Rabu, 25 April 18

Menambah Umur

Menambah Umur

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Yang menarik dalam hidup ini ada dua, makan dan tidur. Itu termasuk yang diajarkan oleh ayah saya dari waktu kecil, karena namanya orang Chinese, budayanya diukur dari makan dan dari tidur.

Karenanya dalam fengshui, yang dijadikan standar pengukuran, termasuk yang paling penting yaitu posisi dapur dan kasur. Karena anggapannya kalau makan enak tidur enak, hidup pun bahagia.

Tapi itu sebelum mengenal Islam. Setelah menjadi Muslim, standar hidup saya berubah, bukan lagi enak makan dan enak tidur, tapi bahagia adalah bila kita bisa hidup taat pada Allah Pencipta kita.

Maka saat bepergian, ada lagi keperluan yang lebih dari makan dan tidur, yaitu bagaimana agar perjalanan itu bisa jadi jalan taat, bisa menambah keimanan kita pada Allah dan Rasul.

Salah satu cara yang sangat menyenangkan, yaitu menapaki jalan-jalan sejarah pendahulu kita, mereka yang sudah terbukti teruji dalam menghadapi liku dakwah, mereka yang diingat hingga kini.

Saat diantar ke Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta, hal pertama yang saya tanyakan pada panitia,”Bisakah kita mengunjungi tempat pertama kali KH Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah?”

Panitia senang hati memenuhi.

Tak henti saya terkesima, langgar sederhana yang jadi saksi bagi kebesaran pikiran dan hati KH Ahmad Dahlan. Tempat terbatas, namun semangat dan cita-citanya melampaui Nusantara.

Kampung Kauman menyimpan cerita tak habis-habisnya. Bahkan sekadar melihat dan menjalaninya sekarang saja kita masih bisa merasakan aura perjuangan yang pekat dan sarat.

Jadilah saya berfoto di langgar, di bendera Muhammadiyah dengan lambangnya yang merupakan suria Majapahit yang diislamisasi, khas pemikiran KH Ahmad Dahlan yang berkemajuan.

Berada di sana ibarat menambah umur, sebab perjuangan sejak 1912 manjadi bagian dari hidup saya. Pelajaran dan pengalaman yang beliau alami, menjadi referensi pula bagi apa yang kelak saya jalani.

Sayangnya, bendera yang saya pegang terbalik. Mungkin terlalu senang atau tak sadar bahwa apa yang menghadap kamera bukan yang menghadap kita. Tak apalah, asal jangan iman yang terbalik. ☺️☺️☺️

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *