Minggu, 18 Februari 18 | 12:15 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

De Soekarnoisasi

De Soekarnoisasi
Photo Credit To Prihandoyo Kuswanto

Ya, kaum Soekarnois sontoloyo melakukan de Soekarnoisasi dengan jalan ajaran Soekarno diliberalkan. Padahal, Panca Sila itu anti tesis dari Individualisme, Liberalisme, Kapitalisme.

Bagaimana mungkin gotong royong disetubuhkan dengan individualisme, ditafsir pilgub, pilkada, banyak-banyakan suara, kalah-menang kaya-kayaan, yang kaya yang bisa ikut nyalon burjoisme.

Ajaran Soekarno persatuan ditafsir dengan jungkir balik agama distikma radikal, tidak Panca Silais, ulamanya dipersekusi, anti Bhinneka Tunggal Ika. Padahal, justru sistem Bhineeka Tunggal Ika yang diaplikasikan di MPR dengan utusan Golongan diporak-porandakan, rakyat dipaksa memilih partai politik. Kalau tidak memilih, tidak punya suara.

Dalam kampanye menjual jargon Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia tetapi tidak mengerti jargon tersebut adalah Amanat Penderitaan Rakyat. Mana mungkin mengatakan penyambung lidah rakyat Indonesia kalau perilakunya korupsi, menggusur rakyat kecil. Justru yang menggusur dan korupsi didukung jadi calon dalam pilkada.

Panca Sila adalah dasar negara, bagaimana mungkin ajaran Soekarno Panca Sila sebagai dasar negara diamandemen diganti dengan individualisme, liberalisme, kapitalisme. Ini adalah puncak dari de Soekarnoisasi amandemen UUD 1945 sehingga Panca Sila sudah tidak menjadi dasar negara. Tri Sakti yang digembar-gemborkan justru tidak berdaulat di bidang politik, terjajah di bidang ekonomi karena tertimbun utang, dan terjajah budaya asing. Apakah para Soekarnois sontoloyo itu sadar? Apa yang mereka lakukan adalah melakukan bumi hangus terhadap ajaran Soekarno, dan anehnya masih merasa Soekarnois.

@prihandoyo kuswanto

Wiyung, 17 Januari 2018
Prihandoyo Kuswanto
Ketua Rumah Pancasila

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *