Senin, 25 Juni 18

Renungan tentang Gegap Gempita Infrastruktur Transportasi

Renungan tentang Gegap Gempita Infrastruktur Transportasi
* Agus Abubakar Arsal

Setahu saya di zaman SBY, sejumlah infrastruktur sudah dibangun seperti double track KA di sepanjang Jawa, pembangunan sejumlah pelabuhan laut dan airport dll. Banyak yg sudah tuntas dibangun tapi tidak berfungsi sbgmn seharusnya.

Banyak faktor lainnya yg harus dipertimbangkan seperti kesiapan masyarakat dan dunia usaha di sekitarnya. Infrastruktur hendaknya dibarengi dgn penguatan ekonomi lokal. Kemandirian desa dan kota hendaknya diprioritaskan. Setiap daerah dgn keunggulan dan kekhususannya hendaknya diperkuat. Jangan sampai jalur transportasi yg dibangun dg mahal bahkan menyebabkan banjir arus barang dari daerah lain atau bahkan dari luar negeri yg akibatnya melemahkan.

Jaminan kpd investor yg diberikan oleh pemerintah bisa berakibat fatal jika komoditas daerah tsb tdk dapat bersaing. Ujung2nya pemerintah gagal memenuhi jaminan kpd investor dan harus menyerahkan infrastruktur tsb ke investor yg umumnya pihak asing. Ini sudah terjadi di sejumlah negara dunia ketiga. Ini mengancam kedaulatan bangsa. Daya saing produk kita hendaknya menjadi prioritas utama.

Untuk itu, perbaikan sistem ekonomi biaya tinggi mutlak dibenahi, spt bunga bank tinggi, birokrasi yg tdk efisien, sistem perpajakan yg mencekik, alih teknologi yg mandeg, kebutuhan bahan baku impor yg dikuasai oleh segelintir pengusaha secara oligopoli, monopoli dan kartel. Faktor-faktor ini lebih penting dari sekedar membangun infrastruktur transportasi yg mahal, baik dari segi pembangunan maupun maintenance yang dibiayai dengan utang.

Bagaimana mungkin mampu membayarnya jika usaha dan produktifitas rakyat tergerus oleh barang impor? Pajak naik sementara usaha mandeg. Kita harus membayar pajak utk tanah, bangunan, kendaraan sementara produktifitas melemah. Mau dijual sulit mencari pembeli. Ketika terpaksa menjual dengan harga murah maka sejumlah kapitalis siap melumatnya. Kekayaan akan semakin memusat ke pihak pemilik modal.

Kasihan anak cucu kita yang akan menanggung beban yg bukan salah mereka.

Please CMIIW (Correct Me If I’m Wrong)

Salam

Agus Abubakar Arsal

Bekasi 22 Februari 2018

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.