan bermotor pada bulan Ramadan itu meningkat drastis dibanding bulanbulan yang lain. Saya kok masih optimis target PAD 2015 yang sudah ditetapkan bisa terealisasi,” tandasnya. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.