Jumat, 25 Mei 18

Serang Rizal Ramli, Jubir Sri Mulyani Ganti Diserang

Serang Rizal Ramli, Jubir Sri Mulyani Ganti Diserang
* Sri Mulyani dan Rizal Ramli.

Ini Respon untuk Nufransa Wira Sakti yang Ecek-ecek dan Ndablek:

Para analis meminta Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli (RR) tidak usah menjawab komentar Staf Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Nufransa Wira Sakti yang pendapatnya bisa menyesatkan (misleading). Selain ndablek, tidak mutu dan tidak level serta beda paradigma, sanggahan staf Kemenkeu yang diberi ruang Kompas.com itu sekadar pakai data statistik yang diragukan kebenarannya dan hanya mengaburkan substansi masalah ekonomi yang ada.

Mengenai kondisi ekonomi-sosial Indonesia dewasa ini, silakan Nufransa diskusi dengan senior Sri Mulyani yakni Mantan Menko Ekuin Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, agar dia tahu apa sebabnya isu Negara Bubar mencuat, dan itu bukan hanya kekhawatiran Prabowo Subianto. Para peneliti senior dan Prof Dorodjatun punya kekhawatiran yang sama, pokok soalnya: kompleksitas ekonomi kapitalis yang tamak, daya beli rakyat yang terus merosot, ketidakadilan, ketimpangan, nilai pendapatan petani, nelayan, buruh dan kaum pekerja yang terus merosot akibat Neoliberalisme pasar dan demokrasi kriminal belasan tahun ini, belum lagi oligarkisme, keserakahan elite, kerusakan lingkungan dan terkikisnya sumber daya ekonomi yang ada..

Sekedar ilustrasi, tahun 1997 semua rating agency dan analis memuji Indonesia. Ternyata krisis besar 1977/1998. Ternyata Analisa dan Ramalan RR sejak October 1996 mengenai krisis 1997/98 yang terbukti benar.

Asal tahu saja, Nufransa menyerang personal RR yang kebetulan menjadi Menko Maritim yang tidak tanggung jawab dan tidak bertugas soal makro ekonomi. Itu bukan Tupoksinya. Itu aja Nufransa ngawur dan ndak ngerti, dasar ndablek dan asal Bu Menkeu senang.

Nufransa harusnya mencatat bahwa itu soal bunga bonds: RI selalu kemahalan era Sri Mulyani.
Vietnam non-investment grade. 2 level di bawah RI, yield lebih murah. India selevel RI, yield mereka sedikit lebih murah–tp inflasi mereka lebih tinggi.

Kini ada 4 BUMN karya punya utang Rp 157Trilyun, nilai sahamnya turun 12% di thn 2017, dan turun lagi 13% pada Maret 2018. Sudah high risk!

Fiskal kita kredibel, kata Menkeu Sri Mulyani? Benarkah itu Pak Nufransa?

Lihat ini, defisit perdagangan migas 2017 sudah US$ 7,3 miliar (2016 masih US$ 4,8 miliar).

Defisit pendapatan primer 2017 sudah US$ 32,8 (2016 masih US$29,6 miliar ).

Defisit neraca jasa 2017 sudah US$ 7.9 miliar (2016 msh US$7,1 miliar)

Pertumbuhan penerimaan pajak nonmigas tahun 2017 hanya 2.6% (2016 masih 5.8%). Industri terpukul hebat.

Tax Ratio 2017 hanya 9%-an. Terburuk dalam 5 tahun ini dan terus menurun.

Tax Buoyancy terus menurun. Pada 2012 tercatat sebesar 2,1% dan pada 2016 tinggal 1,4%. Sejak itu tax buoyancy tak pernah dibahas dalam nota keuangan 2017 dan 2018.

Share Investasi terhadap GDP 2017 = 34.28%, Growth sekitar 5% dan ICOR = hampir 7. Mau kemana kemenkeu di era demokrasi kriminal belasan tahun ini?

Jakarta, 8 April 2018
Refleksi kecil Ashoka Siahaan/Herdi Sahrasad/Reinhard Msc, Peneliti independen

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *