Senin, 11 Desember 17 | 16:10 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Tionghoa Menggugat

Tionghoa Menggugat
Photo Credit To Zeng Wei Jian

Oleh: Zeng Wei Jian –  Aktivis etnis Tionghgoa / Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Jumat siang, tanggal 20 Oktober 2017, sekitar pukul 02.20 WIB, suasana Balai Kota terasa damai. Ahok tidak lagi di sini.

H. Jusuf Hamka (Kepala Suku Tionghoa Muslim) melangkah agak cepat. Dia datang bersama Bambang Akuet (Ketua Klenteng Jin De Yuan-Glodok), Mr. Apao (Tanah Abang), Layhok (Bos Batik), dan Buntario (Notaris). Semuanya bermata sipit dan kulit kuning. Mereka Tionghoa. Mereka hendak menghadap Sekda Saefullah di lantai 4 Gedung DKI.

Ternyata, mereka ingin merilis Konferensi Pers. Sekda kasi izin. Malahan, dia memfasilitasi acara dengan panggil sekitar 15 wartawan yang mangkal di Balai Kota.

Konferensi Pers tidak dilaksanakan sebelum Lieus Sungkharisma datang. Dia kena macet. Ada aksi di sekitar Istana Merdeka. Satu jam kemudian, Lieus Sungkharisma tiba.

H. Jusuf Hamka membuka konferensi pers. Dia minta polemik soal kata “pribumi” dihentikan. Pidato Anies sama sekali tidak bertendensi mendiskriminasi golongan ras tertentu, apalagi Tionghoa. Menurutnya, sedikit pun, Anies tidak punya benih-benih seorang rasis.

Lieus Sungkharisma berkata, “Saya ada di lokasi saat Pa Anies menyampaikan pidato”. Kata-kata Anies bakar semangat Lieus Sungkharisma membangun bangsa dan negara.

Keesokan harinya, dia heran saat ada sekelompok orang meributkan pidato Anies tersebut. “Ga abis pikir saya,” kata Lieus Sungkharisma.

Kepada saya, H. Jusuf Hamka minta pernyataannya dicatet. Dia bilang, “Bilangin ke mereka, kita aja yang Tionghoa gak ngerasa terganggu, apalagi tersinggung, kok ‘elu’ yang repot.”

 

THE END

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *