Senin, 11 Desember 17 | 16:20 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Tian Belawati Sukses Mengubah Imej Universitas Terbuka

Tian Belawati Sukses Mengubah Imej Universitas Terbuka
Photo Credit To Rektor Universitas Terbuka, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D.

Obsessionnews.com – Hidupnya didedikasikan untuk dunia pendidikan nasional. Sejak lulus kuliah, tepatnya pada 1985, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D. mengabdi di Universitas Terbuka (UT). Berkat keuletan dan kegigihannya, kariernya meningkat setahap demi setahap. Hingga pada akhirnya dipercaya menjabat Rektor UT untuk periode 2009 – 2013. Dan terpilih kembali periode selanjutnya, 2013 – 2017. Dialah rektor wanita pertama Universitas Terbuka.

Perawakannya mungil, namun terkesan sangat tegas dari gaya dan nada bicaranya, tampil alami tanpa polesan makeup tebal. Itulah sedikit gambaran dari sosok salah satu wanita hebat di tanah air, rektor wanita yang mampu membawa perubahan untuk dunia pendidikan nasional. Tian, berhasil mengubah imej UT menjadi salah satu pilihan perguruan tinggi negeri yang diminati peserta didik dari berbagai kalangan.

Ditemui di salah satu restoran hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan, dia bercerita banyak mengenai pencapaian memimpin UT. “Banyak yang telah dilakukan oleh UT dalam delapan tahun terakhir ini. Tapi yang utama adalah mengubah imej. Sebelumnya, orang mengenal UT sebagai perguruan tinggi hanya untuk guru, mahasiswa berusia matang, dan untuk ekonomi menengah ke bawah, sehingga citranya kurang prestisius. Dalam delapan tahun terakhir ini, kami memperkenalkan kepada masyarakat bahwa UT adalah perguruan tinggi negeri modern dengan penggunaan IT terkini. Kami juga membuktikan dengan keragaman peserta didik dari profesional hingga eksekutif. Menurut saya, itu adalah salah satu tugas utama ketika dilantik menjadi rektor,”  Tian menerangkan.

Terbukti, berdasarkan data, tercatat mahasiswa UT dengan beragam rentang usia. Mulai dari lulusan SMA yang berusia kurang dari 25 tahun, sekitar 25%, kemudian lebih dari 50% berusia kurang dari 30 tahun, dan sisanya adalah mereka yang berusia lebih dari 45 tahun. Selain itu, di bawah kepemimpinan Tian, UT juga terus mengikuti perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Apalagi, UT merupakan universitas yang melakukan pembelajaran jarak jauh, sehingga sangat tergantung pada teknologi.

Kehadiran UT mampu mengisi blank spot akses pendidikan tinggi dengan perguruan tinggi berkualitas. Dengan adanya UT, siapapun berhak mendapatkan pendidikan tinggi. Namun tantangannya menurut Tian, kembali kepada kemauan setiap individu untuk maju. Selain itu, tugas UT lainnya adalah turut serta memenuhi kebutuhan sumber daya manusia untuk kemajuan pembangunan nasional.

Di bawah kepemimpinan wanita berdarah Sunda ini, UT juga telah menorehkan banyak pencapaian luar biasa. Antara lain, berhasil mendapatkan sertifikat kualitas internasional, bersertifikat ISO untuk manajemen UT, serta akreditasi A untuk program studi di UT. Namun baginya, capaian paling tinggi adalah etos kerja para dosen dan civitas academica yang berkomitmen tinggi dalam membangun UT, sama seperti dirinya. Menurut Tian, mereka tidak pernah mengeluh, meski bekerja di hari libur ataupun menunaikan tugas ke daerah.

“Menurut saya, hal tersebut achievement yang luar biasa. Paling saya syukuri adalah saat ini UT sudah mendapatkan pengakuan dari masyarakat sebagai perguruan tinggi berkualitas, bukan perguruan tinggi kelas dua,” ujar peraih gelar Doctor of Philosophy (PhD), Educational Studies, Department of Educational Studies, Faculty of Graduate Studies, University of British Columbia, Vancouver, BC, Canada, ini.

Kiprahnya dalam dunia pendidikan juga mendapat pengakuan dunia. Tian aktif mengikuti beberapa organisasi berkelas internasional. Yang membanggakan, dia terpilih secara aklamasi menjadi presiden suatu lembaga Internasional pendidikan terbuka dan jarak jauh, International Council for Open and Distance Education (ICDE) pada periode 2012 – 2015. Sebelumnya, dia juga sukses memimpin Asian Association of Open Universities (AAOU) sebagai presiden untuk periode 2009– 2010.

Satu hal yang juga menjadi kebanggaan baginya, adalah posisi UT sebagai pionir pendidikan jarak jauh yang diakui oleh pemerintah. Sejak saat itu, seluruh perguruan tinggi diperbolehkan melakukan pendidikan jarak jauh, dan beberapa perguruan tinggi juga telah melakukannya.

“Kalau kami tidak menunjukkan bahwa pendidikan jarak jauh itu bisa berkualitas, tidak mungkin pemerintah mengakui dan mengizinkan universitas lain melakukannya. Dengan begitu, tidak ada lagi yang perlu meragukan legalitas sistem pendidikan jarak jauh,”  tutur perempuan kelahiran Sukabumi, 1 April 1962 ini.

Dalam melakukan sistem distance learning, UT telah melaksanakan pendidikan jarak jauh full online yang diklaim belum dilakukan universitas lain. Aplikasi UT Online Mobile juga telah tersedia di smartphone para mahasiswa UT. Dengan aplikasi tersebut, mahasiswa dapat melakukan kegiatan yang mendukung proses belajar-mengajar, mulai dari registrasi, berinteraksi, dan aktivitas akademik lainnya. (Suci/Foto: Sutanto)

Artikel ini juga dimuat dalam Majalah Women’s Obsession Edisi Mei 2017.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *